Bacaini.ID, TRENGGALEK – Sebuah hajatan aqiqah di Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, berakhir dengan sejumlah tamu yang harus mendapat perawatan di fasilitas kesehatan. Hingga Kamis (8/10/2026), sedikitnya 17 orang tercatat mendapatkan penanganan. Mereka mengalami keluhan mulai diare, nyeri perut, muntah hingga demam.
Para tamu tersebut menghadiri hajatan pada Selasa malam. Keluhan kesehatan mulai muncul pada Rabu sore hingga malam.
Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek belum memastikan bahwa keluhan tersebut disebabkan oleh makanan yang disajikan dalam hajatan. Sampel makanan yang tersisa pun tidak dapat diperiksa di laboratorium. Sebagian menu sudah habis, sementara sebagian lainnya sudah dalam kondisi berjamur.
Hidangan yang disajikan antara lain sate kambing, gulai, es degan dan minuman konyaku. Para tamu juga membawa pulang bingkisan berupa roti bolu pisang.
Keracunan MBG
Beberapa waktu terakhir, masyarakat ramai membicarakan kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Bedanya, makanan MBG diproduksi dalam skala jauh lebih besar dan dikonsumsi oleh anak-anak sekolah dalam jumlah massal.
Pada 11–13 Agustus 2026, ratusan siswa dan guru SMPN 1 Trenggalek mengalami mual, muntah, diare, dan sakit perut setelah menyantap MBG. Awalnya dilaporkan 421 orang, kemudian pendataan Satgas MBG mencapai 493 orang di SMPN 1 Trenggalek. Jika ditambah penerima di sekolah dan posyandu lain, totalnya menjadi 549 orang.
Rentetan kasus tersebut memang layak dikritik. Apalagi MBG merupakan program pemerintah yang menyangkut makanan anak-anak dan dibiayai negara. Standar keamanan pangannya semestinya jauh lebih ketat daripada makanan yang dibuat untuk sebuah hajatan keluarga.
Tetapi ada hal lain yang juga perlu kita pahami, yakni risiko keracunan makanan tidak hanya dimiliki MBG. Makanan yang dimasak di dapur rumah bisa bermasalah. Makanan hajatan bisa bermasalah. Warung makan bisa bermasalah. Restoran yang terlihat bersih sekalipun tidak otomatis bebas dari risiko.
Penyebabnya bisa beragam, mulai bahan baku yang tidak aman, proses memasak yang tidak tepat, kebersihan peralatan, tangan penjamah makanan, penyimpanan, suhu makanan, hingga lamanya makanan berada sebelum dikonsumsi.
Justru karena MBG diproduksi secara massal, tuntutan terhadap program tersebut memang harus lebih tinggi. Satu kesalahan di dapur MBG bisa berdampak kepada ratusan bahkan ribuan orang. Harus ada sistem yang memastikan kemungkinan itu sekecil mungkin.
Sehingga kewaspadaan dan kehati-hatian dalam memasak dibutuhkan oleh siapapun, tak terkecuali masakan rumah dan warung. (aby/htw)




