• Login
Bacaini.id
Saturday, February 21, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Mengapa Pengeluaran Ramadan Justru Naik? Ini Penjelasan Inflasi Musiman dan Efek THR

Inflasi musiman, tren belanja online, hingga tradisi mudik menjadi faktor utama naiknya pengeluaran selama Ramadan

ditulis oleh Editor
21 February 2026 06:05
Durasi baca: 4 menit
Suasana belanja takjil saat Ramadan

Lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Lebaran kerap dipicu inflasi musiman, THR, serta tradisi mudik dan silaturahmi (Foto/AI/Bacaini)

Bacaini.ID, KEDIRI – Ramadan seharusnya membuat pengeluaran rumah tangga menurun. Sebab frekuensi makan berkurang, aktivitas nongkrong siang hari menurun, bahkan sebagian orang mengurangi perjalanan dan hiburan.

Namun realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda: pengeluaran justru meningkat selama bulan puasa, terutama menjelang Idul Fitri.

Fenomena ini bukan sekadar persepsi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten menunjukkan adanya inflasi musiman pada periode Ramadan dan Lebaran, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan transportasi.

Baca Juga:

  • Konsekuensi Mokel dalam Puasa Ramadan, Begini Hukum dan Cara Menebusnya
  • Hukum Mandi Besar Ramadan dan Bacaan Niatnya, Wajib atau Hanya Sunnah?

Dalam rilis pertumbuhan ekonomi, periode yang bertepatan dengan Ramadan dan Idul Fitri hampir selalu menunjukkan lonjakan konsumsi rumah tangga sebagai faktor musiman.

Lalu, mengapa saat umat Islam menahan makan dan minum sepanjang hari, belanja justru melonjak?

Inflasi Musiman yang Berulang Setiap Tahun

BPS hampir setiap tahun mencatat kenaikan harga sejumlah komoditas menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Beras, daging ayam ras, telur ayam, cabai, bawang, hingga gula pasir menjadi komoditas yang paling sering mengalami tekanan harga akibat lonjakan permintaan.

Dalam pola tahunan, Ramadan-Idul Fitri memang menjadi momen konsumsi tertinggi masyarakat Indonesia.

Permintaan meningkat secara serentak dalam waktu singkat, sementara pasokan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan. Akibatnya, harga terdorong naik.

Artinya, meskipun volume belanja tidak bertambah signifikan, nilai uang yang dikeluarkan tetap meningkat karena faktor harga.

Dari Tiga Kali Makan ke ‘Balas Dendam’ Berbuka

Secara teori, makan dua kali sehari, sahur dan berbuka, seharusnya mengurangi pengeluaran konsumsi. Namun praktiknya berbeda.

Takjil beragam, minuman manis, gorengan, hidangan utama, hingga camilan malam sering kali membuat konsumsi kalori justru meningkat dibanding hari biasa.

Secara psikologis, pembatasan sepanjang hari dapat memicu dorongan kompensasi saat waktu berbuka tiba.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Appetite, pembatasan asupan sementara dapat meningkatkan kecenderungan konsumsi impulsif ketika kesempatan makan kembali tersedia. Konsep ini sering disebut sebagai ‘compensatory eating’.

Tak heran, belanja bahan makanan selama Ramadan sering kali lebih banyak dan lebih variatif dibanding bulan biasa.

Budaya Sosial yang Mendorong Konsumsi

Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga musim silaturahmi. Undangan buka bersama di restoran, hotel, dan kafe meningkat tajam.

Banyak tempat makan bahkan menjadikan Ramadan sebagai periode puncak penjualan tahunan. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dalam beberapa kesempatan menyebut Ramadan dan Lebaran sebagai masa ‘high season’ sektor ritel.

Permintaan pakaian, makanan kemasan, parsel, hingga kebutuhan rumah tangga meningkat signifikan. Pengeluaran bergeser dari konsumsi rutin harian menjadi konsumsi sosial dan simbolik.

