• Login
Bacaini.id
Saturday, May 9, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Tren Quiet Quitting, Sikap Perlawanan Baru di Dunia Kerja

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
9 August 2025 14:07
Durasi baca: 3 menit
quiet quitting jadi tren baru di dunia kerja

tren quite qutting sebagai sikap perlawanan baru di dunia kerja (foto/AI)

Bacaini.ID, KEDIRI – Istilah ‘quiet quitting’ menjadi perbincangan hangat di media sosial sekaligus tren baru di dunia kerja.

Terdengar seperti resign diam-diam, namun sebenarnya bukan berarti karyawan benar-benar berhenti kerja.

Quiet quitting adalah sikap bekerja secukupnya sesuai deskripsi pekerjaan, tanpa lembur berlebihan atau mengambil tanggung jawab ekstra yang tak dibayar.

Kenapa Quiet Quitting Terjadi?

Alasan dibalik sikap ini pada dasarnya terjadi karena dua hal mendasar yang dirasakan pekerja, yaitu:

Quiet Quitting untuk Self-Care

Jenis ini biasanya dilakukan demi menjaga kesehatan mental, keseimbangan hidup, dan menghindari burnout.

Yang biasa dilakukan dalam quiet quitting di antaranya:

• Menolak lembur yang tidak dibayar

• Mengambil cuti sesuai hak

• Tidak membawa pekerjaan ke luar jam kerja
Bahkan dalam beberapa kasus, pekerja atau karyawan menolak untuk membalas chat atau telepon dari atasannya di luar jam kerja.

Motivasi utamanya bukan malas, melainkan menyadari bahwa pekerjaan bukan segalanya dan kesehatan mental perlu dijaga.

Banyak pekerja, terutama generasi milenial dan Gen Z, mulai memprioritaskan work-life balance demi kesehatan mental.

Quiet Quitting karena Fairness Protest

Tipe ini muncul saat karyawan merasa beban kerja tidak adil.

Misalnya, seseorang yang selalu diberi tugas lebih banyak daripada rekan-rekan yang kurang aktif.

Atau gaji yang terlalu kecil untuk tugas yang membutuhkan effort lebih.

Akhirnya, ia memilih mengurangi usaha sebagai bentuk protes diam-diam.

Berikut ciri-cirinya:

• Menyamakan ritme kerja dengan mayoritas rekan (meskipun bisa bekerja lebih cepat dan baik)

• Menghindari sukarela mengambil tugas tambahan

• Kadang disertai rasa frustrasi atau sinis terhadap budaya kerja

Dampak Quiet Quitting

Bagi pekerja, quiet quitting bisa membantu mengurangi stres, memberi waktu istirahat, dan menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Bagi perusahaan dapat menjaga lingkungan kerja yang positif hingga perusahaan dapat berjalan lebih efektif.

Namun, quiet quitting juga bisa berdampak negatif. Jika berlebihan, bisa menurunkan motivasi, rasa keterlibatan, dan hubungan dengan antar pekerja.

Selain itu juga dapat menurunkan produktivitas tim dan perkembangan perusahaan jika banyak yang mengikuti tren fairness protest.

Bagaimana Perusahaan Menyikapinya?

Beberapa perusahaan mulai meninjau ulang beban kerja dan memberikan fleksibilitas.

Namun, ada juga yang melihat quiet quitting sebagai tanda kurangnya komitmen.

Perusahaan perlu membedakan motif sikap quiet quitting karyawan agar bisa merespons dengan strategi yang tepat, baik lewat kebijakan kesejahteraan maupun perbaikan distribusi kerja.

Lazimnya, perusahaan melakukan komunikasi terbuka dengan karyawan, agar kesejahteraan mental dan keadilan di tempat kerja tetap terjaga tanpa mengorbankan produktivitas.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: dunia-kerjafenomena quit quittingperlawananquite-quittingtren quiet quitting
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Mohammad Trijanto saat memberikan pernyataan terkait pengunduran diri dari pencalonan Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030

Mohammad Trijanto Mundur dari Bursa Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030, Bebaskan Dukungan 14 Cabor

Ilustrasi penggemar nu metal mendengarkan musik keras untuk kesehatan mental dan katarsis emosi

Nu Metal dan Kesehatan Mental: Musik Katarsis Pereda Stres

Ilustrasi badut penjual balon. Foto: bacaini by AI/Copilot

Satuan, Kisah Nyata “Joker” dari Mojokerto

  • Maia Estianty memakai perhiasan red ruby di pernikahan El Rumi

    Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Murdaya Poo Alumni GMNI Asal Blitar, Marhaeinis Konglomerat Rp20 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In