Pernah kecele makanan yang katanya enak? Setidaknya saya sudah mengalami 2 kali. Yang pertama rawon di daerah Kediri. Ditraktir seorang teman di suatu siang. Katanya kuliner legend. Menyantapnya sudah tidak kehitung. Sejak masih bujangan sampai beranak pinak.
Saya percaya. Apalagi ia sudah ke mana-mana. Walaupun hanya hitungan beberapa bulan, pernah merantau di Bandung, Jakarta, Malang dan Surabaya. Tentu khazanahnya soal kuliner sudah kaya. Warung yang disebut legend itu juga ramai.
Seporsi rawon Kediri yang kami pesan disuguhkan dengan piring keramik motif kembang-kembang. Kuahnya hitam pekat dan panas. Khas rawon-rawon gagrak etanan: Jombang, Mojokerto, Surabaya dan Probolinggo.Berkuah hitam pekat.
Kemudian daging empalnya yang kering dalam posisi separo terbenam kuah. Jumlahnya 2 potong. Tidak terlalu tebal. Ada sambal terasi dan sejumput kecambah mentah yang diletakkan di sendok. Kerupuk udang, telor asin serta tempe goreng membuatnya sempurna.
Nikmat apa lagi yang engkau dustakan?
Sudah menjadi hal yang pakem. Menyantap kuliner berkuah yang pertama-tama dilakukan adalah mencicipi citarasa kuahnya dulu. Menguji seberapa dahsyat tendangan rasanya. Baru yang lainnya. Begitu juga rawon Kediri yang katanya legend itu.
Namun begitu sendokan pertama masuk mulut, langsung mak deg!. Cerita rawon legend terguncang. Kok begini? Batinku. Atau mungkin kuahnya belum diaduk. Bumbunya masih mengendap. Mencoba tetap berpositif thinking. Toh juga ditraktir.
Usai aduk-aduk langsung lanjut sendokan kedua dan ketiga. Ternyata tidak ada yang berubah. Rasa rawon yang promonya legend itu tetap hambar. Ada yang kurang. Entah apa. Untung daging empalnya cukup menolong. Empuk, gurih dan ada manis-manisnya.
Baca Juga: Mau Coba Frugal Living di Blitar, Tapi Diganggu MBG
Kuliner Blitar
Kecele makanan yang katanya enak berikutnya terjadi di Blitar. Ceritanya, suatu hari dapat info warung nasi pecel yang sudah mendekati legenda. Selain citarasanya oke umur usaha kuliner itu juga uzur. Karena penasaran langsung tancap gas ke lokasi.
Warungnya tidak besar, sederhana dan ramai. Kendaraan yang parkir berjajar-jajar. Kebanyakan sepeda motor. Kemudian yang beli juga antri. Banyak yang di dalam. Bisa menghadap langsung menu makanan. Namun tidak sedikit yang memilih di luar.
Singkat cerita, nasi pecel dengan porsi menu standar itu sampai di atas meja. Penampilannya cantik. Nasi dengan sayur disiram bumbu pecel warna kemerah-merahan. Ada tempe dan rempeyek. Peyek kedelai campur udang ebi. Bukan kacang.
Saya bukan orang yang baru kenal pecel. Pernah setahun tinggal di Madiun dan nyaris setiap hari bersantap pecel. Sampai hafal mana pecel yang enak, mana yang standar, dan mana yang biasa-biasa. Apalagi Madiun adalah ibukota pecel.
Dan yang katanya mendekati legend ini ternyata, ahh!. Cita rasanya kategori standar, bahkan kecenderungan biasa. Kalau dikasih skor 1-10 dapatnya 4. Namun ajaibnya warung tidak pernah sepi. Pembelinya selalu antri.
Kok bisa begitu ya?
Misteri keramaian warung itu tak berumur panjang. Terjawab saat membayar. Apa itu? Murah. Fix, bandrol murah adalah kunci. Sepiring nasi pecel dibandrol tidak sampai 10 ribu.
Saya tersenyum. Teringat adagium soal selera makan tiap lidah berbeda. Ada yang tinggi, medium dan rendah. Memilih harga murah ketimbang rasa yang enak adalah selera rendah.
Kendati demikian belum berani menarik kesimpulan: Soal kuliner warga Blitar lebih memilih murah ketimbang rasa yang enak. Pilih belanja harga (murah) ketimbang citarasa.
Karena penasaran, iseng menjajal lapak makanan minuman yang lain. Menyeleksi dari yang paling ramai dan yang tersepi. Mulai nasi goreng, soto, rawon, sate, tahu telur, lalapan. Dari angkringan, warung rumahan, depot sampai resto.
Apa hasilnya? Kalau ramai bisa dipastikan karena murah. Soal citarasa nomor sekian. Kalau enak sebut saja bonus. Mendapatkan yang ramai dan enak di Blitar itu adalah keberuntungan. Memang ada tapi pengecualian.
Sementara lapak makanan dan minuman yang sepi adalah kebalikannya. Rata-rata bercitarasa enak, namun mahal. Lantas apa kesimpulan selera kuliner warga Blitar pada umumnya? Silakan simpulkan sendiri. Ciao!
Baca Juga: Patung Macan Kediri Viral, Untung Tidak Tahun 2024, Bisa Ditunggangi Mas Dhito
Penulis: Garendi
*) Penulis adalah penyuka MBG (Makanan Berkuah Gurih) yang bertempat tinggal di perbatasan Blitar-Kediri





