
Sebab pernyataan Edy sebenarnya membawa kita ke persoalan yang jauh lebih konkret, bagaimana kehidupan pekerja informal ketika harga kebutuhan pokok naik.
Itu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang terlihat menarik becak. Berapa rata-rata pendapatan tukang becak di Kediri? Berapa pengeluaran mereka sehari? Berapa penumpang yang harus dibawa agar bisa membawa pulang uang untuk makan? Apakah mereka mendapatkan jaminan sosial? Apakah pemerintah kota punya program khusus untuk mereka?
Dan yang paling penting, setelah seseorang merasakan beratnya menarik becak, apa yang kemudian dilakukan? Di situlah empati diuji, bukan di kamera. Karena merasakan sehari tidak sama dengan menjalani setiap hari.
Menaiki atau menarik becak selama beberapa menit tentu tidak otomatis membuat seseorang memahami seluruh kehidupan tukang becak. Orang bisa merasakan pegal, merasakan berat, dan bisa berkeringat.
baca ini: Narasi, Djarum dan Masa Depan Jurnalisme Independen
Tetapi tukang becak merasakan persoalan yang lebih panjang, mencari penumpang, menghitung pendapatan, membayar makan, membayar sekolah anak, menghadapi harga kebutuhan pokok, dan memikirkan apakah besok masih ada penumpang.
Karena itu, pengalaman tersebut semestinya tidak berhenti sebagai pengalaman personal. Kalau ingin dibawa lebih jauh, konten ini justru bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan masalah pekerja informal di Kediri.
Di situlah video beberapa detik itu bisa punya umur yang jauh lebih panjang. Sebelum kemudian muncul pertanyaan lanjutan, “Setelah becaknya berhenti, apakah kebijakan untuk tukang becak ikut bergerak?” (htw/edt)



