Bacaini.ID, KEDIRI – Mengapa orang Indonesia suka lomba 17 Agustus? Pertanyaan ini menarik karena tradisi lomba 17-an di HUT RI 17 Agustus ternyata bukan sekadar hiburan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Dari perspektif psikologi, berbagai permainan seperti balap karung, tarik tambang, hingga makan kerupuk dapat memenuhi kebutuhan manusia untuk bersosialisasi, merasa menjadi bagian dari kelompok, dan membangun kebersamaan.
Para psikolog menilai tradisi tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan juga untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial. Social Identity Theory yang dikembangkan psikolog Henri Tajfel dan John Turner menyebut seseorang secara alami ingin menjadi bagian dari suatu kelompok. Identitas kelompok memberikan rasa memiliki, kebanggaan, sekaligus meningkatkan harga diri dan ini terlihat jelas saat lomba 17 Agustus.
Warga tidak sekadar berlomba sebagai individu, melainkan mewakili RT, sekolah, kantor, atau kelompok tertentu. Ketika timnya menang, rasa bangga bukan hanya karena hadiah, tetapi juga karena berhasil mengharumkan kelompoknya. Inilah alasan mengapa pertandingan sederhana seperti tarik tambang atau balap karung bisa berlangsung sangat seru meskipun hadiah yang diperebutkan tidak besar.
Berikut penjelasan mengapa orang Indonesia sangat menyukai tradisi lomba 17-an atau 17 Agustus menurut pandangan psikologi.
Bermain Bersama Memicu Hormon Kebahagiaan
Selain memperkuat identitas sosial, aktivitas bermain juga memberikan dampak biologis terhadap tubuh. Berbagai penelitian menunjukkan aktivitas fisik ringan dan permainan sosial dapat meningkatkan pelepasan endorfin, dopamin, serta oksitosin.
Endorfin membantu menciptakan perasaan nyaman dan mengurangi stres. Dopamin berkaitan dengan rasa senang ketika seseorang berhasil mencapai tujuan, sedangkan oksitosin berperan mempererat hubungan sosial dan meningkatkan rasa percaya antarindividu.
Tak heran jika peserta lomba tetap tertawa meski terjatuh saat balap karung atau gagal mengambil kerupuk. Bagi otak, pengalaman bermain bersama jauh lebih penting dibanding sekadar menang atau kalah.
Lomba 17 Agustus Menghidupkan Kembali Kenangan Masa Kecil
Ada alasan lain mengapa orang dewasa tetap antusias mengikuti lomba Agustusan. Psikolog Constantine Sedikides dan Tim Wildschut menyebut mengingat pengalaman menyenangkan masa lalu dapat meningkatkan suasana hati, rasa optimistis, dan kedekatan sosial.
Bagi banyak orang Indonesia, lomba 17 Agustus merupakan bagian dari kenangan masa kecil. Balapan bersama teman sebaya, menerima hadiah sederhana, hingga sorak-sorai warga menjadi memori yang melekat selama bertahun-tahun.
Ketika tradisi itu kembali hadir setiap Agustus, otak memunculkan kembali emosi positif yang pernah dirasakan. Karena itulah, banyak orang dewasa rela ikut lomba bersama anak-anak atau menjadi panitia hanya demi merasakan kembali sensasi suasana tersebut.
Kompetisi Lomba 17 Agustus Tanpa Tekanan
Dalam kehidupan sehari-hari, kompetisi sering dikaitkan dengan tekanan, seperti persaingan di sekolah, dunia kerja, atau bisnis. Sebaliknya, lomba 17 Agustus menghadirkan bentuk kompetisi yang jauh lebih santai.
Peserta bebas tertawa ketika kalah, saling menggoda lawan, bahkan sering kali sengaja membuat suasana semakin lucu. Tidak ada konsekuensi besar jika gagal menjadi juara.
Psikolog menyebut bentuk kompetisi seperti ini sebagai low-stakes competition, yaitu persaingan yang tetap memberikan tantangan, tetapi minim risiko. Aktivitas seperti ini terbukti membantu mengurangi stres sekaligus meningkatkan hubungan sosial.
Lomba 17 Agustus Menguatkan Gotong Royong
Selain dari sisi psikologi, tradisi lomba Agustusan juga dapat dipahami melalui ilmu sosiologi. Sosiolog Prancis Émile Durkheim memperkenalkan konsep collective effervescence, yaitu perasaan semangat dan kebersamaan yang muncul ketika banyak orang berkumpul dalam suatu ritual bersama. Lomba 17 Agustus menjadi salah satu bentuk ritual sosial tersebut.
Sebelum perlombaan dimulai, warga biasanya bergotong royong menghias kampung, memasang bendera, membuat gapura, hingga menyiapkan hadiah secara swadaya. Saat perlombaan berlangsung, seluruh warga berkumpul tanpa memandang usia, pekerjaan, maupun latar belakang ekonomi. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga lansia menikmati kegiatan yang sama. Momen seperti inilah yang memperkuat kohesi sosial atau social cohesion: rasa saling percaya dan keterikatan antaranggota masyarakat.
Di balik hadiah ‘receh’ berupa alat rumah tangga, sembako, atau piala sederhana, nilai terbesar dari lomba 17 Agustus sebenarnya terletak pada pengalaman sosial yang tercipta. Melalui permainan sederhana, masyarakat belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, menerima kekalahan, serta membangun komunikasi yang lebih akrab dengan lingkungannya.
Bagi anak-anak, lomba menjadi media belajar sportivitas dan keberanian tampil di depan umum. Sementara bagi orang dewasa, kegiatan tersebut menjadi kesempatan melepas penat dari rutinitas sekaligus mempererat hubungan dengan lingkungan sekitar.
Tidak mengherankan jika tradisi ini terus bertahan selama puluhan tahun dan tetap dinantikan setiap Agustus. Di tengah perubahan gaya hidup yang semakin individualistis, lomba 17 Agustus justru menjadi ruang langka yang mempertemukan banyak orang dalam suasana penuh kegembiraan. Tradisi ini memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk merasa diterima, terhubung dengan sesama, sekaligus menjadi bagian dari sebuah komunitas. (bl/sa)




