Poin Penting:
- Perkembangan korban: Jumlah warga yang diduga mengalami keracunan setelah hajatan aqiqah bertambah dari 17 menjadi 23 orang.
- Pemeriksaan sampel: Dinkes mengambil sampel feses pasien dan air dari dua sumur untuk dikirim ke Labkesmas Surabaya.
- Dugaan penyebab: Kontaminasi bakteri pada makanan diduga menjadi pemicu, tetapi penyebab pasti masih menunggu hasil laboratorium yang diperkirakan keluar sekitar satu minggu.
Bacaini.ID, TRENGGALEK – Sampel air sumur dan feses korban dugaan keracunan di Kabupaten Trenggalek dikirim ke laboratorium kesehatan masyarakat di Surabaya untuk diperiksa. Langkah pengambilan feses korban keracunan dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek setelah jumlah warga yang mengalami diare usai menghadiri hajatan aqiqah bertambah menjadi 23 orang.
Jumlah korban keracunan aqiqah yang sebelumnya 17 orang bertambah enam orang. Tiga orang di antaranya yang diketahui dalam kondisi lemas dirawat di Puskesmas Pogalan. Kemudian tiga lainnya dirawat di Puskesmas Pule. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek, Andiek Muarifin mengatakan, semuanya mengeluhkan diare.
“Keluhan utamanya saat ini adalah diare. Frekuensi buang air besar yang sering membuat pasien mengalami dehidrasi dan lemas, sehingga kami sarankan untuk rawat inap agar mendapat penanganan lebih lanjut,” jelasnya kepada wartawan Jumat (9/10/2026).
Sementara terkait sampel air sumur yang dibawa ke lab kesehatan Surabaya diambil dari dua sumur. Laporan adanya dugaan keracunan diketahui baru diterima dinkes dua hari pasca hajatan. Karena sudah tidak ada sampel sisa makanan yang layak, petugas mengambil sampel air sumur dan feses pasien.
“Kami telah mengambil sampel air dari dua sumur yang digunakan keluarga penyelenggara hajatan. Selain itu, kami juga mengambil sampel feses untuk dikirim ke Labkesmas Surabaya. Hasilnya diperkirakan akan keluar dalam waktu kurang lebih satu minggu,” terangnya.
Secara medis, pihak Dinkes menduga kuat keracunan dipicu oleh kontaminasi bakteri pada makanan. Kontaminasi ini bisa terjadi pada berbagai titik, mulai dari proses pengolahan bahan mentah, penyimpanan, hingga proses penyajian.
Durasi yang terlalu lama antara waktu makanan matang hingga disajikan kepada tamu juga menjadi faktor risiko utama berkembangbiaknya bakteri mematikan. Dengan adanya peristiwa ini dinkes mengimbau masyarakat lebih memperhatikan kebersihan dan sanitasi.
“Masyarakat yang mengadakan hajatan harus sangat memperhatikan kebersihan diri penjamah makanan, menggunakan alat pelindung diri (APD) saat memasak, serta memisahkan penyimpanan bahan mentah dan matang untuk menghindari kontaminasi silang,” pungkasnya. (aby/sa)




