Poin Penting:
- Fenomena orang tua FOMO membuat anak dipaksa mengikuti aktivitas ekstrem demi konten, berisiko pada kesehatan dan keselamatan
- Pakar parenting memperingatkan dampak serius, mulai dari hipotermia hingga trauma psikologis dan hilangnya kepercayaan anak
- Solusinya adalah pola asuh rasional: memahami kemampuan anak, menghindari tekanan media sosial, dan memprioritaskan keselamatan
Bacaini.ID, KEDIRI – Fenomena orang tua “FOMO” atau takut ketinggalan tren kini menjadi sorotan. Demi konten media sosial, tak sedikit orang tua memaksakan anak mengikuti aktivitas ekstrem—mulai dari pendakian gunung hingga eksplorasi alam yang belum tentu sesuai usia. Alih-alih edukatif, kondisi ini justru berisiko pada kesehatan fisik dan mental anak.
Baca Juga:
Yang terjadi belum lama ini dan viral di media sosial, balita usai 1,5 tahun mengalami gejala hipotermia setelah diajak mendaki gunung orang tuanya. Juga viral seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahun yang tantrum di track pendakian. Si bocah menangis karena tidak tahan diajak mendaki dan menolak melanjutkan pendakian karena sudah kelelahan.
Orang tua ‘FOMO’ dituding sebagai orang tua yang haus validasi, memaksakan ego demi konten media sosial tanpa mempersiapkan fisik dan mental anak. Menurut pakar parenting dan psikolog, fenomena orang tua yang memaksakan aktivitas ekstrem pada anak demi konten, berisiko merusak kepercayaan (trust) anak terhadap orang tua. Bahkan dapat menyebabkan trauma fisik maupun mental.
Cara Menghindari Pola Asuh FOMO
Era media sosial membuat orang seringkali meniru apa yang sedang trending, atau bahkan menciptakan tren tanpa mengetahui batasan. Semua demi konten atau views.
Pola asuh pun kini mengikuti standar media sosial agar tidak dianggap ketinggalan (FOMO) dan merasa ‘sama’ dengan kebanyakan orang. Padahal, apa yang terlihat di media sosial, konten yang dibagikan orang lain, adalah penggalan kisah, bukan realita secara keseluruhan.
Agar tak terjebak dengan pola asuh FOMO, berikut cara yang bisa dilakukan orang tua:
Pahami Kapasitas dan Kesiapan Anak
Pakar kesehatan anak menekankan bahwa setiap anak memiliki kemampuan fisik yang berbeda dan tidak bisa disamakan dengan tren media sosial. Aktivitas luar ruang seperti pendakian gunung membutuhkan kesiapan fisik, logistik, dan perencanaan matang, yang tidak selalu cocok untuk anak usia dini.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara tegas mengingatkan bahwa balita memiliki risiko tinggi mengalami hipotermia karena kemampuan tubuh mereka menjaga suhu belum optimal.
Begitupun dengan kekuatan fisik setiap anak yang berbeda-beda. Mengajak anak beraktivitas luar ruang yang ekstrem, seperti naik gunung, dibutuhkan kesiapan fisik yang telah dilatih sejak dini secara bertahap.
Sebelum mengajak anak mendaki gunung, terlebih dahulu membiasakan anak untuk berolah raga seperti jalan kaki dan kegiatan outdoor lainnya yang membentuk fisik anak.
Bedakan Edukasi Alam dengan Validasi Sosial
Fenomena orang tua yang mengajak anak melakukan aktivitas ekstrem seringkali dipicu oleh keinginan mengikuti tren media sosial. Dalam banyak kasus, aktivitas tersebut dilakukan untuk menghasilkan konten visual yang dianggap menarik.
Padahal, para ahli parenting mengingatkan bahwa media sosial hanya menampilkan potongan kecil dari sebuah pengalaman. Tidak semua risiko atau kesulitan ditampilkan dalam konten yang diunggah.
Dalam pengasuhan, keputusan orang tua seharusnya didasarkan pada kebutuhan dan kemampuan anak, bukan tekanan sosial atau keinginan mendapatkan validasi publik.
Ketika anak dipaksa mengikuti aktivitas yang melebihi kemampuannya, dampak yang muncul tidak hanya fisik namun juga psikologis. Anak dapat kehilangan rasa percaya terhadap orang tua jika merasa dipaksa atau tidak didengarkan saat merasa lelah atau takut.
Pentingnya Perencanaan Aktivitas Outdoor
Pendakian gunung bukan sekadar aktivitas rekreasi biasa. Aktivitas ini membutuhkan persiapan matang, bahkan untuk orang dewasa.
Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan sebelum melakukan aktivitas luar ruang bersama anak antara lain: memeriksa kondisi cuaca, menyiapkan perlengkapan yang tepat, memperhatikan asupan makanan dan cairan, pilih lokasi yang aman.
Jika ingin mengenalkan anak pada alam, pilih lokasi yang mudah diakses dan memiliki jalur evakuasi yang jelas. Area wisata alam dengan jalur pendek dan fasilitas lengkap lebih aman dibanding jalur pendakian gunung tinggi.
Bangun Pola Asuh Rasional di Era Media Sosial
Fenomena FOMO dalam pengasuhan muncul karena orang tua merasa perlu mengikuti tren yang sedang populer. Padahal, setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda.
Dalam era digital, tekanan sosial tidak lagi berasal dari lingkungan sekitar saja, tetapi juga dari media sosial yang menampilkan berbagai gaya hidup dan aktivitas keluarga lain.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa pola asuh yang baik bukan tentang mengikuti tren, melainkan memahami kebutuhan anak secara individual.
Keputusan untuk mengajak anak melakukan aktivitas tertentu seharusnya didasarkan pada pertimbangan rasional, seperti usia, kondisi kesehatan, dan kemampuan anak, bukan sekadar keinginan mengikuti tren.
Jika tujuan utama adalah mengenalkan anak pada alam, masih banyak alternatif kegiatan yang lebih aman, seperti berjalan santai di taman hutan kota, wisata alam dengan jalur pendek, atau kegiatan edukasi luar ruang yang terstruktur.
Tanggung jawab utama orang tua adalah memastikan anak tumbuh dalam kondisi aman, sehat, dan percaya pada lingkungan keluarga.
Fenomena ini menjadi pengingat penting bahwa tidak semua yang viral layak ditiru. Dalam pengasuhan, keselamatan dan kebahagiaan anak harus selalu berada di atas segalanya—bukan sekadar validasi di media sosial.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





