Bacaini.ID, KEDIRI — Kenapa perempuan gampang mengalami kelelahan meskipun tidak mengangkat barang berat sepanjang hari? Jawabannya adalah karena pikiran yang penuh yang itu mengakibatkan mental load atau beban mental.
Memikirkan menu makan, mengingat jadwal sekolah anak, memastikan kebutuhan rumah tersedia, membayar tagihan, mengatur agenda keluarga hingga memikirkan apa yang harus dilakukan besok merupakan pekerjaan yang tidak selalu terlihat secara fisik.
Istilah mental load digunakan untuk menggambarkan beban kognitif yang muncul ketika seseorang harus terus mengingat, merencanakan, mengantisipasi, mengambil keputusan dan memantau berbagai kebutuhan.
Mental load bukan diagnosis medis maupun gangguan mental. Namun, beban kognitif yang terus-menerus dapat menjadi bagian dari pengalaman stres dan kelelahan, terutama ketika seseorang merasa menjadi pihak utama yang bertanggung jawab memastikan berbagai urusan berjalan.
Fenomena yang seringkali terjadi pada perempuan ini, menjadi bahan pembicaraan karena penelitian mengenai pembagian pekerjaan rumah tangga menunjukkan bahwa perempuan masih lebih banyak mengambil tanggung jawab terhadap pekerjaan domestik dan pengelolaannya.
Namun ironisnya, peran ini seringkali dianggap remeh, bahkan tidak dianggap sebagai kontribusi nyata dalam urusan rumah tangga.
Apa Itu Mental Load?
Mental load sering kali disalahartikan sebagai banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Padahal, persoalannya bukan hanya berapa banyak pekerjaan yang dilakukan, tetapi juga berapa banyak hal yang harus dipikirkan untuk memastikan pekerjaan tersebut selesai.
Misalnya, seseorang tidak hanya mencuci pakaian. Ia juga perlu mengetahui kapan pakaian harus dicuci, memastikan deterjen tersedia, memilah pakaian, memperhatikan pakaian mana yang perlu dicuci khusus, kemudian mengetahui kapan pakaian sudah kering dan perlu dilipat.
Begitu pula dengan urusan makanan. Memasak adalah pekerjaan fisik yang terlihat. Tetapi sebelum memasak, seseorang mungkin harus memikirkan menu, memeriksa bahan yang tersedia, membuat daftar belanja, membeli bahan, mempertimbangkan makanan yang disukai anggota keluarga dan memastikan makanan tersedia pada waktunya.
Rangkaian aktivitas yang tidak terlihat tersebut merupakan bagian dari ‘cognitive labor’ atau kerja kognitif. Penelitian sosiolog Allison Daminger yang diterbitkan dalam American Sociological Review pada 2019 secara khusus membahas kerja kognitif dalam rumah tangga.
Daminger menggambarkan kerja kognitif domestik melalui beberapa proses, yaitu mengantisipasi kebutuhan, mengidentifikasi pilihan, mengambil keputusan dan memantau perkembangan pekerjaan. Dengan demikian, pekerjaan rumah tangga bukan hanya persoalan siapa yang melakukan tugas tertentu. Ada pekerjaan mental di baliknya yang memastikan tugas tersebut muncul dalam daftar prioritas dan akhirnya diselesaikan.
Inilah alasan seseorang dapat merasa sibuk bahkan ketika sebagian pekerjaan fisiknya dikerjakan oleh orang lain.
Mengapa Perempuan Sering Menanggung Mental Load?
Mental load sebenarnya dapat dialami siapa saja. Laki-laki juga dapat menjadi pihak yang memikul beban tersebut, terutama ketika mereka menjadi pengelola utama rumah tangga.
Namun, sejumlah penelitian mengenai pembagian kerja domestik menunjukkan bahwa perempuan masih sering memiliki porsi lebih besar dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan.
Penelitian Daminger menemukan bahwa perempuan dalam rumah tangga heteroseksual yang diwawancarai lebih sering menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap kerja kognitif domestik.
Temuan tersebut penting karena pembagian pekerjaan rumah tangga sering kali hanya diukur berdasarkan pekerjaan fisik. Misalnya, pasangan dapat dianggap sudah berbagi tugas karena salah satu memasak sementara yang lain mencuci piring.
Tetapi pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang menentukan bahwa makanan harus dimasak, memikirkan menu, membeli bahan, dan mengingat bahwa bahan makanan hampir habis? Jika seluruh proses tersebut tetap berada di kepala satu orang, pembagian pekerjaan belum tentu berarti pembagian tanggung jawab yang setara. Hal tersebut juga menjelaskan mengapa istilah mental load menjadi semakin populer dalam pembahasan mengenai kehidupan rumah tangga.
Beban yang tidak terlihat sering kali sulit dihitung. Seseorang mungkin tidak dapat menunjukkan berapa kilogram beban yang sedang dibawa, tetapi harus terus memikirkan puluhan hal kecil dalam waktu bersamaan. Mental load juga tidak terbatas pada perempuan yang menjadi ibu rumah tangga.
Perempuan yang bekerja di luar rumah dapat mengalami beban serupa ketika pekerjaan profesional berjalan bersamaan dengan tanggung jawab rumah tangga.
Dalam kondisi tersebut, pekerjaan domestik tidak selalu berhenti ketika jam kerja selesai. Setelah menyelesaikan pekerjaan kantor, seseorang mungkin masih harus memikirkan makan malam, kebutuhan anak, pekerjaan rumah, jadwal keluarga, pembayaran tagihan atau berbagai urusan lain.
