Poin Penting:
- Perhiasan red ruby Maia Estianty di pernikahan El Rumi ditaksir bernilai hingga Rp6 miliar dan viral di media sosial
- Ruby merah merupakan mineral korundum bernilai tinggi yang populer dalam dunia fashion dan gemologi
- Dalam tradisi Nusantara, merah delima dipercaya sebagai mustika yang memiliki makna spiritual, mitos, dan kekuatan simbolik
Bacaini.ID, KEDIRI – Perhiasan red ruby yang dikenakan Maia Estianty dalam pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju pada Minggu (26/4) menjadi sorotan publik. Selain ditaksir bernilai hingga Rp6 miliar, batu merah tersebut juga memunculkan kembali perbincangan tentang makna merah delima dalam tradisi Nusantara yang sarat mitos dan filosofi.
Baca Juga:
Ruby merah dalam dunia gemologi merupakan mineral korundum bernilai tinggi yang populer dengan warna merahnya yang dihasilkan unsur kromium. Dalam dunia fashion, sebagai perhiasan, ruby merah dikenal luas sebagai salah satu permata paling berharga di dunia yang nilainya tidak kalah dari berlian.
Dalam tradisi Nusantara, batu merah seperti ruby ini lebih dari sekadar perhiasan. Berbeda dengan ruby yang ditambang dan diperjual belikan sebagai perhiasan prestisius, batu ruby merah atau merah delima dalam budaya Nusantara kerap dikaitkan dengan mustika: benda yang dipercaya memiliki makna dan ‘energi’ tertentu.
Merah Delima dalam Tradisi Nusantara
Di Nusantara, batu ruby merah lebih dikenal dengan sebutan Merah Delima atau Mirah Delima. Mitos yang menyertai batu ini kental dengan unsur mistis, dan diyakini ia bisa ‘memilih’ sendiri pemiliknya.
Sebagian orang percaya air yang dicelupi Merah Delima memiliki khasiat penyembuhan untuk berbagai penyakit, mulai dari sakir fisik hingga gangguan spiritual. Ini sejalan dengan ajaran Ayurveda di India dan terapi kristal modern yang memanfaatkan ruby merah untuk kesehatan.
Baca Juga:
Berbeda dengan ruby merah sebagai batu permata yang ditambang dan digunakan untuk perhiasan, merah delima dalam tradisi Nusantara sering dikaitkan dengan dunia spiritual. Merah delima, dianggap sebagai ‘mustika’ yang lazimnya diperoleh dari hasil laku spiritual.
Untuk mendapatkannya, bisa dari beberapa cara seperti menjalani tirakat, menemukan atau mencarinya di tempat yang dianggap wingit, atau bahkan muncul secara tak terduga. Merah delima diyakini hadir ketika seseorang dianggap siap secara batin.
Dalam filosofi Jawa, warna merah berhubungan dengan unsur api dan darah, dua hal yang melambangkan vitalitas, kekuatan dan keberanian. Karenanya, batu berwarna merah termasuk ruby ini, kemudian diasosiasikan dengan kewibawaan, perlindungan dan kekuatan batin.
Berikut beberapa mitos tentang merah delima:
- Kemampuan batu merah delima untuk mengubah warna air menjadi merah saat dicelupkan batu ini. Konon, merah delima yang asli dan memiliki tuah, mampu membuat warna air pada tujuh gelas yang dijajarkan menjadi merah, hanya dengan cara mencelupkan batu merah delima pada gelas pertama.
- Merah delima merupakan benda pusaka yang ‘memilih’ sendiri pemiliknya. Batu ini diyakini bisa hadir sendiri pada orang yang sedang ‘laku’ spiritual maupun hilang sendiri jika pemiliknya tidak lagi dianggap layak atau melakukan pelanggaran moral.
- Salah satu mitos yang paling populer berhubungan dengan tokoh adalah legenda urban yang menyebutkan bahwa Presiden Soekarno memiliki cincin merah delima yang sangat sakti. Batu tersebut konon memberi aura kewibawaan luar biasa dan perlindungan. Namun, dalam legenda tersebut diceritakan bahwa merah delima Bung Karno ‘pergi’ sesaat sebelum beliau lengser dari kekuasaan.
- Batu merah delima sering dianggap sebagai jimat perlindungan dari serangan fisik maupun ilmu hitam. Pemiliknya dipercaya akan memiliki firasat kuat terhadap bahaya yang akan datang.
- Batu merah delima juga diyakini memiliki khasiat penyembuhan.
Meskipun secara fisik dan sains merah delima merupakan batu ruby (mineral korundum), dalam budaya lokal ia tetap dipandang sebagai simbol status, kekuatan spiritual dan keberuntungan yang legendaris.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





