Poin Penting:
- Penelitian terbaru menemukan orang yang menguasai dua bahasa atau lebih memiliki otak biologis lebih muda, bahkan hingga 13 tahun pada penutur empat bahasa atau lebih
- Belajar bahasa baru memperkuat jaringan saraf melalui proses code-switching, meningkatkan cadangan kognitif (cognitive reserve), dan menjaga efisiensi kerja otak
- Para ilmuwan menegaskan belajar bahasa sebaiknya dipadukan dengan gaya hidup sehat, olahraga, nutrisi seimbang, dan aktivitas sosial agar kesehatan otak tetap optimal hingga usia lanjut
Bacaini.ID, KEDIRI – Kemampuan berbahasa asing mempengaruhi otak. Sebuah penelitian terbaru menemukan orang dengan kemampuan bicara dua bahasa atau lebih memiliki otak lebih muda ketimbang yang hanya satu bahasa. Hasil penelitian juga menyebut mempelajari bahasa lain dapat memperlambat penuaan otak hingga 13 tahun.
BACA JUGA: AI Bikin Otak Menyusut? Penelitian MIT Peringatkan Efek ChatGPT pada Daya Pikir
Temuan terbaru yang dipresentasikan dalam Federation of European Neuroscience Societies (FENS) Forum 2026 di Barcelona membeberkan bukti empiris kemampuan multibahasa bukan sekadar keterampilan komunikasi, melainkan bentuk latihan kognitif intensif yang mampu secara efektif memperlambat penuaan biologis otak.
Masalah penuaan otak bukan sekadar masalah genetika atau suplemen nutrisi, rahasia untuk menjaga otak tetap awet muda kini juga ditemukan dalam ruang-ruang kelas bahasa.
Dikutip dari The Guardian, penelitian yang dipimpin oleh Dr. Lucia Amoruso dari Basque Center on Cognition, Brain and Language (BCBL) menggunakan metodologi mutakhir yang melibatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan konektivitas saraf manusia. Dengan menganalisis pola aktivitas otak, tim peneliti mampu mengukur ‘usia biologis’ otak dan membandingkannya dengan usia kronologis partisipan.
BACA JUGA: Perilaku “Bang Jago” Jagakarsa Tidak Mewakili Sifat Orang Kediri
Hasilnya mengungkapkan bahwa mereka yang menguasai dua bahasa memiliki otak yang secara biologis tampak 6 tahun lebih muda dibandingkan penutur satu bahasa. Keuntungan ini terus meningkat seiring bertambahnya jumlah bahasa: penutur tiga bahasa memiliki otak yang lebih muda 7 tahun, dan mereka yang menguasai empat bahasa atau lebih memiliki otak yang secara biologis terlihat 13 tahun lebih muda dibandingkan yang menguasai satu bahasa.
Temuan ini memberikan argumen kuat bahwa bahasa adalah ‘mesin waktu’ yang menjaga struktur dan fungsi saraf tetap dalam kondisi prima jauh melampaui usia kronologis individu.
Mempelajari bahasa baru ternyata memiliki efek yang dramatis pada otak. Kuncinya terletak pada kemampuan otak untuk melakukan code-switching, proses di mana seseorang berpindah-pindah antar bahasa dengan mulus. Aktivitas ini memaksa otak untuk terus-menerus mengelola perhatian, melakukan inhibisi terhadap bahasa yang tidak sedang digunakan, serta memproses aturan tata bahasa yang kompleks secara simultan.
Latihan mental yang konstan ini memperkuat jaringan saraf dan meningkatkan apa yang oleh para ahli disebut sebagai Cognitive Reserve atau Cadangan Kognitif. Cadangan ini berfungsi layaknya perisai pelindung yang memungkinkan otak tetap mempertahankan efisiensi kognitifnya meskipun terjadi penurunan fungsi saraf alami yang berkaitan dengan pertambahan usia.
Selain itu, studi berbasis fMRI menunjukkan bahwa otak multilingual cenderung bekerja dengan efisiensi metabolisme yang lebih tinggi; mereka sering kali mampu menyelesaikan tugas kognitif dengan hasil yang setara atau lebih baik daripada penutur satu bahasa, namun dengan aktivitas korteks frontal yang jauh lebih ringan.
Meskipun paparan bahasa sejak dini memang memberikan manfaat yang optimal karena otak sedang berada dalam masa perkembangan yang krusial, memulai belajar bahasa baru di usia dewasa atau bahkan usia senja tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap kesehatan kognitif. Proses mempelajari kosa kata baru, memahami struktur gramatikal asing, dan melatih pengucapan bahasa asing merupakan ‘olahraga otak’ yang merangsang neuroplastisitas.
Para ilmuwan menekankan bahwa meskipun multilingualisme merupakan komponen yang sangat kuat untuk melawan penuaan otak, ia hanyalah salah satu pilar dalam menjaga kesehatan kognitif jangka panjang. Kesehatan otak yang optimal tetap memerlukan gaya hidup holistik, yang mencakup nutrisi seimbang, aktivitas fisik rutin, sosialisasi yang aktif, dan yang paling penting, tantangan belajar yang berkelanjutan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: NU Pernah Minta Bantuan PSI, Sutan Sjahrir Menolak dan artikel lainnya di Rubrik BACAGAYA




