Bacaini.ID, PURWOKERTO – Aktivitas Gunung Slamet di Jawa Tengah menunjukkan peningkatan signifikan setelah suhu kawah melonjak hingga 460 derajat Celcius. Kondisi ini diperkuat dengan meningkatnya gempa berfrekuensi rendah yang mengindikasikan pergerakan magma menuju permukaan.
Baca Juga:
Suhu kawah Gunung Slamet diketahui meningkat dari sebelumnya 280 derajat Celcius naik 418 derajat Celcius dan terbaru 460 derajat Celcius. Begitu juga dengan gempa berfrekuensi rendah (low frequency) juga meningkat, mengindikasikan pergerakan magma dari bagian dalam menuju ke kedalaman lebih dangkal.
Kepala PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) Priatin Hadi Wijaya mengatakan peningkatan aktivitas Gunung Slamet ini perlu diwaspadai pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.
Keberadaan Gunung Slamet diketahui meliputi lima Kabupaten, yakni Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal dan Brebes.
“Sehingga hasil pemantauan kami perlu dikenalkan kepada para pemangku kepentingan agar ada kesiapsiagaan bersama,” kata Priatin Hadi Wijaya di acara Sosialisasi Mitigasi Bencana Geologi di Wilayah Gunung Api Slamet di Purwokerto kepada wartawan Kamis (23/4/2026).
Sosialisasi terkait perkembangan aktivitas Gunung Slamet menjadi langkah penting yang perlu diketahui pemerintah daerah, BPBD dan tokoh masyarakat, agar respon yang diambil lebih terarah.
Adanya kenaikan suhu dan frekuensi kegempaan menunjukkan adanya dinamika di dalam tubuh gunung api. “Sehingga perlu kewaspadaan bersama,” jelas Priatin Hadi Wijaya.
Dalam memantau deformasi tubuh gunung PVMBG mengombinasikan metode visual dan instrumental, seperti kamera pemantau (CCTV), seismograf, tiltmeter, dan Electronic Distance Measurement (EDM).
Saat ini status Gunung Slamet berada pada Level II atau Waspada. Jika aktivitas terus berlanjut dan tim ahli memberi rekomendasi, PVMBG dapat mengevaluasi status yang ada saat ini.
“Jika memungkinkan terjadi kenaikan aktivitas dan direkomendasikan oleh tim ahli maka evaluasi hingga peningkatan status harus segera dilakukan,” terang Priatin.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan sosialisasi menjadi dasar penting bagi daerah dalam memperkuat mitigasi bencana, khususnya di lima Kabupaten.
Prinsipnya bagaimana menyelamatkan masyarakat sejak dini apabila terjadi erupsi. Bergas juga mengatakan rencana kontingensi Gunung Slamet telah disusun sejak 2021, namun perlu diperbarui menyesuaikan perkembangan terbaru.
Di antaranya jumlah penduduk dan potensi jalur aliran material vulkanik. Pengalaman penanganan banjir bandang di Pemalang dan Purbalingga awal tahun 2026 dapat menjadi pembelajaran dalam manajemen kebencanaan.
Kemudian juga penekanan pentingnya desa tangguh bencana sebagai garda terdepan menghadapi erupsi. “Hingga saat ini status Gunung Slamet masih berada pada Level II atau Waspada,” jelasnya.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif




