Poin Penting:
- Lebih dari 18.000 pelamar bersaing untuk menjadi astronot NASA dengan persyaratan akademik, fisik, dan teknis yang sangat ketat
- Kandidat wajib memiliki gelar STEM, pengalaman profesional minimal tiga tahun atau 1.000 jam terbang sebagai pilot jet
- Astronot terpilih masih harus menjalani pelatihan intensif selama dua tahun dan belum tentu langsung mendapat kesempatan terbang ke luar angkasa
Bacaini.ID, KEDIRI – Menjadi astronot NASA merupakan impian banyak orang. 18.000 orang lebih melamar di setiap momen pendaftaran, dan berusaha mengikuti ketentuan kualifikasi oleh badan antariksa Amerika Serikat yang diketahui di atas standar profesional konvensional.
BACA JUGA: Aurora Muncul di Berbagai Negara, Ini Penjelasan Ilmiah Badai Matahari Januari 2026
Sebagai syarat dasar setiap pendaftar wajib memiliki gelar sarjana di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, Matematika) serta pengalaman kerja profesional minimal tiga tahun atau jam terbang sebagai pilot jet tempur, meski catatan akademis impresif tersebut hanyalah langkah awal.
NASA secara konsisten mencari kandidat yang memiliki keterampilan multidisiplin, mulai dari sertifikasi menyelam (scuba diving), pelatihan bertahan hidup di alam liar, hingga penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Rusia yang krusial untuk operasional di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Perjalanan sesungguhnya baru dimulai ketika seseorang terpilih. Para kandidat harus siap meninggalkan karier yang mapan untuk menjalani pelatihan dasar selama dua tahun. Fokus utama pelatihan ini mencakup simulasi spacewalk, pengoperasian robotika canggih, hingga koordinasi misi di pusat kontrol.
Fakta menunjukkan bahwa mayoritas waktu seorang astronot dihabiskan untuk pelatihan intensif dan peran teknis di darat, menegaskan bahwa misi di luar angkasa adalah puncak dari kerja keras kolektif yang berlangsung bertahun-tahun sebelum peluncuran dilakukan.
Mengapa Menjadi Astronot NASA Sangat Sulit?
Menjadi astronot membutuhkan dedikasi tinggi dan komitmen yang sangat besar. Para kandidat, yang umumnya terpilih saat berusia 30-an atau 40-an tahun, biasanya rela meninggalkan karier bergengsi demi kesempatan menjadi astronot, memulai kembali segalanya dari dasar. Masa pelatihan menuntut jam kerja yang panjang serta perjalanan dinas yang padat.
Selain itu, tidak ada jaminan pasti bahwa mereka akan benar-benar terbang ke luar angkasa. Meskipun demikian, menjadi astronot merupakan mimpi banyak orang. Menurut laporan Space, lebih dari 18.000 warga Amerika bersaing dalam tahap seleksi astronot NASA kali ini yang telah diumumkan pada Juni lalu. Mereka dijadwalkan mulai menjalani pelatihan dasar pada bulan Agustus.
NASA memiliki persyaratan ketat untuk menjadi astronot. Pekerjaan ini tidak hanya menuntut kondisi fisik yang prima, namun juga keterampilan teknis untuk melaksanakan tugas-tugas sulit di dalam pesawat antariksa atau stasiun luar angkasa yang jauh dari Bumi. Persyaratan dasar badan antariksa ini meliputi gelar sarjana di bidang teknik, ilmu biologi, ilmu fisika, ilmu komputer, atau matematika, yang diikuti dengan pengalaman profesional selama tiga tahun (atau 1.000 jam terbang sebagai pilot utama pesawat jet).
Para kandidat juga harus lulus pemeriksaan kesehatan fisik astronot NASA. Namun, terdapat banyak keterampilan lain yang dapat menjadi nilai tambah dalam proses seleksi, seperti kemampuan menyelam (scuba diving), pengalaman berkegiatan di alam bebas, pengalaman kepemimpinan, serta kemahiran berbahasa asing, terutama bahasa Rusia yang kini wajib dipelajari oleh semua astronot.
Sejarah Rekrutmen Astronot NASA dari Masa ke Masa
NASA merekrut astronot sejak tahun 1959 yang berjumlah tujuh orang untuk program Mercury mereka, dan ini menjadi angkatan pertama astronot NASA. Dan angakatan tahun ini merupakan angkatan ke-22. Angkatan-angkatan awal astronot sebagian besar berasal dari kalangan militer, khususnya pilot uji coba. Namun, seiring berkembangnya program NASA, kebutuhan beragam keahlian menjadi semakin meningkat.
Beberapa angkatan astronot NASA yang menjadi ‘sejarah’ perkembangan dunia astronot NASA diantaranya angkatan keempat pada tahun 1969 yang dikenal sebagai ‘The Scientist’. Angkatan ini memasukkan ahli geologi, Harrison J. Smith, dalam proyek Apollo 17. Angkatan kedelapan astronot NASA di tahun 1978 juga menciptakan sejarah dengan memasukkan kandidat beragam, termasuk mengizinkan perempuan ikut seleksi, orang keturunan Afrika-Amerika dan Asia-Amerika.
Angkatan ke-16 di tahun 1996 menjadi angkatan terbesar dengan terpilihnya 44 orang untuk ditugaskan dalam pembangunan Stasiun Luar Angkasa Internasional. Angkatan ke-21 di tahun 2013 menjadi sejarah sebagai angkatan pertama yang memiliki pembagian gender seimbang, 50:50.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Sutan Sjahrir: Tentara Kuat Penting, Tapi Jangan Terjebak Fasisme dan artikel lainnya di rubrik TEKNO & SAINS




