Poin Penting:
- Seller Keluhkan Potongan Marketplace
- Banyak Pelaku UMKM Mulai Beralih
- Platform Lokal Jadi Alternatif
Bacaini.ID, KEDIRI – Biaya layanan dan potongan marketplace yang semakin tinggi menjadi sorotan para seller online. Di tengah tekanan terhadap margin keuntungan, sejumlah pelaku UMKM mulai melirik platform lokal, toko online mandiri, dan social commerce sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada marketplace besar.
Baca Juga:
Sejak beberapa bulan terakhir para seller di platform besar seperti Shopee, Tokopedia, TikTok Shop menyoroti akumulasi potongan yang kian agresif. Jika dihitung akumulatif total potongan total yang harus ditanggung seller berada di kisaran 15% hingga 30%, bahkan ada yang mengaku terpotong hingga 50% dari harga jual.
Bagi para pelaku usaha, kenaikan biaya layanan tidak dapat mereka hindari karena marketplace besar terbukti mampu menawarkan trafik pembeli yang massif, namun di sisi lain margin keuntungan bersih para seller terus tergerus.
Beberapa analis ekonomi digital menilai, perubahan ini sebagai konsekuensi logis dari berakhirnya era burning money (bakar uang). Platform raksasa kini dituntut untuk mengejar profitabilitas dan memperkuat keuangan mereka setelah sebelumnya jor-joran beriklan dan membangun branding.
Banyak pengusaha baik kecil maupun besar perlahan mulai berpindah dengan lebih fokus pada penjulan D2C (Direct-to-Consumer), berdagang langsung kepada konsumen secara mandiri, melalui akun media sosial, membangun website khusus, maupun memanfaatkan marketplace lokal.
Berikut tiga jalur alternatif lokal bagi seller untuk menghindari biaya layanan berlapis:
Platform SaaS (Sofware as a Service): Toko Online Mandiri
Melalui model ini, seller bisa membuat website resmi sendiri dengan mudah tanpa perlu keahlian coding. Daya tarik utamanya adalah tidak adanya sistem komisi persentase per transaksi. Seller hanya perlu membayar biaya langganan bulanan yang tetap, serta biaya gerbang pembayaran (payment gateway) yang sangat kecil, berkisar antara 2% hingga 3%.
Semua data digital pelanggan sepenuhnya menjadi milik seller, bukan menjadi milik platform pihak ketiga. Dua platform populer di Indonesia yang menyediakan layanan ini adalah Mekari Desty dan Sirclo.
Marketplace Hub dan Marketplace Niche Lokal
Platform marketplace lokal yang sedang naik daun seiring kegelisahan seller pada tingginya biaya layanan marketplace besar, toco.id. Platform ini mengusung jargon yang berani: 0% komisi penjualan, bebas biaya admin.
Baca Juga:
- Wabup Blitar Optimistis Harga Telur Bisa Distabilkan, Peternak Rakyat Keluhkan Harga Anjlok
- Bagikan 1 Juta Telur, Gaya Peternak Blitar Hadapi Harga Telur Anjlok
Platform ini menggabungkan model transaksi aman, sistem kurir otomatis dan Rekening Bersama (Rekber) khas e-commerce modern, namun dikemas dalam ekosistem iklan baris berbasis komunitas yang membebaskan seller dari potongan biaya transaksi harian.
Untuk penjual yang lebih spesifik, platform lokal yang bisa dicoba adalah Ralali (ralali.com). Platform ini khhusus untuk pasar B2B (Business-to-Business) yang menyasar produsen, distributor atau supplier grosir untuk transaksi volume besar, bukan ritel satuan.
Social Commerce dan Chat Commerce Lokal
Banyak transaksi lokal yang sebenarnya berakar dari komunikasi personal. Mengoptimalkan jalur ini tentu memangkas banyak biaya yang biasanya ada dalam marketplace. Yang paling populer digunakan oleh seller Indonesia adalah WhatsApp.
Sebagai pendukung, memanfaatkan media sosial sebagai etalase produk juga banyak dilakukan oleh seller. Seringkali, seller di TikTok mengarahkan pembelinya untuk bertransaksi melalui nomor WhatsApp untuk menghindari membengkaknya harga jual.
Kini, instagram pun juga lebih ramah seller dengan menampilkan ‘keranjang’ pada postingan seperti yang telah dilakukan oleh TikTok.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif




