Poin Penting:
- Tradisi Sinongkelan Trenggalek jadi warisan budaya sarat sejarah
- Berkaitan dengan peristiwa besar Geger Pacinan
- Wujud syukur dan pelestarian budaya lokal
Bacaini.ID, TRENGGALEK – Upacara adat Sinongkelan memeriahkan tradisi bersih desa di Desa Prambon, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Tradisi ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menyimpan jejak sejarah pelarian Susuhunan Paku Buwono II (PB II) pasca peristiwa Bedah Kartasura atau Geger Pecinan.
Sinongkelan merupakan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang ditetapkan pemerintah sejak 2019. Dalam folklore yang berkembang, Desa Prambon Trenggalek disebut sebagai salah satu tempat yang disinggahi PB II dalam pelariannya ke Ponorogo saat peristiwaGeger Pacinan.
Baca Juga:
Ritual Sinongkelan yang digelar bersama tradisi bersih desa ini berlangsung rutin setiap bulan Selo pada penanggalan Jawa, dan jadi agenda tahunan yang sarat nilai sejarah.
Seksi Bidang Kebudayaan Karang Taruna Prambon, Arfirsta Brian Ramadhani, mengatakan Sinongkelan bentuk penghormatan kepada Kanjeng Sinokel atau Ki Ageng Suryo Lelono, tokoh lokal yang babat wilayah Prambon.
“Intinya untuk mengenang Kanjeng Sinokel sekaligus wujud syukur masyarakat atas rezeki dan hasil panen yang melimpah,” tutur Brian kepada wartawan Sabtu (2/5/2026).
Rangkaian kegiatan Sinongkelan dimeriahkan oleh pertunjukan drama tradisional bertajuk Grebeg Sinokel. Lakon yang ditampilkan khusus mengangkat kisah perjalanan dan perjuangan Kanjeng Sinokel.
Baca Juga:
Menurut Brian istilah Sinongkelan berasal dari kata “disongkel” atau “dicongkel,” yakni menggambarkan raja Jawa atau yang dimaksud PB II melarikan diri dari keraton Surakarta.
Seperti diketahui PB II yang merupakan putra Amangkurat IV meninggalkan keraton setelah terjadi Geger Pacinan, pemberontakan orang-orang Tionghoa-Jawa yang dipimpin oleh Mas Garendi.
PB II yang dibantu VOC kalah, dan kabur ke Ponorogo. Tahtanya diduduki oleh Mas Garendi yang bergelar Amangkurat V dan juga dikenal dengan julukan Sunan Kuning.
Pelaksana Tugas Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Winardi Wahyu Kussubagyo, mengapresiasi pelaksanaan tradisi Sinongkelan.
Ia menilai Sinongkelan menjadi bukti kuat bahwa masyarakat masih memegang teguh nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Pemerintah daerah mendorong agar tradisi ini terus dilestarikan sebagai identitas budaya sekaligus potensi penguatan karakter masyarakat agraris yang guyub rukun.
“Ini menunjukkan masyarakat tetap menjaga jati diri sekaligus sebagai wujud syukur atas kesejahteraan, kesehatan, dan kerukunan,” katanya.
Penulis: Aby Kurniawan
Editor: Solichan Arif





