Poin Penting:
- Bahasa Jawa menempati peringkat kelima bahasa non-nasional terbesar di dunia dengan sekitar 68 juta penutur aktif menurut SeasiaStats dan GoodStats, sekaligus menjadi satu-satunya bahasa daerah ASEAN yang masuk 10 besar dunia
- Meski memiliki jumlah penutur sangat besar, Bahasa Jawa tidak dipilih sebagai bahasa nasional karena para pendiri bangsa memilih Bahasa Melayu demi menjaga persatuan, menghindari dominasi etnis, dan karena lebih mudah dipelajari
- Bahasa Jawa tetap berkontribusi besar terhadap Bahasa Indonesia melalui ribuan kosakata serta memiliki komunitas penutur yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia hingga Suriname dan Malaysia
Bacaini.ID, KEDIRI — Bahasa Jawa berada lima besar dalam jajaran bahasa non-nasional (regional/daerah) terbesar di dunia menurut data SeasiaStats. Kompilasi data terbaru GoodStats menyebut Bahasa Jawa memiliki 68 juta penutur aktif dan sekaligus jadi satu-satunya bahasa daerah dari Asia Tenggara (ASEAN) yang mampu menembus jajaran sepuluh besar dunia.
BACA JUGA: Ragam Dialek di Jawa Timur: Dari Aneman, Mataraman, Hingga Arekan
Prestasi demografis ini membuktikan eksistensi bahasa daerah, terutama Bahasa Jawa tidak luntur oleh kemajuan zaman meskipun penggunaan bahasa asing jadi tuntutan keahlian.
Daftar 10 Bahasa Non-Nasional Terbesar di Dunia
Dalam ranah linguistik internasional, bahasa non-nasional merujuk pada bahasa yang memiliki basis penutur asli yang sangat besar di wilayah tertentu, namun tidak berstatus sebagai bahasa resmi utama atau bahasa nasional tunggal dari suatu negara berdaulat.
BACA JUGA: 97 Tahun Sumpah Pemuda: Semaun Umur 21 Tahun Ketua Partai, Kamu?
Berdasarkan data riset tersebut, dominasi daftar bahasa non-nasional terbesar di dunia diisi oleh bahasa-bahasa dari negara dengan populasi raksasa, seperti Tiongkok, Pakistan, dan India. Berikut peta sepuluh besar bahasa non-nasional dunia berdasarkan jumlah penutur:
• Wu Chinese, Tiongkok – 200 juta penutur
• Punjabi, Pakistan/India – 150 juta penutur
• Telugu, India – 81 juta penutur
• Cantonese, Tiongkok – 80 juta penutur
• Bahasa Jawa, Indonesia – 68 juta penutur
• Marathi, India – 60 juta penutur
• Rajasthani, India – 50 juta penutur
• Gujarati, India – 45 juta penutur
• Malayalam, India – 38 juta penutur
• Odia / Oriya, India – 36 juta penutur
Di posisi puncak, Wu Chinese, rumpun bahasa daerah yang dituturkan di Shanghai, Zhejiang, dan Jiangsu, memimpin secara mutlak dengan 200 juta penutur, disusul Punjabi di kawasan Asia Selatan dengan 150 juta penutur.
Kehadiran Bahasa Jawa di urutan kelima dengan 68 juta penutur menjadi fenomena tersendiri. Bahasa Jawa mengungguli bahasa-bahasa regional populer lainnya di Asia, seperti Marathi, Gujarati, hingga Malayalam. Di tingkat regional Asia Tenggara, Bahasa Jawa paling banyak penuturnya di kategori bahasa daerah, melampaui Bahasa Sunda, sekitar 32–40 juta penutur serta berbagai bahasa daerah di Filipina seperti Cebuano dan Ilocano.
Mengapa Bahasa Jawa Tidak Menjadi Bahasa Nasional Indonesia?
Melihat angka penuturnya yang terbilang raksasa, bahkan melebihi total populasi negara-negara Eropa seperti Korea Selatan, Italia, atau Inggris, mengapa Bahasa Jawa tidak jadi bahasa nasional?
Pada era pergerakan nasional, suku Jawa merupakan kelompok etnis mayoritas mutlak di Hindia Belanda, menguasai hampir setengah dari total populasi saat itu. Secara matematis, memaksakan Bahasa Jawa sebagai bahasa nasional, sangat memungkinkan.
