• Login
Bacaini.id
Thursday, May 7, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Gerhana Bulan Total Terjadi Malam Ini, Benarkah Ditelan Raksasa?

ditulis oleh
26 May 2021 09:39
Durasi baca: 3 menit
Ilustrasi gerhana bulan dan lesung. Foto: Eko G dalam kafeastronomi.com

Ilustrasi gerhana bulan dan lesung. Foto: Eko G dalam kafeastronomi.com

Bacaini.id, KEDIRI – Masyarakat Jawa kerap menandai peristiwa gerhana bulan dengan membunyikan kentongan. Tradisi kothekan ini untuk mengembalikan bulan yang konon ditelan raksasa.

Tak hanya memukul kentongan, sejumlah peralatan juga dipukul untuk menimbulkan bunyi-bunyian yang rancak, seperti lesung dan tampah. Biasanya hal ini dilakukan para pemuda sambil berkeliling kampung.

Pawai keliling ini menjadi hiburan masyarakat yang berbondong-bondong keluar rumah di malam hari. Sambil duduk-duduk dan memandang langit, mereka menyaksikan peristiwa gerhana bulan dengan mata telanjang.

baca ini Tata Cara Sholat Gerhana dan Bacaannya

“Biasanya ada orang tua yang bercerita tentang kisah raksasa yang memakan bulan. Karena itu para pemuda berkeliling membunyikan kothekan agar raksasa mengembalikan bulan ke langit,” tutur Sujinem, 70 tahun, warga kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Dalam mitologi Jawa, peristiwa gerhana bulan total ini telah dituliskan dalam prasasti dan relief candi. Kata gerhana disebut berasal dari istilah bahasa Jawa Kuno, yakni candragrahana.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, mengatakan prasasti tertua yang diperkirakan bertarikh 11 Maret 843 Masehi atau abad ke-9 menyebut adanya peristiwa Gerhana Bulan. “Prasasti itu menggambarkan peristiwa candragrahana atau Gerhana Bulan, sebuah peristiwa yang dianggap sangat penting,” kata Dwi dikutip dari liputan6.com.

Hal ini ditemukan dalam salah satu relief di Candi Belahan atau Sumber Tetek di Mojokerto, Jawa Timur. Relief itu menggambarkan candra sinahut kalarahu atau raksasa sedang menelan bulan. Menurut Dwi, ada dua pendapat berbeda tentang angka tahun relief itu, yakni menunjuk tahun 1009 Masehi atau 1049 Masehi.

Masih menurut Dwi Cahyono, ada peristiwa bersejarah di relief Candi Belahan bertarikh 1049 Masehi tersebut. Yakni meninggalnya Prabu Airlangga, Raja Mataram terakhir. Serta momentum terbelahnya kerajaan Mataram menjadi dua, yakni Kerajaan Kadiri dan Panjalu.

“Diibaratkan suasana kegelapan politik, sebagaimana gelapnya dunia saat terjadi gerhana total. Mitos Jawa Kuno, saat gerhana semua akan keluar mengejar raksasa agar tak ada kegelapan,” kata Dwi (https://www.liputan6.com/regional/read/3246133/mitos-dan-cerita-gerhana-bulan-total-di-masa-jawa-kuno).

Gerhana bulan total yang terjadi malam nanti dipastikan dapat dilihat dengan mata telanjang di Indonesia. Peristiwa ini termasuk langka lantaran bulan menunjukkan tiga fenomena sekaligus, yakni Supermoon, Blue Moon, dan Gerhana Bulan Total. Fenomena ini disebut sebagai Super Blue Blood Moon.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebagian besar wilayah Indonesia bisa mengamati Gerhana Bulan Total atau Super Blood Moon yang terjadi malam nanti. Sedangkan waktu pengamatan berbeda karena faktor wilayah. (HTW)

Tonton video:

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: gerhana bulan total
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Audiensi ALMAS PUMA dengan Pemkab Trenggalek terkait Camat Pule

Camat Pule Trenggalek Dipaksa WFH, Pemkab Tunggu Rekomendasi Mutasi dari BKN

Tampilan aplikasi Friendster terbaru di iPhone dengan konsep media sosial anti algoritma dan desain minimalis

Friendster Kembali Hadir, Media Sosial Anti Algoritma yang Bikin Anak Warnet Nostalgia

Ratusan anggota PSHT Kabupaten Blitar menggelar aksi damai di depan Kantor Bupati Blitar dengan mengenakan pakaian hitam dan membawa poster tuntutan

PSHT Kabupaten Blitar Gelar Aksi Damai, Desak Pemda dan Polisi Tertibkan Kelompok Ilegal

  • Maia Estianty memakai perhiasan red ruby di pernikahan El Rumi

    Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kedatangan KPK ke Blitar Picu Rumor OTT, Jubir Pastikan Hanya Sosialisasi Pencegahan Korupsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In