• Login
Bacaini.id
Wednesday, February 11, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Tarian Mistis Nusantara, Ritual Sakral Penghubung Dunia Gaib

Gerak tubuh, mantra, dan trans penari dipercaya membuka jalur komunikasi dengan dunia gaib

ditulis oleh Editor
5 February 2026 09:30
Durasi baca: 4 menit
Ilustrasi tarian mistis Nusantara dalam ritual sakral adat yang dipercaya menghubungkan manusia dengan dunia gaib

Ilustrasi tarian mistis Nusantara yang berfungsi sebagai ritual sakral penghubung manusia dan dunia gaib dalam kepercayaan adat (foto ilustrasi/ist)

Bacaini.ID, KEDIRI — Di berbagai penjuru Nusantara, tarian tidak selalu sekadar ekspresi seni atau hiburan. Dalam sejumlah tradisi, gerak tubuh, irama musik, dan pola ritual justru menjadi medium penghubung antara manusia dan dunia tak kasatmata.

Dari desa terpencil hingga komunitas adat yang masih teguh memegang kepercayaan leluhur, tarian-tarian tertentu diyakini memiliki fungsi spiritual: sebagai medium pengobat, memecahkan masalah, perlindungan, hingga menjaga keseimbangan alam.

Tarian mistis ini biasanya tidak bisa dipentaskan sembarangan. Ada syarat khusus yang harus dipenuhi, mulai dari waktu pelaksanaan, sesaji, mantra, hingga peran tokoh adat atau pawang yang memimpin jalannya ritual.

Baca Juga:

  • 4 Ritual Minta Hujan Masyarakat Nusantara: Ada Darah dan Tarian
  • Ragam Black Magic Nusantara: Ngeri, di Luar Nalar Tapi Nyata

Dalam praktiknya, penari kerap memasuki kondisi trans atau kesurupan, dipercaya sebagai tanda kehadiran makhluk gaib yang dipanggil.

Setiap tarian menyimpan cerita tentang relasi manusia Nusantara dengan alam dan dunia spiritual yang dipercaya telah berlangsung turun-temurun.

Berikut tarian-tarian mistis Nusantara yang masih dikenal hingga kini, dan apa makna ritual di balik setiap geraknya. 

Tari Salai Jin, Maluku Utara

Tarian etnik suku asli Ternate. Pada masa lalu, tarian ini menjadi medium berkomunikasi dengan makhluk gaib. Tujuannya, meminta bantuan berbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat, baik secara individu maupun kolektif. Masalah tentang kesehatan atau penyakit, yang paling banyak menjadi alasan digelarnya tarian mistis ini.

Tari Salai Jin dilakukan secara berkelompok, bisa laki-laki semua, perempuan semua, maupun campuran. Yang pasti, jumlah penari harus genap untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama ritual dilakukan.

Dalam ritual tari ini, terdapat kemenyan yang dibakar, seikat daun palem kering yang disebut woka oleh warga lokal, dan gerakan tarian khusus yang pada akhirnya membuat penari mengalami trans, kerasukan.

Para penarinya juga bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah orang pilihan yang dianggap memiliki kekuatan untuk menangkal hal-hal gaib. 

Tari Rentak Bulian, Riau

Tarian sakral dari Suku Talang Mamak di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Tarian ini kental dengan nuansa magis karena berakar dari upacara Bulean, yaitu ritual pengobatan tradisional untuk mengusir roh jahat atau menyembuhkan penyakit.

Tarian ini dipimpin oleh seorang dukun besar yang disebut Kumantan. Dalam pertunjukannya, Kumantan sering kali memasuki kondisi trans atau kesurupan untuk berkomunikasi dengan makhluk halus (bunian).

Ciri khas utamanya adalah gerakan kaki yang monoton namun kuat, disebut merentak: menghentak-hentakkan kaki ke tanah secara ritmis.

Dalam ritual tarian ini, digunakan sesaji seperti kemenyan, perapian atau obor, beras kunyit, hingga pelepah pinang (mayang). Saat ini, untuk kebutuhan pertunjukan, obor asli terkadang digantikan dengan lilin.

Penari berjumlah ganjil: 7 atau 9 orang penari dewasa, ditambah satu orang Kumantan, pemimpin ritual tari.

Tari Lummense, Sulawesi Tenggara

Tari Lummense, sering juga ditulis Lumense, merupakan tarian tradisional ritual dari suku Moronene di Pulau Kabaena (Tokotu’a), Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Tarian ini berakar dari ritual kepercayaan terhadap roh halus untuk tujuan tolak bala dan penyembuhan.

Secara historis, tarian ini merupakan bagian dari ritual pe-olia, yaitu upacara penyembahan atau penghormatan kepada roh halus penguasa negeri yang disebut Kowonuano.

Lazimnya tarian ini digunakan untuk mengusir wabah penyakit, bencana alam, atau kemalangan yang menimpa masyarakat, sebagai tolak bala.

Salah satu ciri khas mistisnya adalah aksi menebas batang pohon pisang menggunakan parang tajam di akhir tarian.

Batang pisang ini menjadi simbol bencana atau roh jahat yang harus disingkirkan agar negeri menjadi bersih kembali.

Tari Lummense biasanya ditarikan oleh sekelompok wanita, sering kali berjumlah 12 orang, yang dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok berperan sebagai pengusir, dan kelompok lainnya berperan sebagai yang diusir atau dilindungi.

Tarian-tarian tersebut pada awalnya merupakan tarian mistis dengan melibatkan makhluk gaib untuk kepentingan ritual tertentu. Namun kini seiring perkembangan zaman, tarian-tarian ini menjadi pertunjukan budaya yang seringkali digelar untuk menyambut tamu, perayaan dan lainnya. 

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: tarian nusantara
Via: mistis
Tags: bacaini.idritual sakral nusantaratarian mistis nusantara
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Tanaman hias gantung menghiasi teras rumah sebagai tradisi mempercantik rumah jelang Ramadhan

Tradisi Percantik Rumah Jelang Ramadhan, Ini 4 Tanaman Gantung Paling Digemari

Sidang vonis kasus penganiayaan guru oleh suami anggota DPRD Trenggalek di Pengadilan Negeri Trenggalek

Suami DPRD Arogan Penganiaya Guru di Trenggalek Divonis 6 Bulan Penjara 

Puluhan siswa SD di Tulungagung dirawat akibat keracunan massal menu MBG

‘Tumbal’ MBG Kembali Berjatuhan, 24 Siswa SD di Tulungagung Keracunan Massal

  • Ilustrasi gerai Koperasi Desa Merah Putih yang diusulkan menggunakan gedung sekolah dasar

    Pembangunan Koperasi Merah Putih di Trenggalek Diusulkan di Kawasan Hutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Peluang Atlet Indonesia di Olimpiade Musim Dingin 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ramalan Shio Hari Ini 5 Februari 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In