• Login
Bacaini.id
Tuesday, May 26, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Balada Program Bank Sampah, Insentif Kecil dan Sistem yang Merepotkan

ditulis oleh Redaksi
6 April 2026 12:06
Durasi baca: 4 menit
Ilustrasi aktivitas bank sampah. Foto: Istimewa

Ilustrasi aktivitas bank sampah. Foto: Istimewa

Bacaini.ID, KEDIRI – Matahari belum tinggi ketika Yusianti menenteng tiga galon air mineral kosong ke gazebo RT 19, RW 06, Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri, Sabtu pagi. Galon-galon itu ditumpuk di dekat timbangan, bersanding dengan aneka barang rumah tangga seperti timba bekas, tumpukan koran, hingga kardus mi instan.

Yusianti adalah anggota bank sampah yang beroperasi di lingkungannya sejak tahun lalu. Satu dari segelintir anggota bank sampah yang masih bertahan. SIsanya “berguguran” lebih dulu dengan berbagai alasan. “Dulu awalnya banyak yang ikut, tapi makin ke sini makin sedikit. Warga memilih membayar iuran untuk pemungut sampah rumahan dan menjual barang bekas ke tukang rosok keliling,” katanya.

Program bank sampah yang selama ini digadang-gadang sebagai solusi pengurangan sampah di tingkat rumah tangga belum berjalan efektif di masyarakat. Meski telah dibentuk di banyak kelurahan, partisipasi warga cenderung rendah dan keberlanjutan pengelolaannya kerap tersendat.

Sejumlah pengamat menilai persoalan bank sampah bukan terletak pada rendahnya kepedulian warga, melainkan pada desain sistem yang tidak realistis dan insentif yang terlalu kecil dibanding usaha yang harus dikeluarkan masyarakat.

Memilah Sampah Dinilai Terlalu Merepotkan

Di tingkat rumah tangga, warga kerap harus melakukan serangkaian proses sebelum bisa menyetorkan sampah ke bank sampah. Mulai dari memilah jenis sampah, mencuci kemasan plastik, menyimpannya dalam waktu tertentu, hingga mengantarkannya sesuai jadwal.

Bagi sebagian warga, terutama di kawasan padat penduduk dan rumah tangga dengan waktu terbatas, proses tersebut dinilai terlalu merepotkan. Menurut mereka, tidak adil jika kegagalan program selalu dibebankan pada sikap atau mentalitas warga.

Nilai Ekonomi Tak Seimbang dengan Usaha

Selain faktor kerepotan, nilai ekonomi sampah yang ditawarkan bank sampah juga dianggap belum menarik. Harga jual sampah anorganik di tingkat bank sampah relatif rendah. Botol plastik misalnya, sering hanya dihargai beberapa ribu rupiah per kilogram. Padahal, rata-rata produksi sampah anorganik rumah tangga per minggu terbilang kecil.

Akibatnya, setelah melalui proses yang panjang, warga hanya memperoleh manfaat finansial yang minim dan sering kali tidak bisa langsung dicairkan. Kondisi ini membuat bank sampah sulit dijadikan sebagai insentif yang mendorong perubahan perilaku.

Secara rasional, masyarakat akan mempertimbangkan untung dan rugi. Ketika tenaga, waktu, dan ruang penyimpanan yang dibutuhkan lebih besar daripada hasil yang diterima, partisipasi pun menurun.

Bank Sampah Terlalu Dibebani Banyak Fungsi

Masalah lain muncul dari sisi pengelolaan. Selama ini, bank sampah di tingkat RT dan RW kerap dijalankan oleh relawan dengan sumber daya terbatas. Namun mereka dituntut menjalankan banyak peran sekaligus.

Mulai dari edukasi warga, pencatatan administrasi, pengumpulan dan pemilahan sampah, hingga mencari pembeli ke pengepul atau industri daur ulang. Beban kerja yang berat tanpa dukungan memadai membuat banyak pengurus mengalami kelelahan dan akhirnya tidak aktif.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa bank sampah lebih sering diposisikan sebagai gerakan sosial, bukan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah perkotaan yang profesional.

Kritik juga diarahkan kepada pemerintah daerah yang dinilai terlalu menggantungkan pengurangan sampah kepada bank sampah. Bank sampah seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti tanggung jawab negara.

Tanpa subsidi operasional, dukungan logistik, dan jaminan pembelian hasil pilahan, bank sampah akan sulit bertahan. Akibatnya, program ini sering berhenti pada tahap seremoni dan simbolik, tanpa dampak signifikan terhadap pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA.

Tidak Terintegrasi dengan Sistem Resmi

Hingga kini, sebagian besar bank sampah masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terintegrasi dengan sistem persampahan resmi. Hubungannya dengan dinas lingkungan hidup, pengangkutan sampah, hingga industri daur ulang berskala besar masih lemah.

Akibatnya, sampah residu tetap mendominasi aliran ke TPA, sementara kontribusi bank sampah terhadap pengurangan sampah kota relatif kecil dan sulit terukur.

Sudah saatnya pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap konsep bank sampah. Alih-alih terus bertanya mengapa warga enggan memilah sampah, pertanyaannya perlu dibalik, bagaimana membuat memilah sampah menjadi lebih mudah, murah, dan menguntungkan bagi masyarakat.

Tanpa perubahan desain sistem, peningkatan insentif, serta dukungan negara yang lebih kuat, bank sampah berpotensi terus berjalan di tempat dan gagal menjawab krisis sampah perkotaan.

Di tengah meningkatnya konflik di sekitar TPA dan keterbatasan lahan pembuangan, kegagalan bank sampah menjadi “warning” bahwa solusi sampah tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada warga, melainkan membutuhkan kehadiran negara yang lebih nyata dan bertanggung jawab.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Salah satu KDMP di Jombang. Foto: bacaini/Syailendra

Belum Beroperasi, Sejumlah Karyawan KDKMP Mengundurkan Diri

Defi Sugiarto, peternak ayam petelur di Desa Ngulankulon, Pogalan, Trenggalek. Foto: bacaini/Aby

Harga Telur Turun Saat Pakan Naik, Peternak Ayam di Trenggalek Kelimpungan

Muh Samanhudi Anwar memberikan pernyataan akan mundur saat pelantikan Ketua KONI Kota Blitar di tengah polemik dana hibah olahraga dan konflik pemilihan KONI

Samanhudi Anwar Akan Mundur Saat Pelantikan Ketua KONI Kota Blitar

  • Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin menjelaskan skema dana hibah KONI Kota Blitar

    Sinyal Tegas Wali Kota Blitar soal Dana Hibah KONI, Problem Hukum Samanhudi Jadi Kajian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Samanhudi Anwar Akan Mundur Saat Pelantikan Ketua KONI Kota Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Teror Pocong Masuk Jawa Timur, Mengingatkan Publik pada Ninja hingga Kolor Ijo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In