Maya:
Guys, Sabtu jadi ngopi nggak?
Rina:
Aku kayaknya nggak bisa deh. Lagi capek banget 😭
Sinta:
Ayolah, sekali ini aja. Udah lama nggak kumpul.
Rina:
Iya deh 😭 Jam berapa?
Maya:
Jam 4 ya. Sekalian makan.
Rina:
Okeee.
Lima menit kemudian…
Rina:
Sebenernya aku pengin rebahan 😭
Sinta:
Terus kenapa bilang iya?
Rina:
Nggak enak kalau nolak 😭
BacaGaya – Kalimat “nggak enak kalau nolak” mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi banyak perempuan, kalimat itu bisa menjadi alasan mengapa mereka berkali-kali mengatakan “iya” untuk sesuatu yang sebenarnya tidak mereka inginkan.
Nggak enak menolak ajakan teman.
Nggak enak meminta uang yang dipinjam dikembalikan.
Nggak enak bilang sedang capek ketika seseorang meminta bantuan.
Nggak enak mengoreksi orang lain.
Bahkan, nggak enak ketika sebenarnya kita sedang tidak baik-baik saja.
Akhirnya, kata “iya” keluar lebih cepat daripada pertimbangan kita sendiri.
Di Kediri, fenomena semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Dalam pergaulan sehari-hari, perempuan sering berada dalam situasi yang menuntut mereka menjaga perasaan orang lain: teman, keluarga, pasangan, tetangga, rekan kerja, bahkan orang yang baru dikenal.
Persoalannya, kapan “menjaga perasaan orang lain” berubah menjadi mengabaikan perasaan sendiri?
Ketika “iya” sebenarnya berarti “tidak”
“Nggak enakan” sering dianggap sebagai sifat baik.
Perempuan yang tidak enakan dianggap sopan, mudah diajak bekerja sama, perhatian, dan tidak suka membuat masalah. Masalahnya muncul ketika sikap tersebut membuat seseorang terus-menerus melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dilakukan.
Teman mengajak pergi saat sedang ingin istirahat. “Ya sudah, ikut saja.”
Teman meminta bantuan ketika pekerjaan sendiri belum selesai. “Ya sudah, bantu sebentar.”
Diminta menjadi panitia lagi, padahal sudah kelelahan. “Ya sudah, nggak enak kalau nolak.”
Lama-lama, seseorang bisa terbiasa mengorbankan kenyamanan dirinya sendiri hanya agar orang lain tidak kecewa. Padahal, menolak bukan berarti jahat. Dan mengatakan “tidak” bukan berarti seseorang berhenti menjadi perempuan yang baik.
Mengapa perempuan sering merasa harus menyenangkan semua orang?
baca halaman selanjutnya………




