Poin Penting:
- Batik Encim Pekalongan viral setelah sejumlah netizen Malaysia menuduh Indonesia mengklaim batik bermotif bunga warna cerah yang mereka anggap berasal dari Malaysia.
- Secara historis, motif tersebut merupakan Batik Pesisir Pekalongan yang berkembang sejak abad ke-19 melalui perpaduan budaya Jawa, Tionghoa Peranakan, dan Eropa, lalu diekspor ke kawasan Selat Malaka.
- Batik Pekalongan dan Batik Malaysia memiliki perbedaan mendasar dari teknik pembuatan, detail motif, hingga filosofi, sehingga keduanya merupakan tradisi tekstil yang berbeda meski memiliki kemiripan visual
Bacaini.ID, KEDIRI – Batik Pekalongan menjadi polemik antara netizen Indonesia dan Malaysia dan viral di media sosial. Sejumlah netizen Malaysia ngamuk dengan menuduh Indonesia telah mengklaim batik milik mereka, yang tak lain batik encim Pekalongan atau batik peranakan.
BACA JUGA: Batik Tulungagung Pernah Jaya, Sekarang Tinggal Cerita
Polemik berawal dari brand fashion batik yang menampilkan koleksi baru batik Pekalongan di media sosial. Sejumlah netizen Malaysia tiba-tiba menuduh Indonesia telah mengklaim batik mereka yang berciri khas motif bunga warna cerah.
Narasi yang dikembangkan, pengrajin Indonesia meniru gaya estetika kain batik Malaysia. Padahal, kain yang memicu polemik tersebut merupakan Batik Pesisir khas Pekalongan, khususnya varian Batik Encim atau Batik Peranakan.
Keributan digital tersebut menjadi fenomena yang menarik sekaligus memprihatinkan. Membuktikan minimnya literasi akan sejarah kolektif, khususnya tentang tekstil di tingkat regional, telah menimbulkan polemik.
Mengapa Banyak Warga Malaysia Keliru Memahami Batik Indonesia?
Akar utama dari kesalahpahaman massal ini terletak pada generalisasi atau stereotipe visual terhadap batik Indonesia. Selama beberapa berdekade, promosi pariwisata dan budaya global lebih sering mengekspos gaya batik keraton (pedalaman) seperti corak dari Surakarta (Solo) dan Yogyakarta. Batik pedalaman ini identik dengan warna-warna tanah yang teduh, soga, cokelat tua, krem, dan hitam, yang mengusung motif geometris penuh filosofi dalam seperti Parang, Sidomukti, atau Kawung.
BACA JUGA: Makna Mendalam Motif Batik yang Tak Banyak Diketahui
Ketika netizen luar negeri, termasuk dari Malaysia, melihat kain batik Indonesia dengan warna merah muda, kuning, pastel, dan hijau terang, mereka langsung merasa asing. Di sisi lain, industri fashion modern Malaysia sejak pertengahan abad ke-20 gencar mempromosikan kain bermotif flora warna cerah sebagai identitas nasional mereka. Kombinasi antara ketidaktahuan bahwa Indonesia memiliki varian batik pesisir yang sangat kaya warna dan bias visual inilah yang melahirkan klaim sepihak.
Mereka mengira kain berwarna cerah otomatis berasal dari Semenanjung Malaya, tanpa menyadari bahwa Pekalongan telah memproduksi spektrum warna tersebut jauh sebelum industri mereka lahir.
Sejarah Batik Encim Pekalongan
Batik Pekalongan memiliki warna yang mencolok dan berbeda dari pakem keraton Jawa Tengah. Di abad ke-19, Pekalongan merupakan kota pelabuhan yang strategis di jalur perdagangan Pantai Utara Jawa (Pantura). Posisi geografis ini menjadikannya kuali peleburan (melting pot) berbagai kebudayaan dunia. Pedagang, imigran, dan pelancong dari Tiongkok, Arab, India, hingga bangsa kolonial Eropa berinteraksi intensif dengan masyarakat lokal.
BACA JUGA: Keren! Batik Tulis Sumenep Raup Puluhan Juta Per Bulan
Puncak perkembangan pembatikan di Pekalongan terjadi pasca-Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830). Akibat kecamuk perang di wilayah pedalaman Mataram, banyak keluarga bangsawan, pengrajin, dan pengikut keraton mengungsi ke arah utara, termasuk ke Pekalongan. Mereka membawa keahlian membatik tingkat tinggi bermodalkan malam dan canting tulis. Di tempat baru ini, keahlian tradisional tersebut bertemu dengan selera pasar internasional yang dinamis.
Pada pertengahan tahun 1800-an, komunitas Tionghoa peranakan di pesisir Jawa mulai mengadopsi kain batik sebagai pakaian sehari-hari mereka, menggantikan kain sutra impor. Para wanita Tionghoa peranakan yang dipanggil ‘Encim’ atau Nyonyah mulai memesan batik dengan desain khusus yang sesuai dengan cita rasa estetika mereka. Lahirlah apa yang kini dikenal sebagai Batik Encim.
Batik Encim Pekalongan dicirikan oleh adaptasi simbol-simbol keberuntungan tradisional Tionghoa seperti burung phoenix (Fenghuang) yang melambangkan keabadian, naga yang melambangkan kekuatan, kupu-kupu sebagai simbol cinta, serta tanaman dewa.
