Poin Penting:
- Gen Z sering dianggap malas karena lebih cepat resign dan berpindah kerja dibanding generasi sebelumnya
- Dalam teori match quality, keputusan berpindah kerja dipengaruhi kecocokan budaya kerja, kesehatan mental, dan nilai hidup, bukan sekadar gaji
- Job hopping dinilai menjadi strategi eksplorasi karier dan peningkatan kesejahteraan finansial bagi Gen Z
Bacaini.ID, KEDIRI – Generasi Z atau Gen Z kerap mendapat stigma sebagai generasi malas yang mudah menyerah, tidak loyal, dan cepat resign dari pekerjaan. Namun dalam perspektif sosiologi kerja, fenomena job hopping yang sering dilakukan anak muda justru dapat dipahami sebagai upaya mencari match quality atau kualitas kecocokan antara pekerja dan lingkungan kerja
Keluhan tentang mudahnya Gen Z ‘ngambek’ dan mengajukan resign ketika ditegur atau mengalami situasi yang membuat tidak nyaman, seringkali menjadi topik tersendiri dalam obrolan di tempat kerja maupun diskusi di media sosial.
Fenomena ‘job hopping’ alias kutu loncat, berpindah-pindah tempat kerja dalam waktu singkat, sering kali dijadikan bukti otentik untuk menghakimi mereka. Menurut laporan global dari Randstad, rata-rata masa kerja awal Gen Z adalah 1,1 tahun.
Namun, benarkah Gen Z malas atau mudah menyerah? Atau ada pergeseran paradigma besar yang gagal dipahami oleh generasi-generasi sebelumnya? Dalam teori sosiologi kerja, apa yang dilakukan Gen Z sebenarnya bukan pelarian, tapi pencarian yang disebut Match Quality atau Kualitas Kecocokan.
Mengenal Match Quality dan Cara Gen Z Memandang Dunia Kerja
Dalam dunia kerja, match quality merupakan tingkat kesesuaian antara karakteristik seorang pekerja dengan pekerjaan dan perusahaan tempatnya bekerja. Tidak hanya diukur dari nominal gaji yang diterima, namun juga tentang keseimbangan beban kerja dengan kesehatan mental, kecocokan budaya kerja, hingga keselarasan nilai hidup pribadi dengan visi perusahaan.
Ketika match quality seseorang rendah, mereka akan merasa terasing, tertekan, dan tidak produktif. Bagi Gen Z, bertahan di tempat yang match quality-nya buruk adalah kesia-siaan. Jika di masa lalu beban kerja dan nominal gaji menjadi ukuran ‘kesetaraan’ yang jadi pedoman, kini kesehatan mental dan kebahagiaan batin lebih menjadi pertimbangan untuk melanjutkan kerja atau tidak, meskipun gaji yang diterima tergolong tinggi.
Pada generasi terdahulu seperti Baby Boomers atau Gen X, mereka cenderung bertahan puluhan tahun di satu tempat kerja meskipun mengalami ketidakcocokan. Di era lalu, stabilitas menjadi ukuran utama. Filosofi kerja generasi senior adalah ‘bertahan hidup dan berkorban demi masa depan’, loyalitas pada perusahaan adalah wajib. Menjadi kutu loncat, dianggap ‘red flag’ yang bahkan bisa mematikan karier.
Sementara itu Gen Z tumbuh di era yang sangat berbeda. Mereka lebih realistis dengan dunia kerja masa kini yang mayoritas memiliki sistem kerja kontrak atau outsourcing. Meletakkan loyalitas penuh pada perusahaan menjadi hal yang tidak lagi relevan karena perusahaan bisa sewaktu-waktu melakukan lay-off.
Alasan Utama Gen Z Melakukan Job Hopping
Bagi Gen Z, job hopping di awal usia 20-an merupakan strategi trial and error yang logis. Mereka menggunakan fase ini untuk eksplorasi, mencari tahu di industri apa bisa mengeluarkan potensi terbaiknya, dan lingkungan seperti apa yang bisa membuat berkembang.
Faktanya, strategi kutu loncat ini terbukti secara data ekonomi sering kali mempercepat kenaikan gaji dan jabatan secara signifikan, dibandingkan jika harus menunggu kenaikan gaji tahunan yang persentasenya kecil di satu perusahaan yang sama. Berpindah perusahaan menjadi taktik finansial paling rasional untuk melawan inflasi.
Alasan lain yang tak kalah penting untuk berpindah kerja bagi Gen Z adalah kesehatan mental yang menjadi prioritas utama. Toxic workplace menjadi musuh besar. Gen Z menyadari mereka adalah pekerja yang memiliki hak yang juga harus dihormati perusahaan. Manajemen buruk, ekspoitasi jam kerja, atau atasan maupun rekan kerja yang dianggap toksik, bisa menjadi pemicu resign.
Jadi, Gen Z bukanlah malas bekerja, mereka hanya malas membuang waktu di tempat yang salah. Ketika Gen Z menemukan tempat dengan match quality yang tinggi, mereka terbukti bisa menjadi pekerja yang sangat inovatif, adaptif, dan berdedikasi tinggi.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif




