
Tidak semua warga punya waktu membuat konten. Tidak semua orang memahami cara mengolah data. Tapi ketika ada seseorang yang mengunggah sesuatu yang sesuai dengan kegelisahan mereka, tombol like dan share menjadi cara paling mudah untuk ikut berbicara.
Tidak semua warga Kediri tiba-tiba menjadi aktivis. Namun mereka punya kuota dan tombol share.
Fenomena kritik terhadap Pemerintah Kota Kediri sebenarnya menarik untuk dibaca lebih jauh. Mungkin ini bukan semata-mata soal keberadaan akun-akun pengkritik. Bukan juga hanya soal satu isu, karena kritik muncul dari berbagai arah.
Alun-Alun, taman, tol, proyek pembangunan, dugaan korupsi, komunikasi pemerintah. Satu demi satu isu muncul dan menemukan jalannya sendiri di media sosial. Ketika banyak isu berbeda bisa bertemu dalam satu ruang kemarahan, biasanya ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Bukan berarti semua kritik otomatis benar. Dugaan tetap harus diuji. Informasi tetap harus diverifikasi. Tuduhan tetap harus dibuktikan. Dan akun media sosial, seviral apa pun, tidak boleh menjadi satu-satunya sumber kebenaran.
Tetapi respons masyarakat terhadap kritik-kritik itu adalah fakta sosial yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Sebab, dalam politik, persepsi publik juga penting.
Kadang sebuah masalah tidak membesar hanya karena persoalannya besar, tapi membesar karena masyarakat merasa pemerintah tidak cukup menjelaskan.
Kadang publik tidak benar-benar marah karena satu proyek. Mereka marah karena merasa terlalu sering tidak diajak bicara. Mungkin inilah yang sedang terjadi di Kediri.
Pemerintah tentu punya hak untuk membantah informasi yang dianggap tidak benar. Mereka juga punya kewajiban meluruskan informasi yang menyesatkan. Kalau ada tuduhan yang keliru, jawab dengan data. Kalau ada informasi palsu, luruskan dengan fakta. Kalau ada dugaan pelanggaran hukum, biarkan mekanisme hukum bekerja.
Tetapi pemerintah juga perlu hati-hati agar tidak terjebak pada satu kesalahan klasik, yakni terlalu sibuk mencari siapa yang berbicara, lalu lupa mendengarkan apa yang sedang dibicarakan.
Sebab, akun bisa saja ditutup. Konten bisa dihapus. Satu orang bisa berhenti membuat unggahan.
Tapi kegelisahan masyarakat tidak selalu ikut hilang. Besok mungkin muncul akun lain. Namanya bisa berbeda. Profilnya bisa berubah. Jumlah pengikutnya mungkin lebih banyak.
Karena itu, pertanyaan paling penting sebenarnya bukan siapa Cat Warrior? Tetapi mengapa begitu banyak warga Kediri bersedia menjadi pengikutnya?



