Poin Penting:
- KGB dan GRU menempatkan sedikitnya 24 pejabat intelijen Soviet di Jakarta, Medan, dan Surabaya sejak awal 1970-an untuk menjalankan operasi intelijen.
- Agen Soviet berhasil merekrut sejumlah orang Indonesia di lingkungan militer, MPR, dan Kantor Pos. Pada 1971, KGB juga terungkap berusaha merekrut ajudan Jenderal Nasution.
- Satsus Intel BAKIN menjalankan operasi kontraintelijen dengan menjadikan Nikolai Petrov sebagai agen ganda berkode Houdini untuk mengungkap jaringan intelijen Soviet.
Bacaini.ID, KEDIRI – Operasi intelijen asing berupa penyadapan informasi rahasia, menyusup ke lembaga resmi negara, perekrutan, dan memata-matai Pemerintahan Presiden Soeharto terus dilakukan oleh KGB dan GRU Uni Soviet. Sedikitnya 24 pejabat intelijen KGB di Indonesia disebar di Jakarta, Medan, dan Surabaya sejak awal 1970-an. Bahkan ajudan Jenderal Nasution, juga nyaris direkrut agen KGB.
Dikutip dari buku Intel Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia, KGB merupakan dinas intelijen sipil Uni Soviet dan GRU dinas intelijen militer Soviet. Para agen asing atau mata-mata Soviet tersebut tidak berhenti menjalankan misi operasi intelijennya. Terus mencoba menyadap informasi rahasia rezim Orde Baru yang mendapat sokongan Amerika Serikat.
“Mereka adalah dua puluh empat pejabat KGB dan GRU yang ditempatkan di Jakarta, Medan dan Surabaya sejak awal 70-an,” demikian dikutip Bacaini.id Sabtu (7/11/2026) dari buku Intel Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia.
Salah satu lembaga resmi negara yang menjadi tempat kamuflase sekaligus menjalankan operasi intelijen adalah Atase Kebudayaan. Boris Liapine, salah satu pejabat Atase Kebudayaan teridentifikasi sebagai agen. Boris memiliki kegemaran plesiran ke tempat hiburan malam di Menteng. Minum hingga tak sadarkan diri.
Agen Soviet lainnya adalah Vladislav Romanov. Bekerja di Atase Politik, Romanov salah satu diplomat yang dikenal sebagai ahli bahasa. Kemudian Oleg Brykin yang dikenal piawai merekrut anggota baru dan membangun jaringan, dan karenanya dianggap berbahaya.
Pada awal tahun 70-an Oleg Brykin terungkap berhasil merekrut anggota baru, yakni dua orang Indonesia, yang bekerja di kedutaan Inggris. Sementara Nikolai Grigoryevich Petrov diketahui merupakan Kapten GRU yang masih berumur 33 tahun.
Lima tahun belajar bahasa Indonesia dan cakap berbahasa Jawa pasaran, Petrov awalnya menyamar sebagai juru bahasa dalam Proyek 055 di Surabaya. Sebuah proyek pemberian sisa bantuan Soviet kepada Angkatan Laut Indonesia.
Bekerja di kedutaan Soviet, Petrov diketahui datang ke Jakarta bersama kontingen GRU berjumlah sepuluh orang. Tim ini dipimpin oleh Kolonel Nikolai Khakalin, rezident GRU yang berkedok Atase Pers Senior.
Sementara Vladimir Abromov dikenal sebagai perekrut ulung di tubuh militer Indonesia. Seorang letnan angkatan udara yang bertugas di bagian teknik berhasil direkrutnya. Kemudian ada juga yang menduduki posisi penting di pangkalan Angkatan Laut Surabaya.
Abromov juga berhasil merekrut Yamin, seorang karyawan sipil berumur 31 tahun yang bekerja di Markas Besar Angkatan Laut Indonesia. Yamin mendapat upah cukup besar tiap bulan dan dalam bekerja melibatkan istrinya.
Abromov yang berumur 48 tahun diketahui merupakan salah satu dari sepuluh orang kontingen GRU yang datang ke Indonesia bersama Petrov.
Satsus Intel Soeharto Dibentuk untuk Membongkar Mata-mata Asing
Pemerintahan Soeharto tidak tinggal diam. Operasi para agen asing tersebut ditangkal dan sekaligus dibongkar oleh operasi kontraintelijen pasukan Satsus Intel, sebuah unit baru Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara).
Berdiri 16 November 1968, pendirian Satsus Intel dilakukan rezim Soeharto usai adanya kunjungan Clarence “Ed” Barbier, salah seorang pejabat CIA (Central Intelligence Agency), agen intelijen Amerika Serikat.
Mantan intelijen angkatan laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II dengan keahlian bahasa Jepang, Clarence Barbier merupakan Kepala Stasiun CIA yang berkamuflase kerja di kedutaan yang khusus mengurus hubungan dengan Bakin.
Kunjungannya ke Indonesia mendorong Kolonel Nicklany, Wakil Asisten Intelijen Kopkamtib menegaskan gagasannya perlunya pendirian Satsus Intel sebagai unit khusus di Bakin. Tugas Satsus melakukan kontra intelijen asing, yaitu menangkap mata-mata asing yang beroperasi di Indonesia.
Sandi Rahasia Agen KGB dan Operasi Kontraintelijen
Satsus Intel menjuluki setiap agen KGB dan GRU yang diawasi dengan sebutan “Gatot”, sebuah nama yang umum dipakai masyarakat Jawa. Gatot jadi sandi kode yang dilekatkan kepada orang-orang yang teridentifikasi sebagai agen asing.
Satsus Intel Soeharto berhasil mengungkap sejumlah sandi kode yang dipakai para agen Soviet dalam menjalankan operasinya. Salah satunya kode lampu dim mobil. Biasanya dipakai mengirim pesan kepada agen lain yang menanti di trotoar.
Kemudian juga sandi secarik kertas puith yang diletakkan di atas dashboard, gulungan koran di tangan kanan atau koran yang dijepit ketiak. Satsus Intel juga berhasil mengkooptasi agen Petrov dan menjadikannya sebagai agen ganda dengan sandi “Houdini”.
Melalui Petrov terungkap para agen asing tersebut telah menyusup ke lembaga legislatif. Sejumlah tenaga ahli di MPR berhasil direkrut. Kemudian juga para pegawai Kantor Pos. Pada tahun 1971 terungkap juga KGB berusaha merekrut ajudan Jenderal Nasution.
KGB juga terungkap mendekati seorang letnan angkatan darat. Sejumlah kontrak antara pejabat KGB dengan seorang letnan angkatan darat yang bertugas di intelijen militer berhasil didokumentasikan oleh Satsus Intel.
Satsus Intel Soeharto melakukan sejumlah operasi kontra intelijen. Di antaranya operasi dengan sandi Jaring (1974), operasi Belati Ganda (1975) dan operasi Ubur-ubur. Operasi kontra intelijen digelar setelah penyamaran Petrov sebagai agen ganda terbongkar.
Petrov yang diburu agen Soviet, seketika menghilang. CIA memberi suaka di Virginia. Dengan pesawat Angkatan Laut AS, Bakin dan CIA berhasil menerbangkan Petrov ke Philipina, dan lalu memindahkan ke Washington DC.
Dua tahun setelah penyamarannya sebagai agen ganda terbongkar Petrov kembali melakukan kerja intelijen. Namun nasibnya tidak lagi diketahui setelah mencoba mengunjungi anak dan istrinya di Soviet. (sa/edt)