Uniknya, estetika tersebut berpadu lagi dengan pengaruh Eropa, terutama ketika pengusaha batik keturunan Belanda seperti Eliza van Zuylen memopulerkan motif ‘Buketan’, buket bunga bergaya kartu ucapan Eropa, pada akhir abad ke-19. Perpaduan seni multikultural inilah yang melahirkan kain batik bergradasi warna halus dengan motif bunga buketan super rumit yang hari ini diributkan warganet dua negara.
Mengapa Motif Batik Pekalongan Banyak Ditemukan di Malaysia?
Motif batik Pekalongan sangat familiar bagi warga Malaysia, tak lepas dari sejarah ekspor dan perdagangan maritim masa lalu. Komunitas Peranakan tidak hanya tumbuh di pantai utara Jawa, namun juga di wilayah Selat Malaka, seperti Melaka, Pulau Pinang (Penang), dan Singapura, yang dikenal sebagai rumpun Baba Nyonya.
BACA JUGA: Malaysia “Surga” TKI asal Jawa Timur, Salah Satunya Warga Blitar
Sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20, para Nyonya di Selat Malaka sangat menggemari kain sarung batik pesisir Jawa karena kualitasnya yang tiada tanding. Kain buatan Lasem, Cirebon, dan khususnya Pekalongan menjadi barang komoditas mewah yang diimpor secara massal ke Malaysia Barat. Kain-kain ini dipadukan dengan kebaya renda mereka untuk menghadiri pesta pernikahan, upacara adat, maupun pakaian harian.
Bagi keluarga Baba Nyonya di Malaysia, kain batik Pekalongan adalah simbol status sosial. Karena kain-kain tersebut telah disimpan oleh para pendahulu selama beberapa generasi dan menjadi bagian dari foto-foto keluarga tua di Malaysia, generasi mudanya hari ini mengalami distorsi sejarah. Mereka mengira kain bermotif buketan warna pastel tersebut diproduksi secara lokal di Malaysia pada masa lalu, padahal kain itu adalah barang mewah impor yang dibeli dari para saudagar batik di Pekalongan dan Pekajangan.
Bahkan hingga detik ini, hubungan dagang itu tidak pernah benar-benar putus. Banyak desainer, pemilik butik baju kurung, dan pedagang tekstil dari Kuala Lumpur, Kelantan, maupun Terengganu yang secara rutin datang langsung ke Indonesia.
Perbedaan Batik Pekalongan dan Batik Malaysia
Dari segi kerapatan dan kerumitan motif, batik Encim Pekalongan menuntut ketelitian tingkat tinggi. Ruang-ruang kosong di antara motif utama bunga tidak dibiarkan polos, melainkan dipenuhi oleh isen-isen, berupa titik-titik mikro (cecek) atau garis-garis tipis (galaran) yang dibuat menggunakan canting tulis berujung super kecil.
BACA JUGA: Seniman Reog dan Jaranan Gelar Aksi Tolak Klaim Malaysia
Sebaliknya, gaya Batik Malaysia, yang baru berkembang masif sekitar tahun 1913 di Kelantan dan Terengganu, didominasi oleh ruang kosong yang luas dengan motif flora berukuran besar-besar. Dari segi teknik pewarnaan dan gradasi, pada kelopak bunga Batik Pekalongan dihasilkan melalui proses celup berkali-kali yang sangat sabar. Hal ini menciptakan detail bayangan yang luar biasa halus dan tajam di kedua sisi kain, tembus bolak-balik.
Sementara itu, sebagian besar Batik Malaysia menggunakan teknik batik lukis atau batik colet, di mana warna disapukan langsung menggunakan kuas di atas bentangan kain layaknya melukis di kanvas. Teknik ini menghasilkan gradasi bergaya cat air (wet-on-wet) yang cair, spontan, namun warnanya seringkali tidak tembus sempurna ke bagian belakang kain.
Perbedaan paling radikal adalah, Batik Pekalongan sangat kaya akan penggambaran fauna seperti burung, kupu-kupu, bangau, dan serangga sebagai pelengkap keindahan buketan bunga. Sementara itu, industri batik di Terengganu dan Kelantan tumbuh dalam lingkungan budaya yang sangat ketat menghindari penggambaran makhluk bernyawa demi kepatuhan pada interpretasi teologis setempat. Oleh karena itu, Batik Malaysia murni hanya mengeksplorasi motif tumbuh-tumbuhan, daun, dan bunga abstrak.
Batik Encim Pekalongan menjadi bukti nyata dari keterbukaan bangsa Indonesia terhadap asimilasi budaya dunia yang menghasilkan mahakarya hasil perkawinan seni Jawa, Tionghoa, dan Eropa yang lahir dari keringat para pengrajin pesisir abad ke-19.
Dengan memahami bahwa kain warna-warni tersebut memiliki sertifikat kelahiran sejarah di Pekalongan, tidak hanya mempertahankan warisan leluhur dari klaim keliru, namun juga menghargai rekam jejak perdagangan yang pernah menyatukan Asia Tenggara di masa lampau.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: KPK Tangkap Bupati Pemalang Anom Widiyantoro, Amankan Uang Tunai Rp2 Miliar dan artikel lainnya di rubrik BACA




