• Login
Bacaini.id
Friday, May 8, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Beras Bukan Menu Utama Rakyat, Cara Soekarno Atasi Ketahanan Pangan

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
27 May 2024 08:30
Durasi baca: 2 menit
Hari Lahir Pancasila, Soekarno dan Penghapusan Desa Perdikan (Foto ilustrasi Soekarno bersama petani/ist)

Hari Lahir Pancasila, Soekarno dan Penghapusan Desa Perdikan (Foto ilustrasi Soekarno bersama petani/ist)

Bacaini.id, KEDIRI – Harga beras yang melambung masih juga menjadi keluhan masyarakat. Mereka yang pernah tumbuh pada masa pemerintahan sebelumnya, menilai harga beras saat ini tidak lazim.

Seumur-umur, kata mereka, baru kali ini harga beras melambung begitu tinggi. Kenyataannya, kebutuhan beras nasional sejak tahun 2023 telah meningkat hingga 22,64 juta ton.

Peningkatan pada tahun 2023 merupakan rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Terungkap juga sebanyak 1,6 juta ton beras di antarannya didatangkan dari luar negeri (impor).

Yang perlu diketahui, masalah beras di tanah air bukanlah yang pertama. Pada masa Pemerintahan Presiden Soekarno atau Bung Karno, yakni antara tahun 1964-1965, masalah padi dan beras telah menjadi problematika nasional.

Produksi padi yang dihasilkan kaum tani tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan penduduk yang jumlahnya terus bertambah. Pada tahun 1964 jumlah penduduk Indonesia sebanyak 103 juta jiwa.

Pada tahun 1965 populasi meningkat menjadi 105.450.000 jiwa. Untuk mengatasi persoalan ketahanan pangan, pemerintahan Soekarno memutar akal. Maka dibuatlah terobosan revolusioner.

Pemerintah menghidupkan sekaligus mengampanyekan bahan pangan alternatif. Beras bukan lagi satu-satunya makanan pokok rakyat, tapi ada jagung dan umbi-umbian serta ikan dan daging sebagai pilihan.

“Pemerintah telah mengambil suatu keputusan yang radikal revolusioner, yaitu merubah dari menu rakyat yang beras melulu, menjadi beras, jagung dan umbi-umbian,” demikian dikutip dari buku Masakan Indonesia Mustika Rasa.

Buku Mustika Rasa merupakan kumpulan resep masakan Indonesia warisan Soekarno. Upaya yang ditempuh pemerintah dalam membangun ketahanan pangan tidak berhenti disitu.

Lembaga Tekhnologi Makanan juga dipacu untuk menemukan sekaligus membuat makanan baru dengan bahan-bahan yang banyak dijumpai di Indonesia.

Soekarno berkaca pada negara-negara lain yang mampu mengolah bonggol terate dan rumput laut menjadi makanan rakyat. Sementara bahan pertanian di Indonesia yang bisa diolah menjadi makanan sehat, jumlahnya melimpah.

Pada bulan Mei 1964 pemerintah menggelar Seminar Gizi. Melalui bahan makanan yang melimpah ruah, kebutuhan gizi rakyat setiap tahunnya ditakar. Hasilnya dibuatlah pedoman kebutuhan karbohidrat setiap penduduk per tahun.

Dalam setahun setiap penduduk dihitung membutuhkan 82,1 kilogram beras. Sebagai ganti adalah 45,6 kilogram jagung per tahun yang dinilai setara dengan beras atau umbi-umbian sebanyak 18,3 kilogram. “Produksi bahan makanan harus disesuaikan dengan pedoman menu rakyat”.

Seiring dengan semua itu, pada tahun 1965 Soekarno menargetkan produksi padi bisa mencapai 20,50 juta ton per tahun. Kemudian jagung pipilan sebanyak 6,40 juta ton per tahun dan umbi-umbian basah 15 juta ton per tahun.

Golongan umbi-umbian yang dimaksud di antaranya ubi kayu, ubi jalar, talas, uwi, suweg, garut, ganyong, kentang, dan kentang hitam.

Dalam mengatasi persoalan ketahanan pangan Presiden Soekarno berusaha mewujudkan ekonomi berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari), khususnya di bidang pangan.

Penulis: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: beras mahalbung karnoketahanan panganmustika rasasoekarno
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Warga berebut kepala kerbau saat tradisi Nyadran Dam Bagong di Trenggalek

Tradisi Nyadran Dam Bagong Trenggalek, Warga Berebut Kepala Kerbau

Ilustrasi calon jemaah haji Indonesia mengenakan pakaian ihram dan seragam haji saat bersiap berangkat menuju Tanah Suci di bandara

60 Calon Jemaah Haji Ilegal Tertahan di Bandara, Gus Irfan: Tidak Ada Haji Tanpa Antre

Audiensi ALMAS PUMA dengan Pemkab Trenggalek terkait Camat Pule

Camat Pule Trenggalek Dipaksa WFH, Pemkab Tunggu Rekomendasi Mutasi dari BKN

  • Maia Estianty memakai perhiasan red ruby di pernikahan El Rumi

    Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In