
Seperti saat kita memakai jersey klub sepak bola untuk menunjukkan siapa yang kita dukung, memakai kaus komunitas untuk menunjukkan lingkungan pergaulan, maupun memasang simbol tertentu di kendaraan agar orang tahu kita bagian dari kelompok tertentu.
Perguruan silat pun memiliki simbol, seragam dan identitas yang sama kuatnya. Bedanya, di dalam perguruan silat ada sejarah persaudaraan yang panjang. Mungkin itulah yang membuat orang seperti dua teman saya akhirnya berubah pikiran.
Mereka tidak sedang mencari musuh. Mereka mungkin sedang mencari saudara.
Namun persoalannya kemudian kembali ke jalanan, karena di sanalah stigma itu lahir. Masyarakat tidak selalu mengenal perguruan silat dari latihan yang disiplin atau prestasi atletnya. Sebagian justru mengenalnya dari keributan yang dilakukan oknum.
Ini yang menurut saya tidak adil, tetapi sekaligus tidak bisa diabaikan. Tidak adil karena perilaku beberapa orang tidak semestinya digunakan untuk menghakimi seluruh anggota perguruan. Tetapi juga tidak bisa diabaikan karena ketika keributan terjadi berulang, masyarakat akhirnya membentuk persepsi sendiri.
Dan media sosial membuat persoalan itu semakin rumit. Satu video keributan bisa beredar ribuan kali. Nama perguruan ikut terseret. Orang kemudian membuat kesimpulan. Stigma terbentuk.
Padahal mungkin pada hari yang sama, ribuan anggota perguruan lain sedang berlatih dengan tertib di padepokan masing-masing. Mereka tidak masuk berita. Mereka tidak viral. Sebab orang yang berlatih dengan tertib memang tidak menarik algoritma. Yang menarik justru orang berkelahi.
Ironisnya, yang kemudian menanggung akibatnya adalah semua orang.
Karena itu saya justru melihat perguruan silat sedang menghadapi tantangan yang cukup serius, yakni bagaimana menjaga identitas dan rasa persaudaraan tanpa membuat identitas itu menjadi alasan untuk memusuhi kelompok lain?
Sebab kalau benar yang diajarkan adalah pengendalian diri, seharusnya kekuatan terbesar seorang pesilat bukan ketika ia mampu menjatuhkan orang lain. Melainkan ketika ia mampu menahan dirinya sendiri.
Setelah mengetahui dua teman saya bergabung dengan perguruan silat, saya sekarang justru semakin penasaran. Mungkin saya selama ini salah memahami mereka. Mungkin orang yang masuk perguruan silat tidak sedang mencari kemampuan untuk memukul orang. Mungkin mereka sedang mencari tempat untuk belajar disiplin, mencari teman, mencari saudara, atau mungkin juga mencari identitas di tengah kehidupan yang semakin individualistis.(htw/edt)



