
Bukan ingin jago berkelahi.Bukan pula karena tiba-tiba punya musuh yang harus dihajar.
Ada alasan tentang pertemanan, kesehatan, latihan, pengalaman baru, persaudaraan dan tentu saja rasa ingin menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Di situlah saya mulai berpikir.
Mungkin selama ini saya dan banyak orang lain terlalu sederhana melihat perguruan silat. Kita sering mengenalnya melalui potongan-potongan video di media sosial; konvoi, keributan, bentrokan, pengeroyokan, atau sekelompok anak muda yang berteriak-teriak di jalan.
Padahal perguruan silat tentu tidak sesederhana itu. Di dalamnya ada latihan fisik, disiplin, guru, murid, ritual, sejarah, kebudayaan dan yang paling sering disebut persaudaraan.
Masalahnya, persaudaraan ternyata bisa menjadi sesuatu yang sangat kuat. Dan sesuatu yang sangat kuat selalu punya dua kemungkinan. Menjadi energi positif, atau berubah menjadi tembok yang membedakan “kami” dan “mereka”.
Saya kemudian mulai memperhatikan hal lain. Ternyata bukan hanya teman-teman saya yang tertarik masuk perguruan silat. Pejabat dan politisi juga banyak yang menjadi anggota dadakan, setidaknya dalam beberapa waktu terakhir. Termasuk teman-teman di kepolisian dan TNI, profesi yang sering berhadap-hadapan dengan para pesilat ketika terjadi keributan.
Tentu saja tidak ada yang salah dengan itu.
Pejabat juga manusia. Mereka boleh olahraga. Mereka boleh bersilaturahmi. Mereka juga boleh belajar pencak silat. Bahkan, kalau akhirnya menjadi lebih sehat dan disiplin, tentu bagus.
Tetapi sebagai orang yang agak cerewet soal fenomena sosial, saya tetap punya satu pertanyaan. Mengapa perguruan silat begitu menarik bagi banyak orang, termasuk mereka yang punya jabatan dan kekuasaan?
Saya tidak ingin buru-buru menjawabnya. Sebab bergabung dengan perguruan silat bisa memiliki banyak alasan. Bisa karena olahraga, budaya, keluarga, pertemanan, dan bisa pula karena ingin membangun kedekatan dengan komunitas.
Namun ada satu hal yang sulit diabaikan. Perguruan silat bukan hanya tempat orang belajar tendangan dan pukulan, tetapi jaringan sosial. Anggotanya ada di banyak tempat, dari kota sampai desa. Dari anak muda sampai orang dewasa. Dari masyarakat biasa sampai orang yang kemudian menjadi pejabat.
Di titik ini, perguruan silat menjadi menarik bukan hanya sebagai olahraga, tetapi juga sebagai identitas sosial. Orang ingin menjadi bagian dari sesuatu, dan manusia memang seperti itu.
baca halaman selanjutnya…………….



