Bacaini.ID, KEDIRI — Tradisi baru Lebaran mulai terlihat di tengah masyarakat, yakni silaturahmi sambil sibuk scroll HP. Anggota keluarga duduk berdekatan, tetapi masing-masing sibuk dengan ponselnya.
Baca Juga:
Di momen yang seharusnya hangat dan penuh kebersamaan, kini banyak orang justru lebih fokus pada layar ponsel dibanding interaksi langsung dengan keluarga. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan mencerminkan perubahan cara bersosialisasi di era digital.
Berikut alasan psikologis seseorang tetap merasa perlu membuka ponsel di tengah momen kebersamaan yang seharusnya intim.
Koneksi Digital dan Jarak Emosional
Secara sederhana, ponsel memberikan akses instan ke dunia luar: media sosial, pesan masuk, hingga hiburan tanpa batas. Dalam situasi sosial seperti silaturahmi, ponsel sering kali menjadi ‘jalan keluar cepat’ dari rasa canggung atau kebosanan.
Di media sosial, video konten mengenai seseorang meminta pasangannya untuk mengajaknya keluar dari ‘kerumunan’ sanak saudara melalui pesan teks, banyak ditemukan.
Baca Juga:
- Nastar dan Kastengel, Warisan Kolonial yang Jadi Ikon Kue Lebaran di Indonesia
- Perempuan-Perempuan yang Bertahan di Tengah Keterbatasan
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai bentuk coping mechanism ringan. Seseorang menggunakan distraksi untuk menghindari ketidaknyamanan sosial. Misalnya, ketika percakapan terasa tidak nyambung, muncul pertanyaan sensitif, atau suasana menjadi terlalu formal.
Alih-alih terlibat, membuka ponsel menjadi pilihan yang lebih mudah.
Tekanan Sosial yang Tidak Terlihat
Silaturahmi keluarga, terutama saat Lebaran, tidak selalu berjalan santai bagi semua orang. Ada ekspektasi sosial yang sering kali tidak diucapkan secara langsung: tentang pekerjaan, status hubungan, hingga pencapaian hidup.
Pertanyaan seperti ‘kerja di mana sekarang?’ atau ‘kapan nikah?’ bisa terasa ringan bagi sebagian orang, namun cukup menekan bagi yang lain. Dalam situasi seperti ini, ponsel berfungsi sebagai ‘pelindung sosial’.
Dengan menatap layar, seseorang secara tidak langsung menghindari interaksi yang berpotensi membuatnya tidak nyaman. Scroll HP menjadi pelarian dari rasa tidak nyaman pada percakapan.
Efek Kebiasaan: Scroll Tanpa Sadar
Di luar faktor psikologis, ada juga aspek kebiasaan. Data dari berbagai laporan digital, seperti We Are Social dan DataReportal, menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam per hari di media sosial.
Durasi ini menciptakan pola perilaku otomatis. Tanpa disadari, tangan akan langsung mengambil ponsel ketika ada jeda beberapa detik saja.
Akibatnya, bahkan dalam situasi sosial, aktivitas scroll menjadi refleks, bukan lagi keputusan yang dipikirkan. Bahkan pada sebagai orang, mereka bisa tetap berkomunikasi dengan lawan bicara namun tangan dan mata tertuju pada ponselnya.
Terkesan tidak sopan, namun perilaku ini menjadi kebiasaan yang dilakukan tanpa mereka sadari.
Takut Tertinggal (FOMO) di Tengah Momen Nyata
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) juga memainkan peran penting. Saat Lebaran, media sosial dipenuhi dengan berbagai unggahan: momen keluarga, outfit hari raya, hingga perjalanan mudik.
Keinginan untuk tetap ‘terhubung’ dengan arus informasi ini membuat seseorang merasa perlu terus membuka ponsel, meski sedang berada di tengah interaksi langsung.
Ironisnya, upaya untuk tidak ketinggalan momen digital justru membuat seseorang melewatkan momen nyata di sekitarnya. Alih-alih sibuk bersilaturahmi dengan keluarga, mereka sibuk berfoto selfie, mengunggah status atau story hampir setiap menit dan membalas komentar atau ngobrol di ruang digital.
Perubahan Cara Bersosialisasi
Fenomena ini juga mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam cara manusia bersosialisasi. Generasi yang tumbuh bersama teknologi digital cenderung memiliki dua lapisan interaksi: offline dan online, yang berjalan bersamaan.
Dalam banyak kasus, kehadiran fisik tidak selalu berarti keterlibatan penuh secara emosional. Seseorang bisa hadir di ruang yang sama, tetapi secara mental berada di tempat lain.
Hal ini bukan semata-mata bentuk ketidakpedulian, melainkan adaptasi terhadap lingkungan digital yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari. Ruang digital dirasa lebih membuat nyaman dan membuat seseorang merasa lebih bebas berekspresi.
Dampaknya bagi Relasi Keluarga
Meski terlihat sepele, kebiasaan ini dapat berdampak pada kualitas hubungan dalam jangka panjang. Kurangnya keterlibatan dalam percakapan bisa membuat interaksi terasa dangkal dan kurang bermakna.
Bagi generasi yang lebih tua, kebiasaan bermain ponsel saat berkumpul juga bisa dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan. Perbedaan persepsi ini berpotensi menimbulkan jarak antar generasi.
Namun di sisi lain, penting juga dipahami bahwa setiap individu memiliki batas kenyamanan sosial yang berbeda. Menghindari penggunaan ponsel secara total saat silaturahmi mungkin terdengar ideal, namun tidak selalu realistis. Yang lebih relevan adalah bagaimana mengelola penggunaannya secara bijak.
Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengendalikan keinginan scroll ponsel saat bersilaturahmi:
• Menyadari kapan ponsel digunakan sebagai pelarian
• Memberi jeda waktu tanpa layar saat momen tertentu, misalnya saat makan bersama
• Lebih aktif memulai percakapan ringan untuk mengurangi kecanggungan
• Jika perlu, aktifkan mode pesawat ponsel untuk beberapa saat ketika silaturahmi
Fenomena scroll saat silaturahmi menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah cara berkomunikasi, namun juga cara seseorang hadir dalam sebuah momen.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





