Bacaini.ID, SIDOARJO – Sebuah permintaan maaf akhirnya terucap dari Sekretaris Daerah (Sekda) Sidoarjo, Dr. Fenny Apridawati, SKM., M.Kes. Perempuan kelahiran Surabaya, 13 April 1968 ini viral setelah video dan foto buka puasa bersama (bukber) jajaran Pemkab Sidoarjo dengan tema Bollywood menuai badai kritik di media sosial.
Pesta yang digelar mewah di Surabaya itu dinilai tidak sensitif dan kontras dengan keluhan warga Sidoarjo, terutama soal kondisi jalan rusak yang telah memakan korban jiwa.
baca ini: Keterlaluan Pemkab Sidoarjo Membuat Acara Bukber Mewah Tema Bollywood
Permintaan maaf itu menjadi babak baru dalam sorotan publik terhadap Fenny, seorang birokrat karier yang kini menduduki posisi puncak ASN di Sidoarjo sebagai Sekda. Namun, siapakah sebenarnya sosok di balik busana saree glamor yang memicu amarah warganet itu?
Ironi di Mahabarata Palace
Jumat, 6 Maret 2026. Di Mahabarata Palace, Graha Unesa, Surabaya, puluhan pejabat eselon II dan camat se-Kabupaten Sidoarjo berkumpul untuk acara Rapat Koordinasi dan Buka Puasa Bersama.
Namun, ini bukan sekadar rapat biasa. Ruangan disulap dengan dekorasi megah, pencahayaan glamor, dan alunan musik khas India. Para pejabat, termasuk Fenny Apridawati, tampil mentereng dalam balutan busana saree warna-warni, seolah menjadi bintang dalam sebuah film Bollywood.
Foto dan video kemewahan itu dengan cepat menyebar di media sosial pada Kamis, 12 Maret 2026, dipicu oleh unggahan akun-akun lokal seperti @sambatdarjo. Konten tersebut langsung menjadi bahan perbincangan, namun bukan pujian yang datang, melainkan hujatan.
Warganet membandingkan ironi tersebut dengan kondisi nyata di Sidoarjo. “Wes a, diterusno ta gak urip nang darjo, iki pejabat e koyok ngene (Sudahlah, mau diteruskan atau tidak hidup di Sidoarjo, pejabatnya saja seperti ini),” tulis seorang warganet, menyuarakan kepasrahan.
Kritik itu beralasan. Beberapa hari sebelum video itu viral, publik Sidoarjo tengah menyoroti insiden kecelakaan di Jalan Lingkar Timur Km 12 yang diduga akibat jalan berlubang dan menelan korban jiwa. Kontras antara penderitaan warga di jalanan dengan kemewahan pejabat di ruang pesta menjadi pemantik utama kemarahan publik.
Permohonan Maaf dan Klarifikasi
Menghadapi badai kritik, Fenny Apridawati akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Fenny menegaskan bahwa acara tersebut murni inisiatif internal dan sama sekali tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Acara tersebut murni merupakan inisiatif internal yang sama sekali tidak membebani dana APBD,” ujar Fenny dalam klarifikasinya. Ia menyebut dana berasal dari sumber pribadi dan gotong royong para pejabat yang hadir.
Tentu saja penjelasan itu tidak serta merta diterima publik. Dari pengamatan interior acara, menu makanan, dan sewa tempat acara tersebut, dipastikan acara itu bukan bukber yang murah. Apalagi patungan para ASN seperti yang disampaikan Fenny.
Karena itu aparat penegak hukum didesak menyelidiki Fenny, terlebih ia pernah menjadi saksi di KPK saat Bupati Sidoarjo menjadi tersangka KPK.
Sosok Fenny Apridawati
Terlepas dari kontroversi ini, Fenny Apridawati adalah seorang birokrat dengan rekam jejak panjang di lingkungan Pemkab Sidoarjo. Wanita kelahiran Surabaya, 13 April 1968, ini merupakan lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga yang kemudian melanjutkan studi magister di almamater yang sama.
Sebelum dilantik menjadi Sekda Sidoarjo pada awal 2024, kariernya menanjak melalui berbagai posisi strategis, seperti Kepala Dinas Kesehatan periode 2020 – 2023, Kepala Dinas Tenaga Kerja periode 2019 – 2020, dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Di luar birokrasi, Fenny juga tercatat sebagai dosen di Unair dan UNESA. Ia adalah istri dari Drs. H. Pipik Ruswandi, seorang pengusaha yang bergerak di berbagai bidang konstruksi, kesehatan yang terafilisasi dengan PT Prasasti Dwimitra, Eks Rekanan/Karyawan Roche, termasuk konstruksi dan properti yang terafiliasi dengan PT Bali Griya, PT Ecolo Daya Enegeri.
Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua orang anak, seorang perwira polisi lulusan Akpol, dan seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Unair.
Kontroversi pesta Bollywood ini bukanlah kali pertama Fenny menjadi sorotan. Sebagai pejabat publik dengan kekayaan yang dilaporkan dalam LHKPN mencapai Rp 6,5 Miliar (per 2024), gaya hidup keluarganya kerap menjadi perbincangan.
Analisis OSINT sebelumnya juga menyoroti potensi konflik kepentingan terkait jabatan dan bisnis suaminya, serta anomali dalam pelaporan harta kekayaannya.
Berdasarkan penelusuran Bacaini.ID ke portal LHKPN, laporan Fenny cukup memiliki anomali, dari kurun waktu 2019-sekarang tidak nampak signifikan, padahal harga properti, tanah pasti rata-rata naik signifikan setiap tahunnya. Apakah ini salah satu indikasi Fenny tidak jujur?
Kini, permintaan maaf telah disampaikan. Namun, insiden “Sidoarjo Rasa Bollywood” ini telah menjadi pengingat keras bagi para pejabat publik tentang pentingnya menjaga empati dan sensitivitas sosial.
Di era digital yang serba terbuka, setiap tindakan pimpinan akan selalu berada di bawah pengawasan ketat warganya sendiri.
Penulis: Danny Wibisono
Editor: Hari Tri Wasono