Kondisi inilah yang sering disebut sebagai ‘double burden’, ketika seseorang menghadapi tanggung jawab pekerjaan berbayar sekaligus pekerjaan domestik. Namun, penting untuk tidak menganggap semua perempuan mengalami tingkat mental load yang sama. Beban tersebut dapat dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga, keberadaan anak, kondisi pekerjaan, dukungan pasangan, dukungan keluarga besar, kondisi ekonomi hingga cara sebuah keluarga membagi tanggung jawab.
Perempuan yang tinggal sendiri pun dapat mengalami mental load ketika harus mengelola seluruh kebutuhan hidupnya tanpa pembagian tanggung jawab dengan orang lain. Sebaliknya, laki-laki yang menjadi pengelola utama rumah tangga juga dapat mengalami beban kognitif yang sama.
Jadi, mental load bukan persoalan biologis perempuan, melainkan persoalan pembagian tanggung jawab dan pengelolaan berbagai kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Kapan Mental Load Bisa Membuat Seseorang Kelelahan?
Memikirkan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari merupakan bagian normal dari kehidupan orang dewasa. Mental load menjadi persoalan ketika beban tersebut berlangsung terus-menerus dan seseorang merasa tidak memiliki kesempatan untuk benar-benar berhenti mengelola berbagai kebutuhan.
Pikiran dapat terus bekerja bahkan ketika tubuh sedang beristirahat.
Misalnya, seseorang sudah berada di tempat tidur tetapi masih memikirkan apakah anak sudah membawa perlengkapan sekolah, apakah tagihan sudah dibayar, apa yang harus dimasak besok, atau pekerjaan apa yang belum selesai. Dalam kondisi seperti itu, seseorang mungkin merasa sulit memperoleh waktu istirahat mental.
Namun, mental load sendiri bukan diagnosis medis. Istilah tersebut berbeda dari stres maupun burnout. Stres merupakan respons tubuh dan pikiran terhadap tuntutan atau tekanan. Sementara burnout merupakan kondisi yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola, menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Karena itu, tidak tepat mengatakan setiap orang yang mengalami mental load pasti mengalami burnout. Meski demikian, beban tanggung jawab yang tinggi dan berlangsung terus-menerus dapat berkontribusi terhadap stres serta memengaruhi kesejahteraan seseorang. Kurang tidur juga dapat memperburuk kondisi tersebut. Orang yang terus memikirkan berbagai tanggung jawab dapat mengalami kesulitan untuk benar-benar rileks sebelum tidur.
Kenapa “Bantuan” Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah?
Salah satu persoalan dalam pembagian pekerjaan rumah adalah adanya perbedaan antara membantu dan berbagi tanggung jawab. Ketika satu orang menjadi pihak yang selalu mengetahui apa yang harus dilakukan, pasangan yang lain dapat berada dalam posisi menunggu instruksi.
Contohnya, seorang suami mengatakan, “Kalau ada yang perlu dibantu, bilang saja.” Kalimat tersebut memang menunjukkan kesediaan membantu. Namun, beban untuk mengetahui apa yang perlu dilakukan dan kapan harus dilakukan, tetap berada pada orang yang memberikan instruksi.
Dalam perspektif kerja kognitif, persoalan tersebut cukup penting. Pembagian yang lebih seimbang bukan hanya berarti membagi pekerjaan fisik, tetapi juga membagi proses perencanaan, pengambilan keputusan dan pemantauan. Misalnya, bukan sekadar “tolong belikan kebutuhan dapur”, tetapi salah satu pasangan dapat mengambil tanggung jawab penuh terhadap urusan belanja: mengetahui kebutuhan, memeriksa stok, membuat daftar dan memastikan kebutuhan tersedia. Dengan cara tersebut, tanggung jawab mental juga ikut terbagi.
Mental Load dan Perempuan di Era Digital
Teknologi sebenarnya dapat membantu mengurangi sebagian pekerjaan administratif rumah tangga. Kalender digital, aplikasi belanja, pengingat pembayaran dan layanan pesan-antar memungkinkan sejumlah tugas dilakukan lebih mudah. Namun, teknologi tidak otomatis menghilangkan mental load.
Seseorang tetap harus memasukkan informasi, menentukan prioritas dan mengingat bahwa suatu tugas perlu dilakukan.
Di sisi lain, era digital juga menambah jenis pekerjaan baru. Pesan dari sekolah, grup keluarga, aplikasi pembayaran, notifikasi pekerjaan dan berbagai komunikasi digital dapat membuat seseorang merasa selalu terhubung dengan tanggung jawab yang harus ditangani. Bagi sebagian orang, rumah dan pekerjaan juga semakin sulit dipisahkan karena komunikasi pekerjaan dapat masuk ke ponsel kapan saja.
Karena itu, persoalan mental load tidak semata-mata tentang jumlah pekerjaan fisik yang dilakukan seseorang. Yang juga perlu diperhatikan adalah siapa yang memegang tanggung jawab untuk memikirkan, merencanakan dan memastikan semuanya berjalan. Mental load dapat dialami siapa saja, tetapi penelitian menunjukkan adanya pola gender dalam pembagian kerja kognitif rumah tangga.
Bagi perempuan yang merasa lelah meskipun tidak melakukan banyak pekerjaan fisik, pengalaman tersebut bukan berarti ‘hanya ada di kepala’. Ada beban kognitif yang memang dapat muncul dari banyaknya hal yang harus diingat dan dikelola secara bersamaan.
Membagi pekerjaan rumah tangga tidak cukup hanya dengan membagi daftar tugas. Tanggung jawab untuk memikirkan pekerjaan tersebut juga perlu dibagi. Dengan begitu, istirahat bukan sekadar berhenti melakukan pekerjaan fisik, tetapi juga memberi kesempatan bagi seseorang untuk berhenti menjadi pihak yang terus-menerus mengingat apa yang harus dilakukan berikutnya. (bl/sa)




