Poin Penting:
- Masalah: perempuan yang terbiasa menyenangkan orang lain bisa kesulitan menolak karena takut dianggap egois atau mengecewakan.
- Solusi: belajar mengatakan tidak, memberi jeda sebelum menyanggupi permintaan, dan menyampaikan keberatan secara asertif.
- Pesan utama: menjaga batasan diri bukan berarti berhenti peduli kepada orang lain.
Bacaini.ID, KEDIRI – Perempuan tidak enakan sering kali kesulitan berkata tidak karena takut mengecewakan orang lain. Akibatnya, mereka cenderung mengiyakan permintaan, menghindari perbedaan pendapat, bahkan mengesampingkan kebutuhan sendiri demi menjaga perasaan orang lain. Cara berhenti jadi orang tidak enakan harus segera dilakukan.
Sebab kecenderungan yang dikenal sebagai people pleasing tersebut dapat dipengaruhi oleh pola asuh, tekanan sosial, dan pengalaman masa lalu. Jika terus berlangsung, kebiasaan tersebut bisa menguras energi emosional. Padahal, setiap orang berhak menetapkan batasan diri, berani berkata tidak, dan menolak permintaan secara sopan tanpa harus merasa menjadi orang yang egois.
Mengapa Perempuan Sering Sulit Berkata Tidak?
Sebagian perempuan tumbuh dengan doktrin bahwa menjadi perempuan yang baik berarti tidak membantah, tidak merepotkan orang lain, dan selalu menjaga keharmonisan. Dalam lingkungan tertentu, perempuan yang tegas bahkan bisa lebih mudah dicap galak, egois, atau tidak tahu diri dibandingkan laki-laki yang menunjukkan perilaku serupa.
Ekspektasi sosial semacam ini dapat memengaruhi cara perempuan berkomunikasi. Mereka mungkin memilih diam ketika tidak setuju, mengiyakan permintaan meskipun keberatan, atau meminta maaf hanya karena menyampaikan kebutuhan pribadi.
Selain faktor lingkungan, pengalaman masa lalu juga dapat berperan. Seseorang yang pernah mendapat kemarahan, penolakan, atau perlakuan tidak menyenangkan setelah mengungkapkan pendapat bisa belajar bahwa mengalah terasa lebih aman daripada berterus terang.
Dalam psikologi, ada perbedaan antara komunikasi pasif, agresif, dan asertif. Komunikasi pasif cenderung mengabaikan kebutuhan diri sendiri demi orang lain. Sebaliknya, komunikasi agresif mengutamakan keinginan sendiri dengan mengabaikan hak orang lain.
Komunikasi asertif berada di antara keduanya, yakni menyampaikan pikiran, perasaan, dan batasan secara jelas tanpa merendahkan orang lain. Tujuannya bukan membuat seseorang menjadi cuek atau tidak peduli, melainkan membangun hubungan yang memungkinkan kedua pihak saling menghormati.
Tips Berhenti Jadi Orang Gak Enakan dan Mulai Bersikap Tegas
Belajar bersikap tegas tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Kebiasaan sederhana dalam percakapan sehari-hari bisa menjadi latihan untuk membangun batasan yang lebih sehat.
• Belajar mengatakan tidak tanpa penjelasan panjang
Tidak harus memiliki alasan dramatis untuk menolak permintaan. Jika memang tidak sanggup atau tidak bersedia, sampaikan secara sopan dan jelas.
• Jangan langsung menyanggupi permintaan
Biasakan memberi waktu sebelum menjawab. Kamu bisa mempertimbangkan tenaga, waktu, dan prioritasmu terlebih dahulu. Cara ini membantu mengurangi kebiasaan mengatakan iya secara spontan karena takut mengecewakan orang lain.
• Bedakan membantu dan mengorbankan diri
Membantu orang lain adalah hal baik, tetapi bukan berarti harus selalu tersedia. Jika bantuan yang diberikan membuat kelelahan atau mengabaikan kebutuhan penting sendiri, perlu dievaluasi lagi.
• Sampaikan keberatan secara langsung
Jangan berharap orang lain otomatis memahami perasaan atau kondisi. Ungkapkan masalah secara spesifik tanpa sindiran atau serangan pribadi.
• Jangan merasa bertanggung jawab atas kekecewaan orang lain
Orang lain boleh kecewa ketika ditolak permintaannya. Namun, rasa kecewa mereka tidak otomatis menjadi kesalahan salah satu pihak. Selama penolakan disampaikan dengan pantas dan tidak melanggar kewajiban yang memang menjadi tanggung jawab, tidak ada kewajiban mengubah keputusan hanya untuk menyenangkan orang lain.
• Berhenti meminta maaf secara berlebihan
Meminta maaf ketika melakukan kesalahan adalah bentuk tanggung jawab. Namun, tidak perlu terus meminta maaf hanya karena memiliki pendapat berbeda atau membutuhkan waktu untuk diri sendiri. Sampaikan keputusan dengan tenang tanpa merendahkan diri.
• Tetap konsisten meskipun orang lain tidak langsung menyukainya
Ketika mulai menetapkan batasan, orang yang terbiasa di-iya-kan, mungkin akan terkejut atau keberatan. Tak perlu bersikap kasar, tetapi tetap konsisten. Jika keputusan memang sudah dipertimbangkan, tidak harus menariknya kembali hanya karena mendapat tekanan.
Tegas Bukan Berarti Egois
Salah satu hambatan terbesar untuk berhenti menjadi orang yang tidak enakan adalah rasa bersalah. Seseorang mungkin sudah berani menolak, tetapi kemudian merasa dirinya jahat, tidak peduli, atau mengecewakan orang lain.
Padahal, rasa bersalah tidak selalu menandakan bahwa kita melakukan kesalahan. Terkadang, perasaan itu muncul karena sedang meninggalkan kebiasaan lama yang selama ini dianggap aman atau membuat orang lain nyaman.
Karena itu, belajar bersikap asertif membutuhkan latihan. Mulai dari situasi sederhana, seperti menolak ajakan ketika sedang lelah, mengungkapkan preferensi, atau meminta bantuan ketika membutuhkannya. Namun, bersikap tegas bukan berarti bebas mengabaikan perasaan orang lain. Tetap mendengarkan, menghargai pendapat, dan bertanggung jawab atas tindakan sendiri juga tak kalah pentingnya.
Perempuan tidak harus memilih antara menjadi orang baik dan menghormati diri sendiri. Keduanya bisa berjalan beriringan. Seseorang boleh peduli tanpa selalu mengalah, boleh menyayangi tanpa terus berkorban, dan boleh berkata tidak tanpa harus merasa menjadi orang jahat. (bl/sa)




