Bacaini.ID, KEDIRI – Aksi sekelompok mahasiswa yang membubarkan forum dialog di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menuai kritik banyak pihak. Aksi itu dinilai menjatuhkan gerakan mahasiswa lain yang berjalan dengan benar.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menyayangkan aksi pembubaran tersebut. Menurutnya, aksi itu justru menjatuhkan upaya perlawanan yang sedang dilakukan para mahasiswa.
“Kalau tidak setuju mereka bisa menggelar diskusi tandingan, bisa di tempat lain, atau bahkan di samping lokasi tersebut,” kata Adi dalam wawancara di stasiun televisi Beritasatu.
Dosen Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan, gerakan mahasiswa saat ini terpolarisasi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang mengkritik pemerintah namun tetap membuka ruang komunikasi yang konstruktif. Sedangkan kelompok lain adalah mahasiswa yang tidak membuka komunikasi sama sekali.
“Mereka menganggap setiap kebijakan pemerintah selalu dicurigai akan menyengsarakan rakyat. Case closed, tak ada dialog, tak ada diskusi,” kata Adi.
Lebih jauh ia mengatakan, pemerintahan Prabowo Subianto sebenarnya sudah mendengar apa yang diinginkan masyarakat. Penangkapan tiga pejabat Badan Gizi Nasional yang diikuti refocusing terhadap anggaran MBG menjadi bentuk respon positif pemerintah. Sebab hal itu sudah lama menjadi keresahan dan tuntutan masyarakat.
Adi menambahkan, memang tidak semua persoalan yang terjadi dan berdampak kepada masyarakat merupakan produk kebijakan pemerintah. Ada hal lain yang memang dipengaruhi geopolitik di luar negeri, seperti perang di Timur Tengah yang memicu stabilitas pasokan BBM ke berbagai negara.
Situasi ini yang kemudian direspon pemerintah dengan mengurangi alokasi anggaran kelompok BBM non subsidi, seperti Pertamax. “Mungkin pemerintah berfikir kelompok pengguna BBM ini adalah menengah atas yang masih mampu menjangkau,” kata Adi.
Sementara BBM subsidi seperti Pertalite tidak diusik sama sekali dan dipastikan tidak akan mengalami kenaikan harga hingga akhir tahun 2026.
“Hal seperti ini yang sulit difahami oleh masyarakat sehingga memicu sentimen negatif kepada pemerintah,” terangnya.
Ke depan, ia berharap ruang-ruang komunikasi dan diskusi untuk bertugar gagasan bisa berlangsung dengan baik. Adi juga terus mendorong mahasiswa menyuarakan aspirasi masyarakat dengan cara yang produktif.
Penulis: Hari Tri Wasono




