
Dua hal tersebut bedanya cuma sedikit dalam kalimat, tapi sangat jauh dalam jurnalistik. Apalagi ada konteks politik Edy bukan orang biasa dalam arti perhatian publik.
Ia adalah ayah Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati dan masih aktif sebagai perwira Polri. Karena itulah, ketika warga biasa naik becak, mungkin tidak ada yang peduli.
Ketika figur yang sudah dikenal publik melakukan hal serupa dan direkam, maknanya berubah. Bukan karena becaknya yang berbeda, tetapi siapa yang mengendarainya.
Di sinilah publik bekerja. Mereka mencari konteks, apakah ini sekadar kegiatan sosial, empati, konten personal, atau ada pesan tertentu yang ingin disampaikan?
Semua pertanyaan itu sah. Yang tidak sah adalah mengubah dugaan menjadi fakta.
baca ini: Pecah Kongsi Kepala Daerah dan Wakil Makin Membesar di Jawa Timur
Lalu kenapa sampai dibandingkan dengan Jokowi? Karena publik punya memori.
Pada 26 Desember 2012, ketika masih menjadi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo turun langsung memeriksa gorong-gorong di kawasan Bundaran HI dan masuk ke dalam saluran air untuk melihat kondisinya. Aksi itu kemudian mendapat perhatian besar dari media.
Belakangan, aksi tersebut memang menjadi salah satu contoh yang sering dibicarakan ketika membahas gaya komunikasi Jokowi yang menonjolkan aktivitas turun langsung ke lapangan.
Maka ketika ada figur publik lain melakukan aktivitas yang dianggap “merakyat”, ingatan publik otomatis bekerja. Begitu melihat becak, sebagian orang mungkin langsung teringat gorong-gorong.
Padahal jelas, gorong-gorong dan becak adalah dua benda yang sangat berbeda, yang satu saluran air, satunya alat transportasi.
Ironisnya, dalam keributan soal pencitraan atau tidak, kita malah bisa lupa pada tokoh yang paling penting dalam cerita ini. Bukan Edy Herwianto, tapi tukang becaknya.
baca halaman selanjutnya……….



