Poin Penting:
- Studi pada 120 spesies menemukan masturbasi merupakan perilaku seksual alami burung dan bukan tanda stres
- Aktivitas tersebut justru lebih sering ditemukan pada populasi burung liar dibanding burung dalam penangkaran
- Intervensi berlebihan untuk menghentikan perilaku ini dinilai berpotensi memicu stres kronis pada satwa
Bacaini.ID, KEDIRI – Perilaku masturbasi pada burung selama ini sering dikaitkan dengan stres akibat hidup dalam sangkar atau gangguan perilaku. Namun penelitian terbaru menunjukkan kenyataan berbeda: aktivitas tersebut merupakan bagian normal dari perilaku seksual alami satwa yang justru lebih sering ditemukan pada burung liar dibanding burung peliharaan.
Baca Juga:
Sebuah studi penting yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ‘Ecology and Evolution’ menegaskan bahwa autoerotisisme atau masturbasi merupakan bagian integral dari repertoar perilaku seksual alami dan sehat bagi kelas aves, spesies burung.
Temuan terbaru para peneliti ini, memicu pergeseran paradigma terkait bagaimana sains dan praktisi medis hewan memahami serta menangani jika terjadi manifestasi dorongan seksual pada burung, baik liar maupun peliharaan.
Penelitian Ungkap Masturbasi Burung Lebih Banyak Terjadi di Alam Liar
Fakta yang mengejutkan bagi para peneliti, karena sebelumnya perilaku masturbasi pada burung diduga efek dari isolasi dalam sangkar. Tim peneliti mengumpulkan data empiris yang mencakup 120 spesies burung, baik yang hidup dalam penangkaran (domestik/peliharaan) maupun populasi yang hidup bebas di alam liar.
Baca Juga:
Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku onanisme avian ini bersifat meluas di berbagai ordo dan famili. Spesies yang tercatat aktif meliputi kelompok paruh bengkok (parrot), bebek (anatidae), kalkun, hingga ayam domestik. Frekuensi dan manifestasi perilaku ini justru tercatat lebih intensif ditemukan pada burung-burung yang hidup di habitat alami mereka, dibandingkan dengan subjek yang berada dalam batas-batas sangkar penangkaran manusia.
Para peneliti menyatakan bahwa fenomena tersebut sepenuhnya alami. Secara anatomis, mayoritas spesies burung tidak memiliki organ genitalia eksternal seperti mamalia. Alih-alih penis atau klitoris yang menonjol, burung memiliki saluran tunggal multifungsi bernama kloaka. Saluran ini berfungsi sebagai jalur ekskresi urin dan feses, sekaligus saluran reproduksi untuk menyalurkan atau menerima sperma serta bertelur.
Mengingat struktur anatomi ini tidak memiliki konsentrasi ujung saraf eksternal serumit mamalia, metode masturbasi yang diterapkan oleh burung memperlihatkan tingkat kreativitas perilaku yang tinggi.
Berdasarkan observasi, burung jantan umumnya melakukan manuver dengan menggosokkan area kloaka atau bagian bawah ekor secara agresif dan ritmis ke objek di sekitarnya. Objek tersebut dapat berupa tangkringan, mainan di dalam sangkar, cermin, ranting pohon, gumpalan lumut, permukaan batu, hingga bagian tubuh pemiliknya seperti tangan, lengan, atau bahu.
Di sisi lain, burung betina menunjukkan perilaku yang berbeda namun setara, yakni dengan mengangkat ekor mereka dan memundurkan tubuh hingga menekan area kloaka ke objek-objek strategis.
Sebelumnya, banyak pemilik burung yang merasa khawatir apabila melihat burung peliharaan mereka melakukan gerakan masturbasi. Hal ini terjadi pada praktik pemeliharaan konvensional yang didukung oleh dokumen panduan medis klinis dari lembaga kedokteran hewan internasional seperti VCA Animal Hospitals, yang mencatat bahwa fluktuasi hormon musiman, durasi paparan cahaya matahari, diet tinggi kalori, dan cara interaksi manusia menjadi pemicu utama timbulnya perilaku birahi di lingkungan domestik.
Banyak dokter hewan di masa lalu yang merekomendasikan tindakan agresif untuk menghentikan perilaku tersebut. Langkah intervensi ini berkisar dari memodifikasi interior sangkar seperti menghilangkan mainan dan tangkringan favorit, terapi obat penekan libido, injeksi hormon, hingga opsi ekstrem berupa pembedahan kastrasi.
Kini, menurut para peneliti upaya paksa untuk menghentikan masturbasi justru memicu stres kronis sejati yang merusak kesejahteraan psikologis satwa, jauh lebih berbahaya ketimbang aktivitas masturbasi itu sendiri.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Pemilik Burung?
Berdasarkan konsensus klinis kedokteran hewan modern, masturbasi dinilai 95% tidak berbahaya. Dokter hewan hanya perlu mengintervensi medis apabila terjadi kasus langka berupa prolapsus kloaka (organ dalam menyembul keluar akibat gesekan berlebih yang kronis), sebuah kondisi yang sangat jarang terjadi.
Jika pemilik merasa intensitas masturbasi burung peliahraannya sudah terlalu tinggi atau mengganggu kenyamanan interaksi, protokol yang disarankan adalah manajemen lingkungan yang lembut, seperti mengalihkan perhatian burung, bukan hukuman fisik atau isolasi emosional.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif




