• Login
Bacaini.id
Sunday, July 19, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Tall Poppy Syndrome: Saat Orang Sukses Justru Dibenci Lingkungan

Fenomena psikologi sosial yang membuat keberhasilan seseorang justru memicu iri, kritik, hingga pengucilan dari lingkungan sekitarnya

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
19 July 2026 06:05
Durasi baca: 3 menit
Ilustrasi Tall Poppy Syndrome ketika orang sukses menjadi sasaran iri, kritik, dan pengucilan di lingkungan sosial

Tall Poppy Syndrome menggambarkan kecenderungan sosial menjatuhkan orang yang dianggap terlalu menonjol atau lebih sukses dibanding kelompoknya (foto AI)

Bacaini.ID, KEDIRI – Tidak semua kesuksesan selalu disambut dengan apresiasi. Dalam psikologi sosial terdapat fenomena yang dikenal sebagai Tall Poppy Syndrome, yaitu kecenderungan masyarakat membenci atau menjatuhkan orang yang dianggap terlalu menonjol atau sukses. Fenomena ini banyak dikaitkan dengan rasa iri, budaya kolektivitas, hingga teori perbandingan sosial, dan memiliki kemiripan dengan Crab Mentality.

BACA JUGA: Viral Murid Tawar Guru Rp1 Juta untuk Kunci Jawaban, Penyebab Remaja Tidak Sopan Terungkap

Istilah ini berasal dari metafora ladang bunga popi, yang dipakai untuk menggambarkan kecenderungan alami masyarakat memotong tangkai bunga tumbuh paling tinggi agar tingginya kembali sejajar dengan kelompoknya. Akar metafora ini pertama kali dicatat oleh sejarawan Romawi kuno, Livy mengenai raja terakhir Roma yang tiran, Tarquinius Superbus (Tarquin yang Sombong).

Sang raja memotong kepala bunga-bunga popi paling tinggi di kebunnya dengan menggunakan tongkat. Dilakukan untuk memberi pesan pada kota jajahan yang memberontak: singkirkan atau bunuh orang-orang paling berpengaruh dan menonjol agar kekuasaannya tidak terancam.

Penggunaan istilah Tall Poppy pertama kali di media massa berlangsung tahun 1923, dalam rubrik surat pembaca koran Sydney Morning Herald, Australia. Istilah ini digunakan oleh masyarakat Australia untuk mengkritisi politisi atau orang kaya yang dianggap terlalu sombong atau pamer kemakmuran.

Penambahan kata ‘syndrome’ baru melekat dan diakui secara global setelah buku ‘Tall Poppies’ karya Susan Mitchell terbit tahun 1984. Buku tersebut membahas perempuan-perempuan sukses di Australia kerap dijatuhkan dan dikritik oleh lingkungan sekitarnya hanya karena mereka menonjol.

Meledaknya buku ini membuat istilah ‘Tall Poppy Syndrome’ resmi menjadi istilah psikologi sosial yang digunakan di seluruh dunia.

Mengapa Orang Sukses Justru Dibenci?

Dalam realitas sosial, ‘pemotongan’ ini berbentuk kritik tanpa dasar, gosip sinis, pengucilan, hingga sabotase reputasi terhadap individu yang dianggap terlalu menonjol di atas rata-rata kelompoknya. Di Indonesia, fenomena ini sangat erat kaitannya dengan kultur komunal dan budaya ketimuran. Kultur yang menjunjung tinggi kolektivitas sering kali secara tidak sengaja memupuk penolakan terhadap individu yang mengejar individualitas ekstrem atau tampil terlalu dominan.

Karakteristik utama Tall Poppy Syndrome terjadi bukan karena orang sukses yang dibenci lingkungan sosialnya, berbuat salah. Penolakan sosial terjadi murni karena mereka lebih unggul. Fenomena ini bersumber dari teori perbandingan sosial yang memicu rasa tidak aman, cemburu pada kesuksesan orang lain. Penelitian global menunjukkan bahwa sindrom ini lebih sering menyasar perempuan yang kerap di beri label ‘sombong’ atas pencapaian yang sama pada laki-laki yang membuat dipuji ‘ambisius’.

Selain itu, secara psikologis terdapat kultur konformitas yang ketat. Ada aturan sosial tidak tertulis bahwa setiap anggota kelompok harus berada di tingkat yang relatif sama. Seseorang yang melompat terlalu jauh ke depan dianggap mengancam harmoni, merusak dinamika kelompok, atau memicu standar baru yang membuat anggota kelompok lain harus bekerja lebih keras. ‘Tall Poppy Syndrome’ bukan tentang kesalahan orang-orang yang berhasil, melainkan tentang ketidaknyamanan orang lain yang melihat keberhasilan tersebut sebagai cermin kegagalan mereka sendiri.

Perbedaan Tall Poppy Syndrome dan Crab Mentality

Secara esensi, Tall Poppy Syndrome dan Crab Mentality merupakan dua fenomena sosial yang sangat mirip karena sama-sama didorong oleh rasa iri, tidak aman, dan keengganan melihat orang lain lebih sukses. Namun ada perbedaan mendasar dari kedua istilah ini.

Jika pada Tall Poppy Syndrome dilakukan pada orang-orang yang telah sukses terlebih dahulu di lingkungan sosial atau profesional yang lebih luas, Crab Mentality justru dilakukan oleh kelompok sendiri, misal pada lingkaran pertemanan, keluarga atau komunitas kecil lainnya. Perilaku toksik yang menghalangi seseorang untuk menjadi lebih sukses.

Di Indonesia, kedua perilaku ini sangat sering dijumpai karena budaya yang kental dengan kolektivitas, mengutamakan kebersamaan. Ketika ada satu orang yang terlalu menonjol atau sukses sendirian, lingkungan sosial sering kali menganggap orang tersebut ‘pamer’, ‘lupa daratan’, atau ‘asik sendiri’. Akibatnya, muncul tindakan penyeimbang yang negatif seperti gosip, sindiran, atau sabotase kerja untuk menjatuhkannya kembali.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

BACA JUGA: Warga Kabupaten Kediri Gemar Wisata, Peringkat 6 di Jatim dan artikel lainnya di rubrik BACAGAYA

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: crab mentalitypsikologipsikologi sosialTall Poppy Syndrome
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi Tall Poppy Syndrome ketika orang sukses menjadi sasaran iri, kritik, dan pengucilan di lingkungan sosial

Tall Poppy Syndrome: Saat Orang Sukses Justru Dibenci Lingkungan

Potret alun-alun Kota Kediri. Foto: sampaikanradio.wixsite.com @kediringangenin

Rugikan Banyak Warga, DPRD Desak Pemkot Kediri Tegas Selesaikan Proyek Alun-alun

KH Zaimuddin Wijaya As'ad atau Gus Zuem menyampaikan harapan terhadap Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU ke-35 di Jombang

Kiai di Jombang Harap Ketum PBNU Terpilih Bawa NU Bermartabat dan Berkah

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In