Efek THR dan Psikologi ‘Uang Tambahan’

Tunjangan Hari Raya (THR) yang cair menjelang Idul Fitri turut memengaruhi perilaku konsumsi. Dalam ekonomi perilaku, dana tambahan seperti bonus atau THR disebut sebagai ‘windfall income’, pendapatan yang dianggap uang ekstra.

Penelitian dalam Journal of Behavioral Decision Making menunjukkan bahwa individu cenderung lebih mudah membelanjakan pendapatan tak terduga dibanding gaji rutin bulanan. Secara psikologis, uang tersebut terasa ‘lebih longgar’ untuk digunakan.

Akibatnya, belanja pakaian baru, gadget, hampers, perabot rumah, hingga tiket mudik meningkat drastis.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ramadan juga menjadi musim belanja online. E-commerce menghadirkan promo bertajuk ‘Ramadan Sale’, ‘Flash Sale Sahur’, hingga diskon tengah malam.

Bank Indonesia dalam laporan sistem pembayaran mencatat tren peningkatan transaksi digital selama periode Ramadan dan Idul Fitri. Pembayaran melalui QRIS dan dompet digital juga menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Kemudahan transaksi membuat konsumsi semakin impulsif. Tanpa perlu keluar rumah, pembelian dapat dilakukan dalam hitungan menit.

Mudik dan Beban Tambahan Rumah Tangga

Selain konsumsi makanan dan belanja pakaian, Ramadan juga identik dengan tradisi mudik. Biaya transportasi, oleh-oleh, hingga kebutuhan tambahan di kampung halaman menjadi komponen pengeluaran besar.

Kementerian Perhubungan hampir setiap tahun mencatat jutaan orang melakukan perjalanan mudik menjelang Lebaran. Lonjakan mobilitas ini tentu berdampak pada pengeluaran transportasi dan logistik rumah tangga.

Ramadan mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri. Namun dalam praktik sosial-ekonomi, bulan ini juga menjadi momen ekspresi kebersamaan, identitas, dan status sosial.

Konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan biologis, namun juga kebutuhan sosial. Dari sinilah, kontradiksi muncul: puasa sebagai simbol pengendalian diri, tetapi konsumsi justru meningkat.

Secara makroekonomi, peningkatan konsumsi Ramadan justru menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Namun dari sisi rumah tangga, lonjakan pengeluaran tanpa perencanaan dapat memicu tekanan finansial setelah Lebaran.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: pengeluaran ramadan
Via: ramadan
Tags: belanja onlinebppsekonomi indonesiainflasilebaranmudikramadanTHR
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Program rumah subsidi. Foto: istimewa

650.000 Nasabah PNM Mekaar di Lampung Berpeluang Akses Program Rumah Subsidi

Peserta BPJS PBI JK di Tulungagung mengurus reaktivasi kepesertaan setelah dinonaktifkan Februari 2026

18 Ribu Peserta BPJS PBI Tulungagung Mendadak Nonaktif, Baru 77 Orang Ajukan Reaktivasi

Suasana belanja takjil saat Ramadan

Mengapa Pengeluaran Ramadan Justru Naik? Ini Penjelasan Inflasi Musiman dan Efek THR

  • Ilustrasi penggeledahan toko emas oleh Bareskrim. Foto: bacaini/AI

    Jejak Pencucian Uang Rp 25,8 Triliun di Balik Penggeledahan Toko Emas Semar Nganjuk

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Blitar Tabrak KDMP, Tolak Alih Fungsi SDN Tlogo 2 karena Masih Dipakai 182 Siswa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Viral Worldwide Latina Belt, Benarkah Orang Indonesia Berkarakter Latin? Ini Penjelasannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Istri Kapolres Bima dan Seorang Polwan Positif Narkoba, Tidak Ditetapkan Tersangka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembangunan Koperasi Merah Putih di Trenggalek Diusulkan di Kawasan Hutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In