Poin Penting:
- Bulan Suro dimaknai sebagai waktu refleksi dan pengendalian diri oleh sebagian masyarakat Jawa
- Pantangan yang dijalankan antara lain menghindari hajatan, tirakat, dan menjaga sikap serta ucapan
- Budayawan menilai Suro bukan bulan sial, melainkan momentum introspeksi
Bacaini.ID, KEDIRI – Bulan Suro atau Muharram dalam kalender Hijriah memiliki makna yang ‘istimewa’ bagi sebagian besar masyarakat Jawa, khususnya penganut penghayat dan kejawen di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sering juga dianggap bulan yang sakral, hening, penuh laku batin dan karenanya ada berbagai pantangan yang ditaati.
Baca Juga:
Berikut beberapa pantangan terkait bulan Suro yang sering dijumpai di masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah, baik masyarakat dengan kebudayaan agraris maupun kebudayaan pesisir, baik pantai utara maupun pantai selatan.
Menghindari hajatan besar atau pesta meriah
Di sebagian tradisi Jawa, bulan Suro dianggap kurang tepat untuk menggelar hajat pernikahan, pindahan rumah, khitanan, atau membuka usaha baru. Alasannya lebih ke penghormatan pada suasana prihatin dan introspeksi, bukan larangan agama.
Tidak bersikap berlebihan atau foya-foya
Ada anggapan bulan Suro merupakan momentum yang tepat untuk menahan diri dari kesenangan berlebihan, foya-foya, pesta, mabuk, atau perilaku yang dianggap mengotori batin.
Tirakat: mengurangi makan, tidur, dan hiburan
Selama bulan Suro sebagian pelaku laku kejawen menjalani puasa mutih, puasa ngrowot, tidak keluar rumah malam tertentu, atau memperbanyak semedi dan doa. Bentuknya berbeda-beda dan biasanya berdasarkan guru spiritual atau tradisi keluarga.
Menjaga ucapan dan emosi
Bertengkar, berkata kasar, menyebar konflik, atau membuat keributan selama Suro sering dianggap tidak baik karena tujuan utamanya adalah membersihkan diri lahir batin.
Menghindari bepergian atau aktivitas tertentu pada malam 1 Suro
Di beberapa daerah ada tradisi tidak keluar rumah kecuali untuk ritual tertentu, sementara di tempat lain justru ada kirab, ziarah, atau tirakatan.
Tidak sembarangan melakukan ritual mistik
Ada kepercayaan bahwa Suro adalah waktu yang “kuat secara batin”, sehingga ritual pencarian kesaktian, pesugihan, atau praktik yang dianggap tidak bertanggung jawab justru dihindari atau dilakukan dengan aturan ketat.
Ziarah dan penghormatan leluhur
Selama bulan Suro sebagian komunitas memperbanyak doa, nyekar, dan refleksi terhadap asal-usul keluarga.
Baca Juga:
- 935 Personel Polres Trenggalek Disiagakan Selama Bulan Suro 2026, Cegah Gesekan Pesilat
- Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno dan Resmikan Istana Gebang di Blitar 14–15 Juni 2026
Sementara banyak budayawan Jawa menjelaskan makna asli dari Suro adalah lebih mendekatkan diri pada pengendalian diri, evaluasi hidup dan laku prihatin, bukan bulan sial. Karenanya tidak semua percaya pada pantangan yang sama.
Apakah tradisi pantangan Bulan Suro masih dijalankan di daerah Anda? Bagikan pengalaman dan pandangan Anda di kolom komentar.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif




