Poin Penting:
- Keuangan keluarga dapat mengalami defisit ketika pengeluaran tidak terencana dan cicilan terus bertambah.
- Catat seluruh pemasukan dan pengeluaran, dahulukan kebutuhan pokok, serta kendalikan utang sesuai kemampuan.
- Siapkan dana darurat, tentukan tujuan finansial, dan libatkan pasangan dalam keputusan keuangan.
Bacaini.ID, KEDIRI – Keuangan keluarga sering jebol meski penghasilan rutin diterima setiap bulan? Kondisi ini tidak selalu disebabkan pendapatan yang kurang, tetapi juga bisa dipengaruhi cara mengatur keuangan keluarga atau pemasukan dan pengeluaran rumah tangga. Belanja harian yang tidak tercatat, cicilan kartu kredit, hingga penggunaan paylater dapat membuat gaji cepat habis sebelum seluruh kebutuhan terpenuhi. Karena itu, pengelolaan keuangan rumah tangga perlu dilakukan dengan perencanaan yang jelas, mulai dari menentukan prioritas belanja hingga menyiapkan dana darurat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan soal literasi keuangan yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap serta perilaku seseorang dalam meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan. Artinya, mengatur keuangan keluarga bukan sekadar berusaha lebih hemat, tetapi juga membuat keputusan berdasarkan kemampuan finansial yang sebenarnya.
Ketahui ke Mana Uang Keluarga Pergi
Langkah pertama mengelola keuangan keluarga adalah mengetahui seluruh pemasukan dan pengeluaran. Jangan hanya mencatat pengeluaran besar seperti cicilan rumah atau biaya sekolah. Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali juga perlu diperhitungkan.
Buat daftar pemasukan bersih setiap bulan, kemudian kelompokkan pengeluaran menjadi beberapa bagian. Kebutuhan pokok dapat mencakup makanan, listrik, air, transportasi dan kebutuhan rumah tangga. Selanjutnya ada kewajiban seperti cicilan dan tagihan.
Pengeluaran lain seperti hiburan, makan di luar atau belanja nonpokok dapat ditempatkan sebagai kebutuhan fleksibel. Dari catatan tersebut, keluarga bisa melihat apakah pengeluaran memang sesuai kemampuan atau justru lebih besar daripada pemasukan.
Tidak ada satu rumus pembagian uang yang cocok untuk semua keluarga. Metode seperti 50/30/20 dapat menjadi referensi, tetapi kondisi keluarga dengan anak, cicilan besar, penghasilan tidak tetap atau tanggungan lain tentu berbeda.
Karena itu, yang lebih penting adalah menentukan prioritas. Kebutuhan pokok dan kewajiban harus dipenuhi terlebih dahulu. Setelah itu, sisihkan dana untuk tabungan dan kebutuhan finansial jangka panjang sesuai kemampuan. Pengeluaran yang sifatnya bisa ditunda berada di urutan berikutnya.
Kebiasaan lain yang dapat membantu adalah menyisihkan uang untuk tabungan segera setelah menerima penghasilan, bukan menunggu sampai akhir bulan. Jika tabungan hanya berasal dari ‘uang sisa’, jumlahnya sering kali tidak konsisten.
Jangan Biarkan Utang Menguasai Pendapatan
Utang merupakan salah satu bagian yang perlu mendapat perhatian khusus dalam keuangan keluarga. Memiliki utang tidak otomatis berarti pengelolaan keuangan buruk. Persoalannya adalah ketika cicilan terlalu besar dibandingkan kemampuan membayar atau utang konsumtif terus bertambah.
Keluarga yang sudah memiliki beberapa utang sebaiknya membuat daftar lengkap. Catat jumlah utang, besarnya cicilan, bunga atau biaya, serta tanggal jatuh tempo. Dengan begitu, keluarga bisa mengetahui kewajiban finansial secara keseluruhan, bukan hanya mengingat cicilan satu per satu.
Hindari menggunakan utang baru untuk membayar kebutuhan yang sebenarnya muncul karena pengeluaran rutin sudah melebihi pendapatan. Pola ‘gali lubang tutup lubang’ dapat membuat masalah semakin panjang karena kewajiban lama belum selesai sementara kewajiban baru sudah muncul.
Utang dengan bunga atau biaya tinggi juga perlu mendapat perhatian lebih. Jika memungkinkan, fokuskan pembayaran tambahan pada utang tersebut sambil tetap memenuhi kewajiban minimum utang lainnya.
Yang tidak kalah penting, bedakan antara kebutuhan dan kemampuan membeli. Kemudahan kredit dan paylater dapat membuat seseorang merasa mampu membeli sesuatu hanya karena cicilannya terlihat kecil. Padahal, beberapa cicilan kecil yang berjalan bersamaan tetap dapat menjadi beban besar bagi pendapatan keluarga.
Bangun Dana Darurat untuk Kebutuhan Tak Terduga
Setelah kebutuhan rutin dan kewajiban terkendali, keluarga perlu membangun dana darurat. Dana ini bukan tabungan untuk liburan atau membeli barang, melainkan cadangan ketika terjadi kondisi yang tidak direncanakan, misalnya kehilangan penghasilan atau kebutuhan mendesak.
Besarnya dana darurat tidak harus sama untuk setiap keluarga. Keluarga dengan jumlah tanggungan lebih banyak atau pendapatan yang tidak tetap dapat membutuhkan cadangan lebih besar. Yang terpenting, dana tersebut dipisahkan dari uang belanja harian dan ditempatkan pada instrumen yang relatif mudah diakses ketika diperlukan.
Selain dana darurat, keluarga juga perlu memiliki tujuan finansial. Misalnya biaya pendidikan anak, membeli rumah, persiapan pensiun atau kebutuhan jangka panjang lainnya. Tujuan tersebut membuat tabungan tidak sekadar menjadi uang yang dikumpulkan tanpa arah.
Hal terakhir yang sering dilupakan adalah komunikasi. Keuangan keluarga sebaiknya tidak hanya diketahui oleh satu orang, termasuk perempuan yang sehari-hari mengatur belanja rumah tangga. Suami dan istri perlu mengetahui pemasukan, tabungan, aset, cicilan dan kewajiban keluarga.
Dengan demikian, ketika kondisi finansial berubah, keputusan dapat dibuat bersama. Pengelolaan keuangan keluarga juga tidak berubah menjadi beban salah satu pasangan. Keuangan keluarga yang sehat bukan berarti harus memiliki pendapatan besar atau sama sekali tidak boleh menikmati hasil kerja.
Prinsip dasarnya adalah memastikan pengeluaran berada dalam kemampuan, utang tetap terkendali, ada cadangan untuk kondisi darurat, dan keluarga memiliki tujuan finansial yang jelas. (bl/sa)




