Poin Penting:
- Demokrasi Dinilai Kehilangan Arah karena Pancasila Tak Lagi Jadi Landasan
- Menguatnya Politik Transaksional dan Dominasi Kapital
- Seruan Reaktualisasi Pancasila dan Peran Generasi Muda
Bacaini.ID, BLITAR — Praktik demokrasi di Indonesia pada umumnya dan Blitar Raya pada khususnya telah kehilangan arah dan nilai. Pancasila tidak lagi dipakai sebagai landasan berpolitik oleh para pelaku-pelakunya.
Dalil Moh Trijanto, aktivis anti korupsi dan juga Direktur Revolutionary Law Firm menghangatkan forum Diskusi Kelas Bung Karno di Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno di Kota Blitar pada Jumat malam (24/4/2026).
Baca Juga:
Apa dampaknya? Ruang politik, kata Trijanto disesaki oleh kepentingan transaksional para pemain politik yang mengedepankan kekuatan kapital. Panggung idealisme tergusur oleh kepentingan pragmatis.
Fenomena itu jadi pemandangan yang lazim dalam setiap perhelatan pesta demokrasi. Terlihat kasat mata mulai dari tingkat terbawah, yakni pemilihan kepala desa (kades) hingga pemilihan kepala negara.
“Ketika Pancasila tidak dijadikan kompas, maka ruang politik akan mudah diisi oleh kepentingan dan transaksi,” tegas Trijanto yang juga Ketua Umum IKA Unisba Blitar.
Mengambil tempat di Istana Gebang, forum Diskusi Kelas Bung Karno Jumat malam (24/4/2026) tersebut mengusung tema “Reaktualisasi Nilai Pancasila dalam Menjawab Tantangan Demokrasi”.
Baca Juga:
Menurut pandangan Moh Trijanto, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol formal belaka, tapi harus direvitalisasi sebagai sistem etika dalam praktik politik dan kebijakan publik.
Mengacu pemikiran Bung Karno, Pancasila harus menjadi pedoman utama dalam mewujudkan keadilan sosial. Untuk itu sistem politik harus dibenahi secara kompeherensif, termasuk rekrutmen politik yang sudah seharusnya membasiskan pada nilai.
Trijanto berharap dalam Pemilu 2029 optimisme demokrasi tidak hanya berhenti pada slogan. Pemilu bersih akan terwujud jika komitmen untuk mengembalikan nilai Pancasila dalam praktik politik bisa diwujudkan.
Dalam hal ini Gen Z dan Gen Alpha yang memiliki posisi strategis menentukan arah demokrasi diharapkan tidak menjadi pemilih pasif. Mereka juga harus memahami Pancasila sebagai kesadaran hidup, bukan sekadar hafalan.
“Harapan itu tetap ada, tetapi harus dibarengi langkah konkrit untuk menghidupkan kembali Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.
Joko Pramono, Kepala Sekolah Kelas Bung Karno mengatakan forum diskusi yang digelar menjadi pengingat bahwa arah bangsa mulai kabur. Ditegaskannya bahwa Indonesia tidak kekurangan konsep, tapi butuh meneguhkan ulang nilai-nilai Pancasila.
“Tanpa Pancasila sebagai kompas, demokrasi berisiko kehilangan makna dan arah serta berubah menjadi arena kepentingan pragmatis semata. Bukan sarana mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat,” ujarnya.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif





