• Login
Bacaini.id
Friday, August 21, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

AI Ternyata Boros Energi dan Air, Ini 4 Cara Menghematnya

Penggunaan AI membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar. Kebiasaan sederhana seperti memilih model yang lebih kecil dan membatasi panjang jawaban bisa membantu mengurangi jejak energi

ditulis oleh Solichan Arif
21 August 2026 14:24
Durasi baca: 5 menit
AI boros energi dan air untuk menjalankan pusat data

Penggunaan AI membutuhkan energi listrik dan air untuk menjalankan serta mendinginkan pusat data (foto/magnific)

Reporter: Bromo Liem | Editor: Solichan Arif

Bacaini.ID, KEDIRI – Penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan ternyata menyerap energi listrik dan air yang besar, dan itu berpotensi berdampak pada lingkungan.

Baca Juga: AI Bikin Otak Menyusut? Penelitian MIT Peringatkan Efek ChatGPT pada Daya Pikir

Sebagai gambaran, setiap kali seseorang mengetik sebuah pertanyaan sederhana ke kolom chatbot, ada mesin-mesin raksasa di pusat data yang bekerja sangat keras di belakang layar. Mesin-mesin ini membutuhkan pasokan listrik yang masif dan air yang tidak sedikit untuk menjaga perangkat tetap dingin.

Jika dihitung secara individual mungkin terlihat sepele. Namun, ketika hal ini dikalikan dengan miliaran kueri yang dilakukan oleh jutaan orang di seluruh dunia setiap hari, dampaknya terhadap lingkungan menjadi luar biasa besar.

Mengapa AI Boros Energi?

Dikutip dari Livescience, sulit untuk memperkirakan secara pasti berapa banyak energi yang dihabiskan untuk memproses satu pertanyaan saja. Namun, penelitian dari raksasa teknologi memberikan gambaran yang cukup mencengangkan.

Baca Juga: Rabbit Hole Algoritma Media Sosial: Tragedi Remaja Italia Bongkar Cara AI Manipulasi Pikiran

Google, misalnya, pernah memperkirakan bahwa chatbot Gemini miliknya membutuhkan sekitar 0,24 watt-jam untuk merespons kueri teks dengan panjang sedang. Angka ini setara dengan energi listrik yang biasa gunakan untuk menonton televisi selama kurang lebih sembilan detik. Selain listrik, proses tersebut juga mengonsumsi sekitar 0,26 mililiter air dan menghasilkan emisi karbon dioksida sekitar 0,03 gram.

Sebagai perbandingan, mengendarai mobil berbahan bakar bensin sejauh sekitar 1,6 km akan menghasilkan emisi sekitar 400 gram. Terlihat kecil, namun angka itu adalah untuk satu pertanyaan saja. Jika dikalikan dengan frekuensi tiap orang di muka bumi yang menggunakan AI setiap hari, jumlahnya akan sangat fantastis.

Konsumsi energi yang masif ini berakar dari perangkat keras yang menggerakkannya. Model AI didukung oleh prosesor khusus seperti Graphic Processing Units (GPU). Perangkat ini memakan daya listrik yang jauh lebih besar dibandingkan Central Processing Units (CPU) biasa yang biasanya menangani tugas-tugas sederhana seperti pencarian web biasa atau mengirim email.

Selain masalah perangkat keras, model di baliknya, yang dikenal sebagai Large Language Models (LLM), dirancang untuk memproses miliaran parameter secara bersamaan. Setiap kali model ini merespons, mereka harus melakukan jutaan hingga miliaran komputasi matematika yang kompleks.

4 Cara Mudah Menghemat Energi Saat Menggunakan AI

Meskipun masalah perubahan iklim dan konsumsi energi ini terdengar sangat besar, bukan berarti harus berhenti total menggunakan AI. Teknologi ini tetap membawa banyak manfaat positif bagi produktivitas manusia. Kunci utamanya adalah beralih ke kebiasaan penggunaan yang lebih bijak dan bertanggung jawab.

Baca Juga: Friendster Kembali Hadir, Media Sosial Anti Algoritma yang Bikin Anak Warnet Nostalgia

Berdasarkan panduan dari para ahli teknologi dan lingkungan, berikut adalah empat langkah nyata yang bisa diterapkan sehari-hari untuk meminimalkan jejak karbon dari penggunaan AI:

Tetap Gunakan Mesin Pencarian Konvensional

Sebagai langkah paling awal dan paling mudah, pastikan dulu apakah benar-benar membutuhkan bantuan AI untuk mengerjakan sesuatu. Seorang pakar AI, Günter Klambauer, di Johannes Kepler University, Austria, memberikan analogi yang sangat menarik. Bertanya kepada ChatGPT untuk hal-hal sepele diiabartkan dengan seseorang yang naik pesawat jet supersonik hanya untuk berbelanja ke supermarket yang tak jauh dari rumah. Berlebihan dan membuang-buang sumber daya energi.

