Bacaini.ID, KEDIRI – Andong merah bukan sekadar tanaman hias yang tumbuh di pekarangan atau pemakaman. Dalam kepercayaan masyarakat Nusantara, tanaman ini dipercaya sebagai penghubung antara dunia sekala (nyata) dan niskala (tak kasat mata).
Dengan nama ilmiah Cordyline fruticosa, andong memiliki makna spiritual mendalam dan digunakan dalam berbagai tradisi adat sebagai penanda, pelindung, hingga media komunikasi dengan leluhur.
Ada banyak sebutan untuk bunga Andong di berbagai daerah. Masyarakat Sunda lebih mengenalnya sebagai Hanjuang. Sementara di Kalimantan, masyarakat Dayak mengenalnya sebagai Sabang atau Sawang.
Baca Juga:
- Tarian Mistis Nusantara, Ritual Sakral Penghubung Dunia Gaib
- 4 Ritual Minta Hujan Masyarakat Nusantara: Ada Darah dan Tarian
- Sejarah Nyirih, Tradisi Kuno Nusantara yang Coba Dibunuh Kolonial Belanda
Fungsi Bunga Andong Dalam Masyarakat Adat Nusantara
Beragam nama bunga ini berbanding lurus dengan fungsinya. Bunga Andong dikenal masyarakat tradisional sebagai ‘pagar’ gaib, penanda batas, dan media komunikasi dengan para leluhur.
Bahkan, bunga ini juga diyakini memiliki khasiat obat yang digunakan secara turun temurun untuk menyembuhkan penyakit tertentu.
Kata Andong dalam filosofi Jawa sering dihubungkan dengan kata ‘Dong’ yang berarti paham, mengerti, atau terkabul. Karenanya, tanaman ini banyak digunakan sebagai penanda batas tanah, makam atau tempat-tempat yang dianggap sakral atau penting.
Sementara pada masyarakat Sunda, dalam beberapa literasi nama Hanjuang memiliki makna: mun atos dihanju, bakal diruang. Artinya, kalau sudah sakaratul maut, maka bakal di kubur.
Makna ini menjadi pengingat agar tidak menggeser patok tanah atau hak orang lain karena ketika sudah meninggal, manusia tidak membawa harta bendanya. Secara umum, Andong dimanfaatkan oleh berbagai masyarakat adat Nusantara sebagai penanda batas tanah atau patok.
Andong dan Spiritualitas di Tanah Jawa
Bagi masyarakat Jawa, kehadiran tanaman Andong di area pemakaman adalah pemandangan yang sangat lazim.
Pemilihan tanaman ini bukan sekedar faktor estetika semata. Ada alasan praktis dan spiritual di baliknya:
• Nisan Alami yang Abadi
Sebelum penggunaan batu nisan marmer atau semen menjadi umum, Andong ditanam di posisi kepala dan kaki jenazah.
Karena sifatnya yang panjang umur, ia menjadi penanda bagi anak cucu agar tetap bisa menemukan makam leluhur mereka meski puluhan tahun telah berlalu.
• Filosofi Warna Merah
Merah dalam simbolisme Jawa sering dikaitkan dengan getih (darah) atau keberanian hidup. Menanamnya di makam adalah doa agar semangat sang leluhur tetap hidup di hati keturunannya.
• Tanaman ‘Wingit’
Karena kedekatannya dengan area makam, Andong sering dianggap memiliki aura wingit (keramat). Ia dipercaya sebagai tanaman yang disenangi oleh ruh baik, sehingga keberadaannya dianggap bisa menenangkan jiwa yang telah berpulang.
Sawang di Kalimantan, Pagar Maya Suku Dayak
Di Kalimantan, tanaman ini disebut Sabang atau Sawang. Tanaman ini memegang peranan yang lebih dinamis dalam upacara adat Suku Dayak. Jika di Jawa ia cenderung statis sebagai penanda, di Kalimantan, Sabang adalah alat komunikasi aktif dalam ritual.
• Upacara Pagar Maya
Masyarakat Dayak percaya bahwa penyakit dan nasib buruk bisa datang dari gangguan roh jahat yang melintasi batas perkampungan. Untuk mencegah hal ini, dilakukan upacara Pagar Maya.
Daun Sabang merah ditanam atau diikatkan di gerbang desa atau sudut-sudut rumah. Secara spiritual, tanaman ini dianggap sebagai ‘filter’ yang menyaring energi negatif agar tidak masuk ke ruang hidup manusia.
• Peran dalam Upacara Tiwah
Dalam ritual Tiwah (upacara pengantaran tulang belulang leluhur menuju Lewu Tatau atau surga dalam kepercayaan Kaharingan), Sabang adalah elemen wajib. Ia diletakkan di dekat Sandung (rumah kecil penyimpanan tulang) sebagai simbol bahwa tempat tersebut adalah suci dan terlindungi.
Daunnya juga digunakan oleh pemimpin ritual untuk memercikkan air suci (tirta) kepada keluarga yang ditinggalkan, sebagai simbol pembersihan diri dari duka dan pengaruh buruk kematian.
Tradisi Andong Merah di Berbagai Daerah
Pengaruh spiritual tanaman ini melampaui batas wilayah. Tak hanya di Pulau Jawa dan Kalimantan. Di Bali, Andong yang lazim disebut Endong, sering digunakan sebagai kelengkapan sesaji atau banten.
Warnanya yang merah mewakili Dewa Brahma (manifestasi Tuhan sebagai pencipta), memberikan keseimbangan warna dalam ritual keagamaan Hindu Bali.
Bahkan di wilayah Asia Tenggara lainnya, Tailan misalnya, tanaman ini juga dihormati sebagai tanaman keberuntungan. Andong dengan nama lokalnya, dikaitkan dengan kemakmuran dan perlindungan rumah tangga.
Masyarakat adat Minahasa, Sulawesi Utara, juga menggunakan Tawa’ang, nama lokal tanaman ini, untuk ritual adat selain juga sebagai batas wilayah.
Di beberapa tempat lain seperti pada masyarakat Batak, Andong yang disebut Kalinjuhang, juga dijadikan sebagai penolak bala atau aura negatif dan ditanam halaman depan rumah maupun di kebun. Tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai media penyembuh dari kerasukan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





