Bacaini.ID, KEDIRI – Tidak semua kesuksesan selalu disambut dengan apresiasi. Dalam psikologi sosial terdapat fenomena yang dikenal sebagai Tall Poppy Syndrome, yaitu kecenderungan masyarakat membenci atau menjatuhkan orang yang dianggap terlalu menonjol atau sukses. Fenomena ini banyak dikaitkan dengan rasa iri, budaya kolektivitas, hingga teori perbandingan sosial, dan memiliki kemiripan dengan Crab Mentality.
BACA JUGA: Viral Murid Tawar Guru Rp1 Juta untuk Kunci Jawaban, Penyebab Remaja Tidak Sopan Terungkap
Istilah ini berasal dari metafora ladang bunga popi, yang dipakai untuk menggambarkan kecenderungan alami masyarakat memotong tangkai bunga tumbuh paling tinggi agar tingginya kembali sejajar dengan kelompoknya. Akar metafora ini pertama kali dicatat oleh sejarawan Romawi kuno, Livy mengenai raja terakhir Roma yang tiran, Tarquinius Superbus (Tarquin yang Sombong).
Sang raja memotong kepala bunga-bunga popi paling tinggi di kebunnya dengan menggunakan tongkat. Dilakukan untuk memberi pesan pada kota jajahan yang memberontak: singkirkan atau bunuh orang-orang paling berpengaruh dan menonjol agar kekuasaannya tidak terancam.
Penggunaan istilah Tall Poppy pertama kali di media massa berlangsung tahun 1923, dalam rubrik surat pembaca koran Sydney Morning Herald, Australia. Istilah ini digunakan oleh masyarakat Australia untuk mengkritisi politisi atau orang kaya yang dianggap terlalu sombong atau pamer kemakmuran.
Penambahan kata ‘syndrome’ baru melekat dan diakui secara global setelah buku ‘Tall Poppies’ karya Susan Mitchell terbit tahun 1984. Buku tersebut membahas perempuan-perempuan sukses di Australia kerap dijatuhkan dan dikritik oleh lingkungan sekitarnya hanya karena mereka menonjol.
Meledaknya buku ini membuat istilah ‘Tall Poppy Syndrome’ resmi menjadi istilah psikologi sosial yang digunakan di seluruh dunia.
Mengapa Orang Sukses Justru Dibenci?
Dalam realitas sosial, ‘pemotongan’ ini berbentuk kritik tanpa dasar, gosip sinis, pengucilan, hingga sabotase reputasi terhadap individu yang dianggap terlalu menonjol di atas rata-rata kelompoknya. Di Indonesia, fenomena ini sangat erat kaitannya dengan kultur komunal dan budaya ketimuran. Kultur yang menjunjung tinggi kolektivitas sering kali secara tidak sengaja memupuk penolakan terhadap individu yang mengejar individualitas ekstrem atau tampil terlalu dominan.
Karakteristik utama Tall Poppy Syndrome terjadi bukan karena orang sukses yang dibenci lingkungan sosialnya, berbuat salah. Penolakan sosial terjadi murni karena mereka lebih unggul. Fenomena ini bersumber dari teori perbandingan sosial yang memicu rasa tidak aman, cemburu pada kesuksesan orang lain. Penelitian global menunjukkan bahwa sindrom ini lebih sering menyasar perempuan yang kerap di beri label ‘sombong’ atas pencapaian yang sama pada laki-laki yang membuat dipuji ‘ambisius’.
Selain itu, secara psikologis terdapat kultur konformitas yang ketat. Ada aturan sosial tidak tertulis bahwa setiap anggota kelompok harus berada di tingkat yang relatif sama. Seseorang yang melompat terlalu jauh ke depan dianggap mengancam harmoni, merusak dinamika kelompok, atau memicu standar baru yang membuat anggota kelompok lain harus bekerja lebih keras. ‘Tall Poppy Syndrome’ bukan tentang kesalahan orang-orang yang berhasil, melainkan tentang ketidaknyamanan orang lain yang melihat keberhasilan tersebut sebagai cermin kegagalan mereka sendiri.
Perbedaan Tall Poppy Syndrome dan Crab Mentality
Secara esensi, Tall Poppy Syndrome dan Crab Mentality merupakan dua fenomena sosial yang sangat mirip karena sama-sama didorong oleh rasa iri, tidak aman, dan keengganan melihat orang lain lebih sukses. Namun ada perbedaan mendasar dari kedua istilah ini.
Jika pada Tall Poppy Syndrome dilakukan pada orang-orang yang telah sukses terlebih dahulu di lingkungan sosial atau profesional yang lebih luas, Crab Mentality justru dilakukan oleh kelompok sendiri, misal pada lingkaran pertemanan, keluarga atau komunitas kecil lainnya. Perilaku toksik yang menghalangi seseorang untuk menjadi lebih sukses.
Di Indonesia, kedua perilaku ini sangat sering dijumpai karena budaya yang kental dengan kolektivitas, mengutamakan kebersamaan. Ketika ada satu orang yang terlalu menonjol atau sukses sendirian, lingkungan sosial sering kali menganggap orang tersebut ‘pamer’, ‘lupa daratan’, atau ‘asik sendiri’. Akibatnya, muncul tindakan penyeimbang yang negatif seperti gosip, sindiran, atau sabotase kerja untuk menjatuhkannya kembali.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Warga Kabupaten Kediri Gemar Wisata, Peringkat 6 di Jatim dan artikel lainnya di rubrik BACAGAYA




