Bacaini.ID, JOMBANG – Standar keualamaan atau ulama dari aspek personal, intelektual dan moral menjadi pembahasan utama dalam forum Bahtsul Masail Maudlu’iyah di Muktamar ke-35 NU Ponpes Tambakberas Jombang. NU perlu membuat standar keualamaan.
Pembahasan pentingnya membuat standar ulama oleh NU tersebut didorong oleh perkembangan teknologi dan sistem algoritma yang membuat masyarakat kian mudah menemukan beragam pandangan keagamaan di ruang digital.
Yang jadi masalah, apakah pandangan keagamaan tersebut punya dasar keilmuwan atau masih perlu dikaji lebih lanjut. Karenannya diperlukan forum Bahtsul Masail di Muktamar NU untuk memperjelas semuanya.
“Kita kesulitan menyaring mana pendapat-pendapat yang otoritatif dan mana yang sebaiknya perlu dikaji lebih teliti,” kata Abdullah Aniq Nawawi selaku tim perumus Komisi Bahtsul Masail Maudhu’iyah kepada wartawan.
Pembahasan nilai keulamaan dalam Bahtsul Masail tidak hanya meliputi materi keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan, tapi juga terkait kriteria individu. Seperti apa individu yang dikategorikan ulama. Bagaimana kapasitas keilmuwan dan moralnya.
Hasil kajian diharapkan dapat membantu masyarakat menentukan sosok yang memiliki otoritas dalam menyampaikan pandangan keagamaan. Terlebih ketika popularitas di ruang digital tidak berbanding lurus dengan kapasitas keilmuwan.
“Mana sosok yang memang memiliki otoritas keagamaan, dan mana sosok yang hanya modal viral saja. Karenanya NU perlu memiliki standar, siapa yang sebenarnya yang layak disebut ulama,” jelasnya.
Seperti diketahui, forum Bahtsul Masail yang berlangsung di momentum Muktamar ke-35 NU juga membahas soal I’adatun Nazhar dan Pajak Berkeadilan (sa/edt)




