Poin Penting:
- Ube kini menjadi tren global menggantikan popularitas matcha
- Memiliki rasa manis, creamy dan lebih mudah diterima lidah
- Warna ungu alami membuatnya viral di media sosial
Bacaini.ID, KEDIRI – Matcha mungkin belum benar-benar hilang, tapi posisinya mulai digeser. Kini, warna ungu khas ube hadir sebagai tren baru yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mendominasi tampilan estetik di media sosial.
Matcha dalam beberapa tahun terakhir ini seolah sulit tergoyahkan. Dari kafe estetik hingga dapur rumahan, bubuk teh hijau asal Jepang tersebut menjelma menjadi gaya hidup sehat yang juga ‘instagramable’. Namun kini tren Macha telah bergeser.
Baca Juga:
Kini para pecinta rasa mulai beralih pada rasa baru yang ramah di lidah dengan visual berbeda namun tetap estetik, yaitu ube. Ube merupakan ubi ungu khas Filipina dan bukanlah hal baru dalam dunia kuliner. Ube juga dikenal sebagai purple yam. Di negara asalnya, bahan ini sudah lama digunakan dalam berbagai dessert tradisional seperti ube halaya (selai manis ube) hingga es krim.
Kini ube tidak lagi menjadi sekadar penganan lokal, namun telah menjelma menjadi tren kuliner global. Ube telah masuk ke kafe-kafe modern di seluruh dunia sebagai minuman kekinian, hingga lini dessert premium berbagai negara, termasuk Indonesia.
Rantai kopi raksasa seperti Starbucks dan Costa Coffee bahkan sudah mulai meluncurkan menu minuman ube di berbagai negara secara masif tahun ini. Fenomena ini bukan sekadar soal warna atau rasa. Pergeseran dari matcha ke ube mencerminkan perubahan selera konsumen urban, dari sebelumnya mencari rasa autentik dan pahit khas teh, menjadi lebih terbuka pada rasa manis, creamy dan comforting.
Kenapa Ube Mudah Diterima Banyak Orang?
Ube memiliki profil rasa yang mudah diterima konsumen dari berbagai latar belakang, seperti matcha. Jika matcha memiliki aftertaste pahit khas teh hijau, ube hadir dengan rasa yang lebih ringan dan familiar.
Baca Juga:
- Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah
- Peternak Rakyat di Persimpangan Perjanjian Dagang
Ube sering dideskripsikan sebagai kombinasi vanila, kacang dan sedikit sentuhan kelapa. Rasa ini cenderung bisa diterima di lidah banyak orang dengan berbagai latar budaya, termasuk mereka yang tidak terbiasa dengan rasa pahit teh. Semakin luas penerimaan rasa, semakin besar peluang produk untuk menjadi viral.
Tekstur ube yang berasal dari umbi, memberikan sensasi lebih kental dan creamy. Tekstur ini cocok untuk berbagai olahan seperti latte, dessert, hingga isian pastry. Dibandingkan matcha yang lebih ringan dan cair, ube memberi pilihan yang lebih lengkap: lebih ‘mengenyangkan’ buat konsumen, dan lebih ramah diolah menjadi berbagai produk bagi produsen.
Rasa saja tak cukup membuat ‘barang baru’ menjadi viral dan digemari secara global. Di era media sosial, tampilan visual menjadi nilai penting. Warna ungu pekat ube, yang berasal dari pigmen antosianin, memberi tampilan kontras, cerah, menarik tanpa perlu tambahan pewarna buatan.
Seperti matcha yang terlihat menarik dengan warna hijau segarnya, ube juga membuat produk menjadi lebih estetik dengan warna ungunya yang kuat dan terlihat indah di foto maupun video.
Dari Dessert Tradisional ke Menu Kafe Modern
Transformasi ube dari bahan tradisional menjadi ikon baru kafe modern terjadi cukup cepat. Jika ube dulu identik dengan bakpao atau es krim klasik, kini ube hadir dalam berbagai bentuk yang lebih eksperimental.
Baca Juga:
Beberapa inovasi ube yang kini banyak ditemukan di kafe-kafe modern misalnya: ube latte, ube cheesecake, ube croissant maupun donat dan juga ube oatmeal. Selain rasa dan visual, faktor kesehatan juga ikut mendongkrak popularitas ube. Ubi ungu diketahui kaya akan antosianin, senyawa antioksidan yang juga ditemukan pada blueberry dan anggur ungu.
Ube juga mengandung vitamin C, serat dan karbohidrat kompleks yang dapat menjadi sumber energi. Namun, penting dicatat bahwa banyak produk ube modern yang mengandung gula tambahan dan krim dalam jumlah yang relatif tinggi. Artinya, label ‘sehat’ tetap perlu dilihat secara proporsional, tergantung cara pengolahannya.
Perbedaan Ube, Ubi Ungu dan Taro
Beberapa orang masih tidak memahami perbedaan antara ube, ubi ungu biasa dan taro. Karena sama-sama menghasilkan produk yang berwarna ungu. Secara biologis, ube dan ubi ungu yang juga ada di Indonesia, memang ‘bersaudara’. Namun secara karakteristik, dua umbi ini memiliki perbedaan signifikan.
Ube yang merupakan tanaman asli Filipina, memiliki tekstur lembut, creamy dan agak lengket dan rasanya manis mirip perpaduan vanila dan kelapa. Sementara ubi ungu teksturnya cenderung padat, berpasir dan kering. Rasa manis pada ubi ungu lebih berat khas manis umbi-umbian.
Selain itu, warna ungu pada ube lebih awet ketika diolah, sementara pada ubi ungu warnanya cenderung pudar saat diolah. Sedangkan taro yang juga dalam berbagai produk juga identik dengan warna ungu, merupakan talas. Warna ungu pada produk taro, berasal dari pewarna tambahan. Talas alami memiliki warna umbi putih atau krem dengan bintik-bintik ungu kecil.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





