Bacaini.ID, KEDIRI — Di berbagai penjuru Nusantara, tarian tidak selalu sekadar ekspresi seni atau hiburan. Dalam sejumlah tradisi, gerak tubuh, irama musik, dan pola ritual justru menjadi medium penghubung antara manusia dan dunia tak kasatmata.
Dari desa terpencil hingga komunitas adat yang masih teguh memegang kepercayaan leluhur, tarian-tarian tertentu diyakini memiliki fungsi spiritual: sebagai medium pengobat, memecahkan masalah, perlindungan, hingga menjaga keseimbangan alam.
Tarian mistis ini biasanya tidak bisa dipentaskan sembarangan. Ada syarat khusus yang harus dipenuhi, mulai dari waktu pelaksanaan, sesaji, mantra, hingga peran tokoh adat atau pawang yang memimpin jalannya ritual.
Baca Juga:
- 4 Ritual Minta Hujan Masyarakat Nusantara: Ada Darah dan Tarian
- Ragam Black Magic Nusantara: Ngeri, di Luar Nalar Tapi Nyata
Dalam praktiknya, penari kerap memasuki kondisi trans atau kesurupan, dipercaya sebagai tanda kehadiran makhluk gaib yang dipanggil.
Setiap tarian menyimpan cerita tentang relasi manusia Nusantara dengan alam dan dunia spiritual yang dipercaya telah berlangsung turun-temurun.
Berikut tarian-tarian mistis Nusantara yang masih dikenal hingga kini, dan apa makna ritual di balik setiap geraknya.
Tari Salai Jin, Maluku Utara
Tarian etnik suku asli Ternate. Pada masa lalu, tarian ini menjadi medium berkomunikasi dengan makhluk gaib. Tujuannya, meminta bantuan berbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat, baik secara individu maupun kolektif. Masalah tentang kesehatan atau penyakit, yang paling banyak menjadi alasan digelarnya tarian mistis ini.
Tari Salai Jin dilakukan secara berkelompok, bisa laki-laki semua, perempuan semua, maupun campuran. Yang pasti, jumlah penari harus genap untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama ritual dilakukan.
Dalam ritual tari ini, terdapat kemenyan yang dibakar, seikat daun palem kering yang disebut woka oleh warga lokal, dan gerakan tarian khusus yang pada akhirnya membuat penari mengalami trans, kerasukan.
Para penarinya juga bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah orang pilihan yang dianggap memiliki kekuatan untuk menangkal hal-hal gaib.
Tari Rentak Bulian, Riau
Tarian sakral dari Suku Talang Mamak di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Tarian ini kental dengan nuansa magis karena berakar dari upacara Bulean, yaitu ritual pengobatan tradisional untuk mengusir roh jahat atau menyembuhkan penyakit.
Tarian ini dipimpin oleh seorang dukun besar yang disebut Kumantan. Dalam pertunjukannya, Kumantan sering kali memasuki kondisi trans atau kesurupan untuk berkomunikasi dengan makhluk halus (bunian).
Ciri khas utamanya adalah gerakan kaki yang monoton namun kuat, disebut merentak: menghentak-hentakkan kaki ke tanah secara ritmis.
Dalam ritual tarian ini, digunakan sesaji seperti kemenyan, perapian atau obor, beras kunyit, hingga pelepah pinang (mayang). Saat ini, untuk kebutuhan pertunjukan, obor asli terkadang digantikan dengan lilin.
Penari berjumlah ganjil: 7 atau 9 orang penari dewasa, ditambah satu orang Kumantan, pemimpin ritual tari.
Tari Lummense, Sulawesi Tenggara
Tari Lummense, sering juga ditulis Lumense, merupakan tarian tradisional ritual dari suku Moronene di Pulau Kabaena (Tokotu’a), Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Tarian ini berakar dari ritual kepercayaan terhadap roh halus untuk tujuan tolak bala dan penyembuhan.
Secara historis, tarian ini merupakan bagian dari ritual pe-olia, yaitu upacara penyembahan atau penghormatan kepada roh halus penguasa negeri yang disebut Kowonuano.
Lazimnya tarian ini digunakan untuk mengusir wabah penyakit, bencana alam, atau kemalangan yang menimpa masyarakat, sebagai tolak bala.
Salah satu ciri khas mistisnya adalah aksi menebas batang pohon pisang menggunakan parang tajam di akhir tarian.
Batang pisang ini menjadi simbol bencana atau roh jahat yang harus disingkirkan agar negeri menjadi bersih kembali.
Tari Lummense biasanya ditarikan oleh sekelompok wanita, sering kali berjumlah 12 orang, yang dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok berperan sebagai pengusir, dan kelompok lainnya berperan sebagai yang diusir atau dilindungi.
Tarian-tarian tersebut pada awalnya merupakan tarian mistis dengan melibatkan makhluk gaib untuk kepentingan ritual tertentu. Namun kini seiring perkembangan zaman, tarian-tarian ini menjadi pertunjukan budaya yang seringkali digelar untuk menyambut tamu, perayaan dan lainnya.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





