• Login
Bacaini.id
Wednesday, April 1, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Siapa Charles I? Raja dengan Kepala yang Terpancung di Depan Rakyat

Pemancungan kepala Charles I merupakan sejarah pertama kalinya kepala raja di Eropa dipenggal. Kepala Charles I menggelinding disaksikan rakyat Inggris

ditulis oleh Editor
7 October 2025 13:06
Durasi baca: 3 menit
Raja Charles I yang kepalanya dipancung di depan rakyat Inggris

Raja Charles I menjadi sejarah pertama kalinya kepala raja di Eropa dipancung (foto/ist)

Bacaini.ID, KEDIRI – Pada 27 Maret 1625, Charles I naik tahta Inggris memulai babak baru sejarah monarki yang berujung pada eksekusinya pada 30 Januari 1649.

Raja Charles I menjadi sejarah kepala seorang raja dipancung untuk pertama kalinya di Eropa, di depan mata rakyatnya sendiri.

Pada tahun 2025, saat dunia menyaksikan anniversary 400 tahunnya, kisah pemancungan kepala Charles I bukan sekadar dongeng sejarah, namun cermin relevan untuk krisis monarki modern.

Mulai drama suksesi Kerajaan Inggris hingga gelombang populisme di Amerika dan Eropa. Apalagi Kerajaan Inggris kini jadi sorotan publik dunia dengan sejumlah kontroversi.

Mulai pernikahan Raja Charles III dengan ‘gundik’-nya Camilla Parker, hengkangnya Pangeran Harry dan istrinya Meghan Markle dari kerajaan dengan isu rasial, hingga gebrakan putra mahkota Pangeran William yang merampingkan sistem kerajaan agar lebih efisien. 

Charles I dan Awal Tragedi Monarki

Charles I naik tahta di tengah Inggris yang terpecah. Ia mewarisi kerajaan dengan konflik agama, Katolik vs Protestan, dan ketegangan dengan Parlemen, yang menuntut lebih banyak kuasa.

Dengan keyakinan kuat pada ‘Hak Ilahi Raja’ (Divine Right of Kings), Charles percaya ia ditunjuk Tuhan, sehingga menolak kompromi dengan Parlemen.

Kebijakannya, seperti pajak tanpa persetujuan dan penahanan tanpa pengadilan, memicu kemarahan.

Pada 1642, ketegangan memuncak menjadi Perang Saudara Inggris, mempertemukan Royalis (pendukung raja) melawan Parlementarian (dipimpin Oliver Cromwell).

Puncaknya, pada 1649, Charles dieksekusi di Whitehall, London, peristiwa yang mengguncang Eropa dimasanya.

Ini bukan sekedar pembunuhan seorang raja, namun menjadi simbol perlawanan terhadap otoritas absolut.

Inggris sempat menjadi republik di bawah Cromwell, sebelum monarki dipulihkan pada 1660. Namun, benih demokrasi konstitusional sudah tertanam. 

Charles I menjadi raja Inggris pertama yang dieksekusi publik. Lukisan eksekusinya oleh pelukis seperti Anthony van Dyck menjadi ikon budaya politik. 

‘Hak Ilahi Raja’ menjadi isu panas di Eropa pada masa itu, mirip debat tentang otoritarianisme vs demokrasi di masa kini. 

Krisis Monarki di 2025: Dipertanyakan Relevansinya

Seperti yang sudah diketahui, kini di 2025, monarki masih jadi sorotan.

Di Inggris, isu suksesi Kerajaan Inggris mencuat, dengan spekulasi tentang kesehatan Raja Charles III dan peran Pangeran William.

Monarki modern, meski simbolis, dihadapkan pada pertanyaan: apakah institusi ini masih relevan di era demokrasi dan media sosial?. 

Misalnya, di Inggris, monarki menghadapi kritik mengenai biaya (sekitar £86 juta per tahun untuk Royal Household, menurut laporan 2024) di tengah krisis ekonomi.

Monarki Inggris, meski dicintai, dipertanyakan relevansinya oleh generasi muda, seperti terlihat di polling YouGov 2024 (38% anak muda Inggris ingin monarki dihapus).

Warisan Charles I: Demokrasi Konstitusional

Eksekusi Charles I bukanlah akhir, namun menjadi awal transformasi. Perang Saudara Inggris melahirkan ide-ide kunci demokrasi modern: Magna Carta 2.0
Konflik Charles memaksa monarki Inggris menjadi konstitusional, dengan Parlemen sebagai penyeimbang kuasa. 

Habeas Corpus: Penahanan sewenang-wenang Charles memicu undang-undang perlindungan individu, dasar HAM modern. 

Pemisahan Kekuasaan: Ide bahwa raja bukan Tuhan menginspirasi revolusi di AS dan Prancis.

Charles I tewas karena gagal menyesuaikan diri dengan zaman. Di 2025, monarki modern, khususnya di Inggris, menghadapi tantangan serupa: adaptasi atau punah.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sejarah Charles I, kekuasaan harus dengar rakyat. Eksekusi Charles I mengajarkan bahwa kekuasaan absolut, tanpa kompromi, berujung kehancuran.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: Charles Imonarkiraja charles Iraja eroparaja Inggrissejarah pemancungan kepala raja
Advertisement Banner

Comments 1

  1. Pingback: Kisah Pembawa Tipes Pertama di Dunia yang Jadi Legenda Medis – Bacaini.id

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Gus Fawait: Optimalisasi UHC Jadi Kunci Tekan Angka Kematian Ibu dan Stunting di Jember

Rawon Bu Lisa khas Kota Blitar dengan kuah hitam pekat

Cicipi Kelezatan Rawon Bu Lisa di Kota Blitar, Resep Legendaris Warisan Wak Seneng

Ilustrasi antrean kendaraan di SPBU. Foto:bacaini/HTW

Isu Kenaikan Harga BBM Picu Antrian di SPBU

  • Muscab PKB Blitar 2026 berlangsung tertutup dengan lima kandidat ketua DPC

    Muscab PKB Blitar Penuh Kejutan, Nasa Barcelona Tantang Gus Tamim di Bursa Ketua DPC

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daftar Ucapan Idul Fitri 2026 Paling Lengkap dan Tinggal Copas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cicipi Kelezatan Rawon Bu Lisa di Kota Blitar, Resep Legendaris Warisan Wak Seneng

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In