Bacaini.ID, KEDIRI — Seto Bayu Aji, pria asal Kediri yang lebih dikenal sebagai Koko Seto tengah populer di kalangan pecinta sound horeg. Potongan videonya yang dielu-elukan warga di tengah karnaval bertebaran di media sosial.
Seto dikenal sebagai dancer yang tampil dalam pertunjukan sound system berukuran besar. Aksi tubuhnya yang energik dan ekspresif di depan maupun di atas kendaraan sound system menjadi tontonan tersendiri dalam berbagai karnaval.
Rekaman penonton mengubah panggung jalanan menjadi panggung digital. Potongan video penampilan Seto berulang kali muncul di TikTok, Instagram hingga platform video lainnya. Dari satu unggahan ke unggahan lain, namanya semakin dikenal. Ia bahkan mulai mendapat julukan sebagai salah satu ikon dancer sound horeg Jawa Timur.
Fenomena tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana definisi “artis” mengalami perubahan. Jika dahulu popularitas harus melewati televisi, label rekaman atau industri hiburan profesional, kini seorang performer dari panggung lokal dapat memperoleh popularitas cukup dengan bermodal kamera telepon seluler dan algoritma media sosial.
Bukan Tiba-tiba Viral
Popularitas Koko Seto sebenarnya tidak muncul begitu saja. Sejumlah pemberitaan menyebut Seto sudah aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan ruang ekspresi anak muda sebelum namanya dikenal luas melalui sound horeg.
Pada 2022, ia disebut pernah terlibat dalam MPK Fashion Street di Kediri Memorial Park. Saat itu, fenomena Citayam Fashion Week tengah menjadi tren di berbagai daerah dan ikut mendorong munculnya ruang-ruang ekspresi anak muda di daerah.

Perjalanannya kemudian semakin dekat dengan dunia hiburan rakyat dan pertunjukan sound horeg. Seto disebut tampil bersama komunitas atau kelompok yang berkaitan dengan Rawon Gank Josjiss. Aktivitasnya kemudian membawanya ke berbagai daerah di Jawa Timur, mulai Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Malang, Pasuruan hingga Sidoarjo.
Dari Dancer Menjadi Selebritas Lokal
Fenomena Koko Seto memperlihatkan bagaimana ekosistem sound horeg tidak hanya menghasilkan industri perangkat suara, tetapi juga menciptakan figur-figur yang memiliki nilai hiburan tersendiri.
Dalam sebuah karnaval, perhatian penonton tidak hanya tertuju kepada besarnya suara atau kemegahan kendaraan sound system. Performer yang berada di depannya juga menjadi bagian dari pertunjukan. Di sinilah Seto menemukan panggungnya.
Penampilannya yang mudah dikenali membuat video dirinya memiliki daya tarik tersendiri di media sosial. Popularitas digital kemudian berpotensi menghasilkan nilai ekonomi baru melalui penampilan, kolaborasi maupun endorsement. Seto pun perlahan bergerak dari sekadar dancer menjadi figur yang memiliki basis perhatian publik.
Viral Setelah Disiram Air
Nama Koko Seto kembali menjadi sorotan setelah beredarnya video penampilannya dalam sebuah karnaval di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, pada 30 Agustus 2026. Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat Seto bersama rombongan dancer sebelum terjadi insiden penyiraman air oleh sejumlah penonton.

Video tersebut kemudian menyebar dan memunculkan beragam spekulasi di media sosial. Insiden tersebut kembali membuat nama Koko Seto menjadi pembicaraan luas.
Benarkah Bertarif Rp500 Juta?
Di tengah viralnya sosok Seto, muncul pula klaim mengenai nilai fantastis untuk menghadirkan dirinya dalam sebuah pertunjukan. Sejumlah unggahan dan pemberitaan menyebut angka Rp500 juta.
Angka tersebut kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan warganet. Benarkah seorang dancer sound horeg bisa memiliki tarif hingga setengah miliar rupiah?
Sampai saat ini, klaim tersebut belum cukup kuat untuk disimpulkan sebagai tarif pribadi Koko Seto sekali tampil. Bisa jadi nominal tersebut berkaitan dengan keseluruhan paket pertunjukan, produksi, komunitas, sound system, atau komponen lain. (htw/edt)




