Poin Penting:
- Miss V kering di usia 40-an dapat berkaitan dengan perubahan hormon estrogen saat perimenopause.
- Kekeringan vagina tidak otomatis berarti gairah seksual atau libido menurun.
- Jika berlangsung terus-menerus, terasa nyeri atau disertai perdarahan, sebaiknya diperiksa ke dokter.
Bacaini.ID, KEDIRI – Memasuki usia 40-an, sebagian perempuan mulai mengalami perubahan pada tubuh, termasuk munculnya keluhan Miss V kering atau vagina yang terasa lebih kering saat berhubungan seksual. Kondisi Miss V kering ini sering dikaitkan dengan menurunnya gairah, padahal penyebab vagina kering dan libido merupakan dua hal yang berbeda.
Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan perimenopause, ketika kadar hormon estrogen mulai berfluktuasi dan secara bertahap menurun. Namun, kekeringan vagina juga dapat dipengaruhi berbagai faktor lain sehingga tidak selalu menjadi tanda seseorang telah memasuki menopause.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menjelaskan bahwa penurunan estrogen selama transisi menopause dapat menyebabkan jaringan ‘miss V’ menjadi lebih tipis, kering, dan kurang elastis. Keluhan tersebut termasuk dalam genitourinary syndrome of menopause (GSM), meski gejalanya tidak selalu baru muncul setelah seseorang benar-benar mengalami menopause.
Estrogen Berperan dalam Menjaga Kelembapan Miss V
Organ intim perempuan bukan sekadar organ reproduksi, namun juga jaringan yang responsif terhadap perubahan hormon. Estrogen membantu mempertahankan ketebalan, elastisitas, aliran darah, dan kondisi jaringannya.
Ketika kadar estrogen mulai berfluktuasi atau menurun, perubahan pada jaringan tersebut dapat terjadi. Akibatnya, sebagian perempuan merasakan organ intimnya lebih kering dibandingkan sebelumnya. Keluhan ini dapat muncul dalam bentuk rasa kering atau tidak nyaman, terutama saat penetrasi. Pada sebagian perempuan, hubungan seksual bahkan dapat menimbulkan rasa perih, sensasi terbakar bahkan nyeri.
Menurut The North American Menopause Society (NAMS), gejala yang berkaitan dengan perubahan jaringan ‘miss V’ dan saluran kemih dapat muncul selama transisi menopause dan cenderung menjadi lebih umum setelah menopause.
Namun, organ intim yang kering tidak otomatis berarti seseorang sudah menopause. Perimenopause dapat dimulai beberapa tahun sebelum menstruasi benar-benar berhenti. Selain perubahan hormon, kondisi lain juga dapat menyebabkan kekeringan area kewanitaan tersebut.
Beberapa di antaranya adalah menyusui, penggunaan obat tertentu, kontrasepsi hormonal, stres, serta kondisi medis tertentu. Karena penyebabnya beragam, kekeringan yang menetap sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai konsekuensi usia semata.
Miss V Kering Bukan Berarti Libido Hilang
Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah menganggap organ kewanitaan yang kering sebagai tanda perempuan sudah kehilangan gairah seksual. Padahal, pelumasan ‘miss V’ dan hasrat seksual merupakan dua hal yang berbeda.
Seseorang tetap dapat memiliki keinginan untuk berhubungan seksual meskipun tubuhnya menghasilkan pelumas alami lebih sedikit. Sebaliknya, seseorang juga dapat mengalami peningkatan pelumasan tanpa memiliki hasrat seksual yang tinggi. Perubahan hormon memang dapat memengaruhi fungsi seksual secara keseluruhan, namun kehidupan seksual perempuan juga dipengaruhi banyak faktor lain, termasuk stres, kualitas tidur, kondisi kesehatan, obat-obatan, hubungan dengan pasangan, dan kondisi psikologis.
Masalahnya, kekeringan dapat menciptakan lingkaran yang tidak nyaman. Ketika penetrasi terasa sakit, seseorang mungkin menjadi cemas menghadapi hubungan seksual berikutnya. Kekhawatiran tersebut dapat membuat pengalaman seksual semakin tidak nyaman. Seringkali alasan inilah yang membuat perempuan merasa tidak ‘mood’ untuk melakukan hubungan seksual.
Untuk keluhan ringan, pelumas dapat membantu mengurangi gesekan ketika berhubungan seksual. Para ahli juga menyebut pelembap vagina sebagai salah satu pilihan untuk membantu mengatasi kekeringan yang berlangsung di luar aktivitas seksual.
Pelumas dan pelembap vagina memiliki fungsi yang berbeda. Pelumas digunakan terutama untuk mengurangi gesekan saat aktivitas seksual, sedangkan pelembap vagina digunakan secara rutin untuk membantu menjaga kelembapan jaringan.
Kapan Miss V Kering Perlu Diperiksa Dokter?
Kekeringan ‘miss V’ memang dapat berkaitan dengan perubahan hormonal setelah usia 40an, namun tidak semua keluhan vagina disebabkan oleh menopause atau perimenopause.
Perempuan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika kekeringan berlangsung terus-menerus, menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai keluhan lain seperti perdarahan setelah berhubungan seksual, perdarahan yang tidak biasa, rasa terbakar, atau perubahan keputihan.
Dokter dapat membantu mencari penyebabnya sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.
Untuk perempuan yang mengalami gejala akibat penurunan estrogen, terapi lokal berbasis estrogen juga dapat menjadi salah satu pilihan medis. Penggunaannya tetap perlu dibicarakan dengan tenaga medis karena kondisi dan riwayat kesehatan setiap perempuan berbeda.
Jadi, mengalami organ kewanitaan lebih kering setelah memasuki usia 40 bukan sesuatu yang perlu dianggap memalukan ataupun langsung dikaitkan dengan hilangnya ketertarikan kepada pasangan. Perubahan hormon memang dapat mengubah respons tubuh terhadap aktivitas seksual. Namun, memahami penyebabnya membuat perempuan memiliki lebih banyak pilihan untuk menjaga kenyamanan dan kesehatan seksualnya. (bl/sa)




