Bacaini.ID, KEDIRI – Banyak orang masih teringat kasus daycare di Yogyakarta yang mengikat anak-anak balita agar tertidur. Praktik itu memicu kemarahan publik sekaligus membuka diskusi tentang bagaimana sebenarnya metode tidur anak diakui dalam dunia kesehatan.
Para ahli kesehatan anak menegaskan tidak ada metodologi medis yang membenarkan tindakan mengikat anak untuk membuat mereka tidur. Praktik tersebut justru berbahaya, berisiko menimbulkan cedera fisik, trauma psikologis, bahkan gangguan pernapasan.
Dunia pediatri, cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada kesehatan fisik, mental, dan emosional anak, mulai dari bayi hingga remaja (0–18/21 tahun), mengenal sejumlah metode sleep training yang aman dan diakui secara internasional.
American Academy of Pediatrics (AAP) dan berbagai rumah sakit anak terkemuka merekomendasikan pendekatan berbasis kebiasaan, bukan paksaan fisik. Metode seperti Cry-It-Out, di mana anak dibiarkan menangis sebentar sebelum belajar menenangkan diri, atau Ferber Method, dengan interval cek berkala, terbukti membantu anak membangun rutinitas tidur mandiri.
Ada pula Chair Method, di mana orang tua duduk di dekat anak lalu perlahan menjauh setiap malam, serta Pick Up, Put Down, yang menenangkan anak sebentar sebelum dikembalikan ke tempat tidur.
Semua metode ini menekankan konsistensi, rutinitas, dan dukungan emosional. Tidak ada satu pun yang melibatkan ikatan fisik.
Sleep training yang benar bukan hanya membantu anak tidur lebih nyenyak, tetapi juga membangun rasa aman dan kepercayaan antara anak dan orang tua.
Penulis: Hari Tri Wasono





