Poin Penting:
- Hari Janda Internasional diperingati setiap 23 Juni untuk meningkatkan perhatian terhadap perempuan yang kehilangan suami
- Peringatan ini berawal dari perjuangan The Loomba Foundation dan resmi ditetapkan PBB pada 2010
- Fokus utamanya adalah menghapus stigma, memperkuat perlindungan hukum, dan memperluas akses ekonomi bagi para janda
Bacaini.ID, KEDIRI – Hari Janda Internasional atau International Widows Day diperingati setiap 23 Juni sebagai momentum global untuk meningkatkan perhatian terhadap jutaan perempuan yang kehilangan suami. Peringatan yang ditetapkan PBB ini lahir dari perjuangan menghapus stigma, diskriminasi, serta mendorong perlindungan sosial dan ekonomi bagi para janda.
BACA JUGA: Guru P3K di Blitar Pilih Menjanda daripada Bersuami Mokondo
Di banyak negara, menjadi janda bukan hanya berarti kehilangan pasangan hidup. Tidak sedikit perempuan juga kehilangan sumber penghasilan, hak atas warisan, bahkan mengalami diskriminasi dan pengucilan sosial. Karena itu PBB menjadikan Hari Janda Internasional sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran global terhadap kelompok yang selama ini kerap luput dari perhatian, bahkan distigma negatif.
Hari Janda Internasional Berawal dari India
Penetapan Hari Janda Internasional tak lepas dari peran The Loomba Foundation, sebuah organisasi kemanusiaan yang didirikan Lord Raj Loomba di tahun 2005. Tanggal 23 Juni dipilih untuk mengenang hari ketika ibunya menjadi janda setelah sang ayah meninggal dunia di India.
Pengalaman pahit menjalani kehidupan bersama ibunya yang menjanda, mendorong Raj Loomba untuk memperjuangkan hak-hak para janda, terutama di negara berkembang yang masih memiliki stigma dan diskriminasi terhadap perempuan yang kehilangan suami.
Melalui kampanye yang dilakukan The Loomba Foundation, isu tersebut kemudian mendapat perhatian internasional hingga akhirnya Majelis Umum PBB secara resmi menetapkan 23 Juni sebagai Hari Janda Internasional pada tahun 2010.
BACA JUGA: Di Jombang 2.836 Janda Baru Selama 2020
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, terdapat ratusan juta janda di seluruh dunia. Banyak di antaranya hidup dalam kondisi rentan akibat kehilangan akses ekonomi dan perlindungan sosial.
UN Women mencatat bahwa di sejumlah negara, para janda masih menghadapi berbagai bentuk diskriminasi, mulai dari kehilangan hak waris, kesulitan memperoleh pekerjaan, hingga tekanan budaya yang membuat mereka tersisih dari masyarakat.
Di beberapa budaya, alih-alih mendapatkan perlindungan, janda masih dianggap sebagai pembawa sial, dikucilkan dari struktur sosial, hinga dipaksa melakukan ritual adat yang merendahkan martabat perempuan.
Dalam situasi konflik dan bencana, perempuan yang kehilangan pasangan juga berisiko lebih tinggi mengalami kemiskinan serta kesulitan mengakses pendidikan dan layanan kesehatan bagi anak-anak mereka.
Mengapa PBB Fokus pada Janda karena Kematian Pasangan
Meski dalam bahasa Indonesia istilah ‘janda’ lazim digunakan untuk perempuan yang tidak memiliki suami, baik karena perceraian maupun kematian pasangan, konteks Hari Janda Internasional lebih spesifik.
Peringatan ini ditujukan bagi perempuan yang menjadi janda akibat suaminya meninggal dunia atau widow dalam istilah bahasa Inggris. Fokus tersebut berkaitan dengan berbagai dampak sosial dan ekonomi yang sering muncul setelah kehilangan pasangan.
Tujuan utama peringatan Hari Janda Internasional oleh PBB adalah untuk menghapus stigma dan dikriminasi, melindungi dari kekerasan dan eksploitasi, serta menjadi pendorong untuk mengentaskan kemiskinan yang terjadi pada para perempuan yang suaminya telah meninggal dunia. PBB juga mendorong negara-negara di dunia untuk mendata jumlah janda secara akurat agar kebijakan bantuan sosial, fasilitas kesehatan dan jaminan hari tua bisa tersalurkan tepat sasaran.
Karena itu, Hari Janda Internasional juga menjadi pengingat bahwa perempuan yang kehilangan pasangan berhak memperoleh perlindungan hukum, akses pendidikan, kesempatan ekonomi, dan perlakuan yang setara.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Penyelundupan 624 Pil Koplo di Lapas Blitar Terbongkar Lewat Kemaluan dan artikel lainnya di Rubrik BACA




