Poin Penting:
- Seorang pemimpin NU pernah meminta Sutan Sjahrir mengirim kader PSI setelah NU keluar dari Masyumi pada 1952
- Sjahrir menolak permintaan tersebut dan memilih fokus membangun PSI sebagai partai kader
- Meski gagal menjadi partai besar, Sjahrir dikenang sebagai salah satu pendiri bangsa yang konsisten memperjuangkan demokrasi
Bacaini.ID, JAKARTA – Nahdlatul Ulama (NU) pernah meminta bantuan Sutan Sjahrir untuk menempatkan kader-kader Partai Sosialis Indonesia (PSI) di dalam tubuh NU setelah ormas keagamaan tersebut keluar dari Masyumi dan memutuskan menjadi partai politik (1952).
Dalam artikel Souvenirs of Sjahrir (1969) Sjahrir mengatakan telah didatangi oleh salah seorang pemimpin NU. Ia ditanya, apakah bersedia menempatkan beberapa intelektual PSI untuk NU yang hampir tidak memiliki kader.
Sebagai parpol, saat itu NU belum terlihat bentuknya, namun kecenderungan demagogis dan koruptif di tubuh partai mulai nampak. Sebagai kekuatan oposisi, tawaran tersebut adalah peluang, khususnya untuk membuat pengaruh, namun Sjahrir menolak.
“Tetapi saya tidak dapat membantunya, orang-orang saya merasa terlalu bosan untuk berurusan dengan orang-orang pada tingkat itu,” kata Sjahrir dengan nada ringan seperti dikutip dari artikel Souvenirs of Sjahrir.
BACA JUGA: Soekarno: Kebahagiaan Wanita Ada dalam Masyarakat Sosialis
Sutan Sjahrir memilih membesarkan PSI sebagai partai kader yang didirikannya sejak 1948. Terlebih dirinya baru pulang dari tur propaganda politik di Bali, dan mendapat sambutan hangat di mana-mana. Pidatonya yang tenang dan tidak membakar emosi, didengarkan rakyat dengan sabar.
Semua pidatonya, kata dia adalah pelajaran. Karenanya selalu disampaikan dengan tenang tanpa membakar, yang itu berbeda dengan pidato Soekarno yang selalu membakar emosi massa.
PSI menjadi partai berpengaruh dalam kabinet pertama Indonesia pasca revolusi, termasuk memiliki kedekatan hubungan dengan sejumlah pimpinan militer. Namun kecuali di Bali kurang berhasil dalam pemilu 1955.
Di tangan Sjahrir PSI tetap menjadi partai pecahan hingga dilarang pada tahun 1960 karena menolak Demokrasi Terpimpin. Sebagai partai kader, elektabilitas PSI kalah dengan PNI, NU, Masyumi dan PKI.
Kendati demikian, Sutan Sjahrir adalah founding father yang memimpin bangsanya dengan wawasan, keberanian, dan keluhuran seorang manusia besar. Lahir 5 Maret 1909 di Padang Panjang Sumatera Barat, Sutan Sjahrir tutup usia pada 9 April 1966 di Zurich, Swiss dan dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta.
Sjahrir yang meninggalkan seorang istri dan dua orang anak, wafat di usia 57 tahun dalam pengasingan dengan status sebagai tawanan politik pemerintahan Soekarno.
Penulis: Solichan Arif
BACA JUGA: Surat Cinta Sutan Sjahrir Untuk Maria dan artikel lainnya di Rubrik REKAM JEJAK




