Poin Penting:
- Studi Harvard menemukan orang optimis memiliki risiko demensia 15 persen lebih rendah
- Optimisme membantu mengurangi stres, peradangan kronis, dan menjaga kesehatan otak
- Sikap optimis dapat dilatih lewat pola pikir positif, fokus pada hal yang bisa dikendalikan, dan rasa syukur
Bacaini.ID, KEDIRI – Sebuah studi terbaru dari Harvard University menemukan bahwa orang dengan tingkat optimisme lebih tinggi memiliki risiko demensia 15 persen lebih rendah. Temuan ini memberi harapan baru dalam upaya pencegahan kepikunan dan penurunan fungsi otak pada lansia.
Baca Juga:
Menurut WHO, setiap tiga detik terdapat satu orang di dunia yang terdiagnosis mengalami demensia. Angka ini setara dengan hampir sepuluh juta kasus baru setiap tahunnya. Studi terbaru ini tentu menumbuhkan harapan baru bagi pencegahan kasus-kasus baru pada lansia di seluruh dunia.
Para ahli mengatakan optimisme bermanfaat bagi kesehatan otak dan menjelaskan bagaimana menumbuhkan pola pikir yang lebih positif. Para peneliti menemukan tingkat optimisme yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko demensia 15 persen lebih rendah.
Optimisme didefinisikan sebagai kemampuan atau kecenderungan memberikan pandangan positif pada tindakan dan peristiwa, atau untuk mengantisipasi hasil terbaik yang mungkin terjadi. Sikap optimis biasanya disertai dengan mentalitas ‘bisa melakukan’, yang sangat berharga seiring bertambahnya usia. Berbanding terbalik dengan optimisme, pesimisme membawa risiko demensia yang lebih besar.
Cara Melatih Sikap Optimis dalam Kehidupan Sehari-hari
Menumbuhkan sikap optimisme merupakan keterampilan mental yang bisa dilatih lewat kebiasaan sehari-hari. Bersikap optimistis bukan berarti mengecilkan atau bahkan mengabaikan permasalahan, namun memiliki harapan dan perasaan positif dapat mengendalikan semua permasalahan dengan baik dan benar.
Baca Juga:
- Bhikkhu Thudong Ziarah ke Makam Gus Dur di Tebuireng Jombang, Bawa Pesan Damai
- Samanhudi Menang Ketua KONI Kota Blitar: Dilantik Monggo Ora Monggo
Berikut cara yang bisa dilakukan untuk melatih dan menumbuhkan sikap optimistis:
- Ubah cara berbicara pada diri sendiri menjadi lebih positif. Identifikasi pikiran sendiri apakah fakta atau hanya ketakutan tersembunyi. Misalnya dengan mengganti pemikiran: ‘Saya pasti gagal’ dengan ‘Saya akan mencoba hingga berhasil’.
- Fokus pada hal yang bisa dikendalikan. Petakan masalah, pisahkan antara situasi yang bisa dikendalikan dan yang diluar kendali diri sendiri. Seseorang tidak bisa mengendalikan perilaku orang lain yang membuat sakit hati, atau mengendalikan kemalangan yang menimpa diri sendiri seperti sakit, kematian orang terkasih dan lainnya. Yang bisa dikendalikan adalah respon dari situasi yang diluar kendali tersebut.
- Latih rasa syukur dengan mencatat hal baik yang terjadi, dan menggeser sudut pandang dengan melihat hal positif yang menyertai peristiwa atau situasi yang dianggap
negatif.
Manfaat Optimisme bagi Kesehatan Otak dan Mental
Para ahli dalam studi tersebut mengatakan bahwa risiko demensia tidak pernah hanya terkait dengan satu faktor. Demensia merupakan konsekuensi dari serangkaian risiko. Bukan hanya kurangnya optimisme yang menciptakan risiko, namun juga segala sesuatu yang mengganggu optimisme.
Optimisme dikaitkan dengan banyak manfaat. Orang optimis cenderung mengelola stres dengan lebih baik. Stres menyebabkan peningkatan kadar kortisol secara kronis, yang diketahui dapat merusak hipokampus, pusat memori otak dan salah satu bagian otak pertama yang rusak pada demensia.
Orang optimis juga memiliki tingkat peradangan kronis dan hormon stres yang lebih rendah , dan lebih cenderung berolahraga , makan dengan baik, dan cenderung memiliki gaya hidup sehat.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