Beralih ke Model AI yang Lebih Kecil dan Spesifik

Bagi individu atau pelaku bisnis yang sering menggunakan AI untuk tugas-tugas rutin yang spesifik, seperti menerjemahkan bahasa atau meringkas teks panjang, menggunakan model AI raksasa serbaguna tidak selalu efisien.

Sebagai alternatif, bisa beralih ke model bahasa yang lebih kecil dan dirancang khusus untuk satu fungsi tertentu. Karena dilatih secara khusus untuk tugas yang sempit dan melakukan komputasi yang jauh lebih sedikit, model-model kecil ini mengonsumsi energi yang jauh lebih rendah dibandingkan LLM raksasa.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh UNESCO pada tahun 2025 menguji efisiensi model kecil, dibandingkan dengan model besar. Hasilnya luar biasa: model-model kecil yang bisa diakses secara bebas ini terbukti mengonsumsi energi antara 15 hingga 50 kali lebih sedikit. Hebatnya lagi, mereka sering kali tetap menghasilkan kualitas keluaran yang sangat akurat untuk tugas spesifik tersebut.

Jangan Terlalu Banyak Bicara

Semakin panjang teks yang dihasilkan oleh AI, semakin banyak pula energi yang dihabiskan. Ini karena LLM melakukan komputasi di setiap kata berturut-turut yang dicetaknya, model yang cenderung ‘banyak bicara’ akan memakan daya listrik yang jauh lebih besar.

Mosharaf Chowdhury, seorang pakar sistem AI dari University of Michigan, mencatat bahwa beberapa model AI memiliki mode penalaran mendalam (reasoning mode) yang dirancang untuk memecahkan masalah rumit. Dalam mode ini, model bisa menghasilkan kata-kata hingga sepuluh kali lipat lebih banyak dibandingkan mode percakapan teks biasa.

Oleh karena itu, para ahli menyarankan agar hanya menggunakan mode penalaran untuk pertanyaan yang benar-benar rumit, dan tetap menggunakan mode standar untuk percakapan sehari-hari. Selain itu, trik sederhana seperti meminta chatbot untuk ‘singkat saja’ atau memberikan batasan kata yang ketat terbukti sangat efektif.

Dalam riset UNESCO yang sama, para peneliti menemukan bahwa instruksi sederhana untuk memangkas separuh panjang keluaran teks mampu memangkas konsumsi energi hingga 50 persen. Menariknya, membuat prompt (perintah) awal menjadi lebih pendek justru tidak memberikan penghematan yang signifikan, hanya sekitar 5 persen saja. Jadi, kunci penghematannya ada pada pembatasan jawaban, bukan pertanyaannya.

Turunkan Resolusi dan Lakukan Pemrosesan Secara Berkelompok (Batching)

Jika teks saja sudah membutuhkan banyak energi, bagaimana dengan pembuatan gambar dan video? Proses pembuatan konten visual dengan AI membutuhkan daya komputasi yang berlipat-lipat ganda lebih besar daripada teks. Pasalnya, sistem harus melakukan perulangan pada jutaan piksel berkali-kali, di mana setiap tahapannya memproses ulang seluruh gambar dari awal.

Terlebih lagi, fitur pembuatan gambar dan video ini sangat digemari. Berdasarkan survei Pew Research Center, hampir 40 persen remaja usia 13 hingga 17 tahun kini rutin menggunakan AI untuk membuat atau mengedit konten visual.

Untuk menyiasatinya, para ahli menyarankan agar pengguna memproduksi gambar atau video hanya saat benar-benar mendesak. Mulailah proses pembuatan pada resolusi rendah terlebih dahulu. Jika arah dan bentuk visualnya sudah sesuai dengan keinginan, barulah tingkatkan resolusinya secara bertahap. Selain itu, mengedit gambar yang sudah ada terbukti jauh lebih hemat energi dibandingkan merender gambar baru dari nol.

Jika berencana membuat beberapa gambar sekaligus, lakukanlah dalam satu sesi atau secara berkelompok (batch). Cara ini jauh lebih efisien dibandingkan mengirimkan beberapa permintaan terpisah secara terus-menerus. (bl/sa)

Google News Lihat Berita Bacaini.id di Google News
Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacani.id
Tags: aiartificial intelligenceenergikecerdasan buatan
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

AI boros energi dan air untuk menjalankan pusat data

AI Ternyata Boros Energi dan Air, Ini 4 Cara Menghematnya

Kiai Miftachul Akhyar saat tausiyah istighosah jelang Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang

Jelang Muktamar ke-35 NU, Kiai Miftachul Akhyar: Hari Penuh Ketidakmenentuan

Pikap terjun ke jurang di Selopuro Blitar

Sopir Diduga Ngantuk, Pikap Terjun ke Jurang 15 Meter di Blitar, 1 Orang Tewas

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In