Namun, para tokoh pemuda asal Jawa seperti Ki Hajar Dewantara (Soewardi Soerjaningrat) dan Sarmidi Mangunsarkoro, secara sadar menolak egosentrisme etnis tersebut. Ada tiga alasan fundamental di balik keputusan bersejarah memilih Bahasa Melayu sebagai cikal bakal Bahasa Indonesia:
• Menghindari Dominasi Mayoritas dan Kecemburuan Sosial
Jika Bahasa Jawa diangkat menjadi bahasa resmi tunggal negara, muncul kekhawatiran timbulnya persepsi ‘imperialisme budaya Jawa’ terhadap suku-suku lain di Nusantara, seperti Sunda, Batak, Bugis, Minang, hingga Banjar. Demi menjaga keutuhan persatuan bangsa yang multietnis, dipilih Bahasa Melayu, bahasa ibu dari kelompok minoritas di Sumatra, sehingga seluruh etnis berada dalam posisi yang netral dan setara.
• Sifat Lingua Franca Bahasa Melayu
Bahasa Melayu Riau (pasar) telah berfungsi sebagai lingua franca atau bahasa perantara perdagangan, diplomasi, dan interaksi antarpulau di seluruh kepulauan Nusantara selama berabad-abad. Masyarakat antarsuku dari Sabang sampai Merauke telah terbiasa menggunakan Bahasa Melayu dalam bertransaksi tanpa perlu mempelajari struktur linguistik yang asing dari awal.
• Aksesibilitas dan Struktur Egaliter
Bahasa Jawa memiliki struktur hirarki sosial yang sangat kompleks melalui sistem unggah-ungguh basa, tingkat tutur yang terbagi atas Ngoko, Madya, dan Krama. Penggunaan kata harus disesuaikan secara ketat berdasarkan usia, status sosial, dan hubungan kekerabatan.
Bagi penutur non-Jawa, mempelajari tatanan unggah-ungguh ini membutuhkan proses yang rumit. Sebaliknya, Bahasa Melayu dinilai jauh lebih demokratis, egaliter, dan fleksibel untuk dipelajari oleh seluruh lapisan masyarakat modern.
Persebaran Penutur Bahasa Jawa di Indonesia dan Luar Negeri
Meski tidak dipilih sebagai struktur utama bahasa nasional, Bahasa Jawa memiliki kontribusi yang amat masif dalam memperkaya perbendaharaan kata Bahasa Indonesia modern.
Para ahli linguistik mencatat bahwa Bahasa Jawa merupakan salah satu penyumbang kosakata terbesar ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Berbagai istilah harian, idiom sosial, hingga tata bahasa birokrasi Indonesia dipengaruhi oleh konsep-konsep Jawa.
Kata-kata populer seperti bisa, butuh, lugu, gampang, priyayi, pegel, ampuh, bobot, hingga istilah pemerintahan seperti mancanegara, blusukan, wisma, pembina, dan wibawa seluruhnya diserap langsung dari Bahasa Jawa.
Bahasa Jawa memiliki penutur yang tidak hanya terkonsentrasi di wilayah Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Penyebaran penutur Bahasa Jawa membentang luas akibat gelombang migrasi, program transmigrasi nasional, hingga sejarah kolonialisme. Di dalam negeri, komunitas penutur Bahasa Jawa berkembang pesat di berbagai provinsi luar Jawa, terutama di Lampung, Sumatra Utara yang sering disebut etnis Pujakesuma atau Putra Jawa Kelahiran Sumatra, Kalimantan Timur, hingga Papua.
Sementara di ranah internasional, Bahasa Jawa membawa jejak diaspora yang unik:
• Suriname
Pada kurun waktu 1890–1939, pemerintah kolonial Belanda mengirimkan puluhan ribu tenaga kerja asal Jawa ke Suriname di Amerika Selatan. Hingga hari ini, Bahasa Jawa Suriname masih dituturkan oleh sekitar 14% populasi negara tersebut, mempertahankan dialek khas Jawa tempo dulu yang bercampur dengan bahasa Belanda dan Taki-Taki (Sranan Tongo).
• Malaysia
Komunitas keturunan Jawa di negara bagian Selangor, Johor, dan Perak tetap memelihara Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Meski dalam sistem penulisan Melayu Malaysia terdapat istilah Tulisan Jawi (aksara Arab-Melayu), masyarakat keturunan Jawa di sana tetap merujuk bahasa ibu mereka sebagai Bahasa Jawa (Baso Jowo).
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Viral Turis Italia Arogan, Alarm Neo Kolonialisme Bangkit? dan artikel lainnya di rubrik PLURAL




