• Login
Bacaini.id
Thursday, July 16, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Hari Lahir Pancasila 2026: Elang Jawa, Inspirasi Garuda Pancasila yang Terancam Punah

Inspirasi Lambang Negara di Hari Lahir Pancasila yang Kini Berjuang Bertahan di Tengah Ancaman Deforestasi dan Perdagangan Satwa Ilegal

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
31 May 2026 10:19
Durasi baca: 4 menit
Elang Jawa di habitat hutan alami Pulau Jawa yang menjadi inspirasi lambang Garuda Pancasila

Elang Jawa, burung endemik Pulau Jawa yang menjadi inspirasi visual Garuda Pancasila, kini berstatus genting dan menghadapi ancaman kepunahan akibat kerusakan habitat serta perdagangan ilegal satwa liar (foto AI/Bacaini.id)

Poin Penting:

  • Populasi Elang Jawa di alam liar diperkirakan hanya tersisa sekitar 1.022 individu atau 511 pasang, menjadikannya salah satu satwa endemik paling terancam di Indonesia
  • Kerusakan dan fragmentasi hutan di Pulau Jawa menyebabkan habitat Elang Jawa semakin terisolasi sehingga menghambat reproduksi dan kelangsungan hidup spesies ini
  • Selain kehilangan habitat, Elang Jawa menghadapi ancaman perdagangan ilegal yang kini beralih ke pasar gelap digital dengan modus penyelundupan yang semakin ekstrem dan mematikan

Bacaini.ID, KEDIRI – Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni menjadi momentum untuk mengenal lebih dekat Elang Jawa, satwa endemik bernama latin Nisaetus bartelsi yang menginspirasi visual Garuda Pancasila namun kini menghadapi ancaman kepunahan akibat kerusakan habitat dan maraknya perdagangan ilegal.

Baca Juga:

  • Syukurlah, Penyu Hijau Dinyatakan Lolos dari Kepunahan Dunia

Burung endemik Pulau Jawa ini telah ditetapkan sebagai Maskot Satwa Langka Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) No. 4 Tahun 1993. Penetapan ini didasari oleh kemiripan fisik Elang Jawa yang sangat identik dengan burung Garuda rancangan Sultan Hamid II. Namun kini, kondisi sang ‘Garuda Hidup’ di alam liar berada dalam situasi kritis.

Secara visual, ciri paling menonjol dari Elang Jawa yang membuatnya dijuluki ‘Garuda di Dunia Nyata’ adalah keberadaan jambul di atas kepalanya. Jambul ini terdiri dari 2 hingga 4 helai bulu berwarna hitam dengan ujung putih yang berdiri tegak setinggi kurang lebih 12 sentimeter.

Selain jambul, burung pemangsa ini memiliki bentangan sayap yang lebar dengan bulu dominan berwarna cokelat keemasan di bagian punggung. Tatapan mata yang tajam khas elang, serta paruh hitam yang melengkung kuat, mempertegas kesan berwibawa yang dianggap mirip dengan visualisasi lambang negara.

Para ahli ornitologi mencatat bahwa Elang Jawa memiliki perilaku unik, salah satunya adalah sifat monogami atau hanya memiliki satu pasangan seumur hidup. Sayangnya, karakteristik reproduksi satwa ini sangat lambat, yang diketahui hanya bertelur sebutir dua tahun sekali, sehingga memicu minimnya populasi mereka secara alami.

Populasi Elang Jawa Tinggal Sekitar 1.022 Individu

Berdasarkan data riset konservasi nasional terbaru, populasi Elang Jawa di alam liar saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 511 pasang, atau berkisar di angka 1.022 individu. Ratusan pasang elang ini tersebar di 74 kantong habitat hutan primer yang tersisa di Pulau Jawa.

Baca Juga:

  • Ragam Fauna Endemik Madura, Ada Kucing Busok yang Bawa Hoki
  • Samanhudi Anwar Never Give Up di Tengah Polemik KONI Kota Blitar

Tantangan terbesar yang dihadapi satwa ini adalah fragmentasi hutan. Sekitar 30 persen dari kantong habitat tersebut kini berstatus terisolasi akibat sekat-sekat aktivitas manusia dan deforestasi. Kondisi ini mempersulit Elang Jawa untuk bermigrasi, memperluas wilayah berburu, ataupun mencari pasangan baru demi menjaga variasi genetik mereka.

Yang terbaru, Kementerian Kehutanan bersama Ditjen KSDAE, Raptor Indonesia dan Burung Indonesia merumuskan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa periode 2026–2035. Langkah strategis ini diambil sebagai langkah intervensi setelah tren populasi di alam liar dinilai masih sangat rentan akibat dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Selain menyusutnya rumah alami mereka, Elang Jawa juga menghadapi ancaman modern yang mematikan. Lembaga konservasi mencatat adanya mutasi tren perburuan liar. Aktivitas perdagangan ilegal kini tidak lagi terjadi di pasar burung konvensional secara terbuka, melainkan telah bergeser ke ruang siber (pasar gelap online) menggunakan enkripsi data.

Genus Nisaetus (kelompok Elang Jawa) tercatat sebagai salah satu jenis burung pemangsa (bird of prey) yang paling banyak diincar di pasar gelap digital. Motif pembeli pun bergeser; satwa dilindungi ini tidak hanya dijadikan peliharaan eksotis demi gengsi sosial, namun juga kerap dijadikan kedok ‘investasi aset’ oleh para cukong satwa liar karena nilai ekonominya yang fantastis.

Modus penyelundupan yang ditemukan petugas di lapangan pun semakin brutal. Untuk mengelabui pemeriksaan di jalur pelabuhan, para penyelundup kerap memasukkan anak Elang Jawa ke dalam pipa paralon atau botol air minum. Akibatnya, banyak satwa yang ditemukan mati lemas sebelum sampai ke tangan pembeli. Wilayah Jawa Timur sejauh ini tercatat menjadi salah satu area dengan konsentrasi kasus perdagangan ilegal tertinggi.

Fenomena yang ada membuktikan menjadi inspirasi bagi lambang negara sekaligus kebebasan, kejayaan dan kekuatan bangsa, tidak lantas membuat Elang Jawa mendapat tempat ‘terhormat’ dan terlindungi. Masih banyak orang yang memperlakukannya hanya sebagai aset yang itu membuatnya berstatus Genting (Endangered) dan terancam punah.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: Elang jawagaruda pancasilahari lahir pancasilasatwa langka
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ketua Komite SMKN 1 Doko Kabupaten Blitar menjelaskan polemik pembelian seragam sekolah dan WAG Seragam yang menjadi sorotan wali murid

Komite SMKN 1 Doko Blitar Bantah Arahkan Siswa, Tapi Ada WAG Seragam

Ilustrasi Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan siluet masyarakat adat Indonesia, peta Nusantara, dan simbol dokumen KTP sebagai representasi pengakuan negara terhadap penghayat kepercayaan

Hari Kepercayaan Resmi Ditetapkan, Jawa Timur Punya 50 Aliran Spiritual Nusantara

Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep

Strategi PSI Menjadikan Jawa Timur Kandang Gajah

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In