Poin Penting:
- Jawa Timur menempati peringkat ketiga nasional dengan 26,92% penduduk aktif mengikuti arisan
- DIY berada di posisi pertama (55,65%) dan Jawa Tengah kedua (30,8%), menunjukkan kuatnya budaya arisan di Pulau Jawa
- Arisan tetap menjadi sarana gotong royong, menabung bersama, dan kini berkembang dalam bentuk arisan online
Bacaini.ID, KEDIRI – Warga Jawa Timur tercatat sebagai salah satu masyarakat yang paling gemar mengikuti arisan di Indonesia. Berdasarkan data Statistik Sosial Budaya Indonesia 2024 yang dirilis BPS dan diolah Goodstats, Jawa Timur menempati posisi ketiga nasional dengan 26,92 persen penduduk aktif mengikuti arisan. Tradisi yang telah mengakar ini tidak hanya menjadi sarana silaturahmi, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme ekonomi berbasis gotong royong.
BACA JUGA: Pantangan Bulan Suro dalam Tradisi Masyarakat Jawa Timur
Sementara posisi teratas ditempati warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan disusul warga Jawa Tengah pada posisi kedua. Tradisi arisan seperti diketahui lazim terjadi di masyarakat Indonesia. Dari lingkungan terkecil, seperti keluarga, RT/RW, hingga lingkungan kerja, diadakan tak hanya sebatas aktifitas mengumpulkan uang dan sosialisasi.
Berikut lima provinsi teratas di Indonesia yang warganya memiliki hobi arisan:
- DI Yogyakarta, 55,65%
- Jawa Tengah, 30,8%
- Jawa Timur, 26,92%
- Jambi, 18,95%
- Riau, 15,52%
DI Yogyakarta memimpin sebagai daerah yang hobi arisan dengan 55,65% penduduknya menjadi anggota arisan aktif. Jawa Tengah tercatat 30,8% penduduknya aktif mengikuti arisan dan Jawa Timur 26,92% penduduknya yang aktif arisan. Tradisi arisan yang sudah mengakar dianggap sebagai indikator kuatnya nilai-nilai sosial khas masyarakat Jawa.
BACA JUGA: Historis Pluralisme di Jawa Timur: Dari Mataraman Hingga Pandalungan
Bukan hanya sekadar sebagai ajang silaturahmi, arisan sudah menjadi kebutuhan bersosial lintas generasi. Melalui arisan, masyarakat juga mendapatkan manfaat secara ekonomi seperti layaknya menabung atau bahkan seperti berhutang tanpa bunga apabila mendapatkan arisannya terlebih dahulu.
Peringkat keempat adalah Jambi dengan 18,95% penduduk yang aktif arisan, dan Riau ditempat kelima dengan 15,52% penduduk aktif arisan. Meskipun frekuensinya lebih rendah dari tiga provinsi lain yang berada di pulau Jawa, tradisi arisan di luar Jawa tetap hidup.
Perbedaan antar provinsi ini mencerminkan variasi faktor sosial ekonomi, tingkat urbanisasi, hingga kohesi sosial masyarakat. Di wilayah perkotaan besar misalnya, keterbatasan waktu dan mobilitas tinggi sering kali membuat warga kesulitan untuk berkumpul secara rutin, sehingga partisipasi arisan menurun.
Arisan juga dapat dilihat sebagai bentuk mekanisme keuangan informal yang berperan penting bagi masyarakat menengah ke bawah untuk melatih disiplin menabung dan mengelola keuangan secara kolektif. Kekinian, arisan juga hadir dalam beragam bentuk tak hanya mengandalkan lingkungan sosial, namun juga sudah merambah dunia digital dengan arisan online.
Meskipun memiliki risiko yang lebih tinggi dari arisan tradisional, arisan online tetap memiliki penggemar dari berbagai lapisan masyarakat. Berbagai macam bentuk arisan juga hadir dalam masyarakat seperti arisan emas, arisan lebaran, bahkan arisan Idul Adha.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Petani Hutan Blitar Desak Pemerintah Bereskan Hambatan Pengelolaan Lahan HKm dan artikel lainnya di Rubrik EKONOMI




